Selasa, 01 Juni 2010

Dahsyat, 'gempa bumi' berkekuatan 6 Skala Richter kembali mengguncang wilayah Sleman, Sabtu (29/5) kemarin. Beberapa bangunan rumah dan sekolah terlihat roboh, tak terkecuali SMA Negeri 1 Pakem.

Siswa yang saat itu mengikuti pelajaran kedua, dikejutkan guncangan hebat yang berlangsung beberapa detik. Tak ayal, semua siswa berhamburan keluar dari kelasnya. Mereka berhamburan menyelamatkan diri dan berkumpul di lapangan basket di belakang sekolah.

Akibat gempa, tampak beberapa tembok ruang kelas di sekolah itu roboh. Genteng-genteng dan atap sekolah ikut roboh dan menimpa sejumlah siswa yang tak sempat menyelamatkan diri. Sejumlah siswi menjerit histeris, tak sedikit yang menangis dan ketakutan.

Sejumlah siswa dari satuan siswa siaga (S3) SMAN 1 Pakem pun berusaha menolong siswa-siswa yang terluka, dan mengalami patah kaki langsung ditangani dengan sigap oleh kelompok S3. Satu persatu korban berhasil diselamatkan.

Tentu saja itu bukan gempa sungguhan, hanya bagian dari simulasi yang dilakukan siswa SMAN 1 Pakem, terkait refleksi 4 tahun gempa bumi dan erupsi Gunung Merapi yang terjadi 2006 silam.

Pihak sekolah bekerja sama dengan Museum Gempa Prof Dr Sarwidi, memberikan kuliah umum terkait masalah gempa bumi dan erupsi merapi, kepada para siswa, Sabtu kemarin.

Wakil Kepala Sekolah SMAN 1 Pakem, Kristya Mintarja, kepada Harian Jogja menjelaskan, simulasi dan pengetahuan terkait gempa dan erupsi Merapi merupakan bagian mengasah kesadaran siswa.

"Ini social capasity yang sengaja kami kembangkan untuk menumbuhkan insting siswa, jika sewaktu-waktu terjadi gempa dan erupsi," jelas Kristya.

Tak hanya itu, lanjut dia, sekolah secara berkala, setiap tahun, membentuk satuan siswa siaga, yang diharapkan menjadi duta informasi pengetahuan gempa dan erupsi Merapi kepada masyarakat. "Mereka dilatih bagaimana memberikan pertolongan kepada para korban," jelasnya.

Sementara Wakil Bupati Sleman, Sri Purnomo, yang juga hadir dalam kesempatan itu, berharap pengetahuan tentang gempa dan erupsi Merapi disebarluaskan, agar masyarakat bisa tetap waspada. "Apalagi wilayah Sleman secara geografis berpotensi mengalami kedua fenomena alam itu," tuturnya.

Sementara itu, Pengarah Badan Nasional Penanggulangan Bencana RI, Sarwidi, mengingatkan agar masyarakat tidak takut akan datangnya letusan gunung berapi dan gempa vulkanik yang ditimbulkan. Sebab, lanjut dia, letusan Merapi merupakan siklus tahunan dan fenomena alam biasa.

"Siklus 5 tahunan Merapi, sebagai salah satu gunung teraktif di dunia. Dan kemungkinan akan terjadi lagi pada 2011 mendatang. Tapi tak usah takut, cukup waspada dan siaga," katanya.

Untuk meminimalisasi jatuhnya korban jiwa, Sarwidi berharap berbagai pembekalan, informasi dan persiapan bagi masyarakat, digalakkan.

Salah satu caranya, lanjut dia, dengan diberlakukan status siaga dan waspada, sehingga memungkinkan dilakukan evakuasi.

Oleh Abdul Hamied Razak
Wartawan Harian Jogja
internet marketing

1 komentar:

Setuju, tetapi karena beda alam dan sifat dasarnya, mungkin sebagian kecilnya begini:
1. Karena 'kedekatannya' secara geografis masyarakat Yogya,Magelang dan Solo dgn Merapi, yg dari dulunya memang tinggal disini, karena karena ada Merapi juga faktor penyubur tanah2 sekitar tsb, maka persahabatan yg perlu dijalin dgn sahabat tsb antara lain, masyarakat sekitar agar bisa menjaga keseimbangan lingkungan, dgn menjaga hutan lindung diseluruh kaki Merapi tsb.
2. Karena Merapi perlu mengeluarkan lahar (panas atau dingin) atau air permukaan maupun mata air dr seluruh permukaan dinding ke sungai2, maka sebagai sahabat maka jagalah keaslian dan kapasitas sungai2 tsb dengan tidak mempersempit, membuang sampah2, membangun bangunan2 di sisi2 sungai dsb. agar aliran air sungai lancar. Jangan sampai jika banjir akibat penyempitan sungai, kita salahkan sahabat.
3. Karena sbg sahabat kita telah mengetahui sifat2 nya kan?, antara lain bahwa setiap saat ia, karena sifatnya gak kasih tau, kadang2 suka goyang2 tempat tinggal kita, ya sebaiknya kita antisipasi dan tau diri dgn usaha semaksimal mungkin agar akibat itu tdk menimbulkan kerugian. Hal tsb misalnya, buatlah rumah2 kita walau sederhana tetapi seramah mungkin menyambut dia, dengan cara buatlah rumah yg kuat terhadap goyangan yg sekarang sudah banyak teori dan cara yg lebih aman agar tetap kokoh walau sahabat kita sdg menggigil.


EmoticonEmoticon