Sabtu, 12 Juni 2010

Revitalisasi Budaya Islam Mataram
Budaya asli Jogja, yaitu Islam Jawa saat ini sudah sangat sulit ditemui, selain di lingkungan keraton. Sebagian masyarakat asli Jogja pun tak mengenal budaya daerah mereka.

RADAR JOGJA - Demi mencegah punahnya budaya leluhur ini, sebuah masjid yang dinamai Masjid Kawulo Gusti (MKG) berdiri di Mendungan, UH 7/554 Jogja. Masjid ini, di semua bangunannya murni budaya Jawa asli seperti namanya. Ornamen-ornamen yang menjadi penghiasnya pun tak lepas dari tulisan Jawa.

''Seperti halnya Islam, budaya Jawa juga memiliki nilai falsafah yang sama-sama besar,'' kata M. Suhardjo MS, takmir MKG di sela peresmian masjid tersebut, kemarin (11/6).

Nuansa bangunan Jawa di masjid ini memang sangat kental. Misalnya ada condro sengkolo di kanan dan kiri pintu masjid. Condro sengkolo di masjid tersebut bertuliskan hurus Jawa yang berbunyi Naga Nyembah Wiworo Gusti (Allah). Tulisan ini memiliki arti waktu pendirian masjid. Yakni 1928 tahun Jawa bulan Rejeb.

Kehadiran masjid ini, menurut Raja Keraton Sri Sultan Hamengku Buwono X sebagai salah satu revitalisasi budaya Islam Mataram. ''Pembangunan ini sebagai salah satu dari bukti budaya Jawa yang sangat kaya,'' ujar HB X yang meresmikan masjid itu.

Sultan pada kesempatan peresmian tersebut, juga berharap hadirnya MKG ini bisa menjadi salah satu usaha menjaga kelestarian budaya Jawa di tengah gempuran budaya asing. ''Semoga yang berjamaah di masjid ini tidak hanya orang tua. Generasi muda bisa mempelajari budaya Mataram Islam melalui masjid ini,'' katanya.

Masjid ini memiliki wiwara atau lawan yang cukup unik. Di setiap pintu ada tulisan syahadat. Ini sebagai simbol dari salah satu syarat masuk agama Islam. ''Siapa manusia sebelum diwajibkan salat, harus beragama Islam dengan membaca syahadat ini,'' terang Hardjo.

Meski masjid ini bernafaskan budaya Jawa, pengaruh asing ternyata juga ada. Salah satunya marmer di tengah masjid yang berfungsi sebagai tempat munajad. Marmer tersebut berasal dari Italia. ''Karena di sini merupakan tempat yang sangat penting sebagai tanda puser bumi, maka marmer yang dipilih juga pilihan terbaik,'' jelasnya.

Tanah tempat berdirinya masjid ini merupakan hibah dari Pemkot Jogja yang diwakafkan kepada masyarakat Mendungan. ''Biaya pembangunan kami himpun dari bantuan masyarakat sekitar dan sebagian dari pemerintah,'' tuturnya.

Wali Kota Hery Zudianto yang juga datang meresmikan masjid ini menyambut positif. Baginya, keberadaan masjid ini kian memperteguh budaya asli Kota Jogja. ''Masjid ini semoga juga bisa menjadi salah satu daya tarik bagi wisatawan untuk datang ke Jogja,'' harapnya. (eri)



EmoticonEmoticon