Kamis, 03 Juni 2010

Yogyakarta - Sejumlah seniman tradisional tobong (grup) Ketoprak Kelana Budaya menggelar aksi tata pepe dan pamit mati karena bangkrut. Aksi yang merupakan simbol protes itu dilakukan di Alun Alun Kidul kawasan Kraton Yogyakarta.

Seperti namanya, tobong ketoprak asal Kediri, Jawa Timur itu sudah puluhan tahun berkelana mengelilingi Pulau Jawa untuk mementaskan drama tradisional dengan berbagai cerita atau lakon. Mulai Babad Tanah Jawa, Mataraman, Majapahitan, Pesisiran, lakon kepahlawaan hingga lakon Persia.

"Dua hari pementasan di Alun Alun Kidul ini boleh dikatakan cerita lakon terakhir yang akan kami pentaskan di Yogyakarta," kata Risang Yuwono di sela-sela aksi Tapa Pepe di Alun Alun Kidul, Yogyakarta, Selasa (1/6/2010)

Lakon yang ditampilkan adalah 'Ranggalawe Gugur'. Lakon ini mengambil cerita tokoh kepahlawan kerajaan Majapahit zaman Raja Wijaya, yakni Adipati Ranggalawe. Sedang saat tapa pepe berlangsung diisi dengan macapatan atau tembang Jawa.

"Iringan gendhing dari gamelan adalah Megatruh yang bisa berarti mati, atau koncatan nyawa. Megatruh dan gendhing tlutur menandakan kita sedang sedih atau berkabung. Seperti judul yang terpasang di spanduk kami, ini adalah titik nadir kami," ungkap Risang.

Dia mengatakan yang tersisa dari tobong hanyalah layar yang sudah usang dan robek serta gamelan seadanya serta kostum pentas. Properti lain seperti panggung kayu, perangkat pengeras suara, bilik bambu atau triplek juga sudah tua dan hampir rusak.

Menurut dia, aksi tapa pepe ini sengaja tidak dilakukan di Alun Alun Utara seperti saat kawula Mataram melakukan aksi pepe pada zaman dulu ketika Sultan Hamengku Buwono berada di Siti Hinggil. Namun misinya tetap sama, yakni agar ada perhatian dari Sri Sultan Hamengku Buwono X sebagai raja Jawa.

Selama lebih kurang 6 tahun, tobong ketoprak Kelana Bakti Budaya pentas berkeliling di desa-desa di wilayah Bantul, Kulonprogo, Sleman dan Gunungkidul. Namun beberapa bulan terakhir ini hanya pentas di Lapangan Jodhog Pandak dan Bangunjiwo Kasihan Bantul. Pentas juga tidak dilakukan setiap hari tapi 2 atau 3 hari sekali.

"Kami bersama anggota grup yang berjumlah 20-an orang mencoba bertahan hidup di Yogya seadanya dengan kondisi tobong yang sudah berumur dan memprihatinkan. Tapi Yogya adalah sandaran hidup terakhir," katanya.

Dia mengatakan biaya operasional terutama untuk perawatan peralatan seperti alat musik gamelan, kustom sangatlah tinggi. Bila ada kerusakan diperbaiki seadanya dan semampunya karena keterbatasan dana. Uang pendapat tiket sudah habis dibagi semua kru terutama untuk biaya makan. Selebihnya anggota mencari penghidupan lain sebagai tambahan.

"Belum lagi kalau harus pindah daerah atau kota lain, biaya operasionalnya tinggi tak kurang Rp 20 juta habis. Uang sebesar itu darimana. Uang tiket saja hanya cukup untuk menyambung hidup," keluh Risang.

(djo/djo)
internet marketing


EmoticonEmoticon