Jumat, 11 Juni 2010

YOGYAKARTA(SI) – Munculnya berbagai keluhan masyarakat tentang tarif becak yang terkadang di luar kewajaran membuat Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Yogyakarta berencana memasang argo meter pada becak-becak yang beroperasi.

Kepala Bidang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Dishub Kota Yogyakarta Purnomo Rahardjo kemarin mengatakan,hingga saat ini rencana pemasangan argo meter pada becak masih dibahas. Sebab, rencana penyeragaman tarif angkutan tradisional bepenggerak manusia ini tidak mudah.Tidak bisa hanya dengan satu variabel saja untuk menentukan tarif becak.

”Banyak variabel yang harus dipastikan terlebih dahulu selain perhitungan berdasarkan variabel jarak tempuh.Variabel lain seperti kondisi cuaca dan berat beban yang diangkut tentu memengaruhi tarif becak,”ujarnya kemarin. Menurut Purnomo, karena banyak variabel yang memengaruhi itulah maka pemasangan argo meter untuk becak belum bisa dilakukan dalam waktu dekat.

Pemasangannya pun akan dilakukan dengan alasan utama agar ada penyamarataan tarif becak di Kota Yogyakarta. Selain itu,secara teknis,sampai saat ini belum pernah ada pengalaman tentang pemasangan argo meter pada becak oleh daerah bahkan negara manapun. ”Untuk teknisnya pun belum pernah tahu harus bagaimana.Tapi dengan adanya wacana ini, kami menerima masukan-masukan dari masyarakat dan dari paguyuban becak di Kota Yogyakarta sendiri.

Menurut mereka, usulan tentang pemasangan argo meter pada becak merupakan usulan yang cukup baik,”ungkapnya. Dia menuturkan,keinginan awal bisa seperti sepeda yang ada pemasangan speedometer,begitu pula denganbecak. Danuntukmengarahpada rencana tersebut,jumlah becak secara keseluruhan tidak ada pengurangan.

Namun,yang ada hanyalah pembatasan jumlah becak, yakni sebanyak 7.500 unit yang beroperasi di dalam wilayah Kota Yogyakarta. Selebihnya akan diarahkan untuk beroperasi di tempat-tempat strategis di pinggir Kota Yogyakarta. Saat ini Dishub masih fokus pada kepemilikan Surat Izin Operasional Kendaraan Tidak Bermotor (SIOKTB). ”Karena sampai sekarang becak yang telah lulus verifikasi baru sebanyak 6.500 unit becak.”

“Setelah masalah ini selesai baru kami akan menginjak tahap baru termasuk rencana pemasangan argo meter pada becak,” tutur Purnomo. Sementara itu,Ketua Asosiasi Paguyuban Becak Yogyakarta (Aspabeda) Totok Yudianto menuturkan, usulan pemasangan argo akan berpengaruh baik kepada nasib teman-temannya selaku pengemudi becak.

”Karena sebenarnya hal tersebut juga berhubungan dengan pelayanan kepada wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta. Dan agar tidak ada lagi teman-teman yang seenaknya menaikan tarif becak maka memang sebaiknya rencana pemasangan argo meter dilakukan,” katanya. Sebenarnya dari Aspabeda sudah pernah mengajukan kepada Dishub harus ada tarif minimum resmi bagi becak,misalnya Rp5.000 per km.

Dengan adanya tarif minimum tersebut maka harga tersebut dapat menjadi patokan bagi pengemudi becakuntukmenentukanhargajasa mereka. ”Selain bisa mengubah perilaku teman-teman pengemudi becak,masyarakat dan wisatawan pun dapat mengetahui perkiraan biaya yang akan mereka keluarkan. Memang saya akui selama ini tidak ada tarif becak yang disepakati bersama,”ujarnya.

Mengenai beban angkutan yang memang juga bisa mempengaruhi, dia menjelaskan bahwa hal tersebut tidak menjadi persoalan karena tarif minimum yang telah ditetapkan bisa dibuat fleksibel berdasarkan kesepakatan pengemudi becak dengan calon penumpang. ”Untuk pelaksanaannya, kami siap kapanpun rencana tersebut dilakukan.

Namun saya berharap jika anggaran APBD untuk rencana tersebut sudah ada, maka bisa segera direalisasikan secepatnya meski belum untuk semuanya,”tuturnya. Menurut Totok, rencana tersebut bisa diawali dengan pembuatan becak percontohan dulu sekitar 500 sampai 1.000 unit becak.Selanjutnya dilihat apakah dapat memberikan dampak positif terhadap pariwisata di Yogyakarta atau tidak. Jika memang bagus maka program argo meter ini dapat dilanjutkan. (ratih keswara)


EmoticonEmoticon