Jumat, 21 Mei 2010

Detik News - Ratusan mahasiswa dari berbagai organisasi di Yogyakarta menggelar aksi demo memperingati Hari Kebangkitan Nasional (harkitnas) ke 102. Salah satu peserta aksi melakukan aksi jalan mundur di kawasan Malioboro sebagai ungkapan rasa ketidakpuasan terhadap pemerintah.

Aksi demo dipusatkan di kawasan, Bundaran kampus Universitas Gadjah Mada (UGM), Malioboro dan Gedung DPRD DIY, Kamis (21/5/2010). Aksi itu di antaranya digelar oleh anggota Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UGM, Front Perjuangan Pemuda Indonesia (FPPI) Yogyakarta dan Garakan Mahasiswa Peduli Negeri (Gempur). Massa Gempur merupakan aksi gabungan aktivis PMKRI Yogya, GMNI Yogya, HMI Yogyakarta, HMI Bulaksumur dan PMII Sleman.

Aksi jalan mundur dilakukan oleh massa dari Liga Mahasiswa Nasional Demokrat (LMND). Aksi ini dimulai dari ujung Jalan Malioboro di depat pintu KA Stasiun Tugu menuju halaman DPRD DIY. Selama aksi berlangsung ratusan aparat Poltabes Yogyakarta bersiaga dan berjaga-jaga di beberapa titik di kawasan Malioboro.

Aksi unik massa LMND ini sempat menarik perhatian warga yang melintas di Malioboro. Sambil berjalan mundur, massa membentangkan berbagai poster tuntutan dan selebaran. Salah seorang peserta dengan sekujur tubuh dicat putih membawa
alat penggoreng diisi pasir itu melakukan aksi teatrikal. Aksi teatrikal itu menggambarkan kesengsaraan dan penderitaan yang dideritanya.

Merekapun meneriakkan yel-yel 'SBY-Boediono baik', langsung dijawab 'itu tidak benar'. Selanjutnya mereka mengatakan 'SBY-Boediono' jahat, mereka langsung menyambut 'itu baru benar'. Aksi jalan mundur itu sebagai ungkapan rasa tidak puas terhadap pemerintahan SBY yang selalu tunduk pada kekuatan asing.

Dalam aksi secara bergantian itu, massa menuntut agar kasus Bank Century diusut tuntas termasuk meminta KPK segera memeriksa kembali mantan Menkeu Sri Mulyani sebelum pergi ke luar negeri. Selain itu massa juga menuntut penghapusan utang luar negeri, perbaikan nasib buruh, dan jaminan kesehatan sosial serta pendidikan bagi rakyat miskin.

Mereka juga menolak rencana kenaikan tarif dasar listrik (TDL) yang akan dilakukan PLN mulai 1 Juli 2010. Sebab kenaikan TDl akan berakibat buruk pada sektor lainnya seperti industri, inflasi, kenaikan harga kebutuhan pokok dan ancaman PHK bagi buruh. Selama ini PLN selalu mengatakan rugi dengan alasan pasokan selalu kurang. Sedangkan pemerintah tidak mampu mengelola sumberdaya
alam yang ada.

"Bila TDL naik bukan kebijakan yang baik, rakyat yang akan jadi korban. Semua akan terkena imbasnya. Ini hari kita tolak," kata Irman salah satu peserta aksi dari FPPI dalam orasinya.

(djo/djo)


EmoticonEmoticon