Sabtu, 22 Mei 2010

BANTUL, Kompas.com — Petani bawang merah yang lahannya terendam air berharap bantuan yang akan dikucurkan pemerintah berupa benih. Pasalnya, rendaman telah membuat puluhan hektar gagal panen sehingga pasokan benih akan sulit. Kalaupun ada, harganya pasti melambung.

Susi Winarti, salah seorang petani bawang merah di Parangtritis, Jumat (21/5/2010), mengatakan, bantuan benih sangat penting karena bawang merahnya gagal panen. "Umurnya baru 25 hari sehingga tidak mungkin saya panen. Untuk sementara, lahan saya diamkan dulu sampai Juli, baru kemudian saya tanami bawang merah," katanya.

Menurutnya, petani tidak bisa langsung menanam bawang merah kembali karena kondisi tanahnya belum normal. Untuk memperoleh hasil maksimal, petani harus mengolah tanah kembali baru kemudian ditanami kembali.

"Semua petani di sini polanya seperti itu. Jadi kebutuhan benih untuk bulan Juli nanti akan sangat tinggi. Padahal, pasokannya terbatas akibat gagal panen, makanya kami sangat mengharapkan bantuan benih," paparnya.

Kuswandi, petani lainnya, mengatakan, meski bisa memanen, hasilnya tidak maksimal. Biasanya ia memperoleh 1,5 ton, tetapi panen kali ini hanya 1 ton. Penyebabnya karena pertumbuhan umbi belum maksimal. Harga jual yang berkisar Rp 2.500-Rp 6.000 per kilogram membuatnya memilih menyimpan. Ia ingin menjualnya dalam bentuk benih karena harga jualnya mencapai Rp 12.000 per kg.


EmoticonEmoticon