Selasa, 29 Juni 2010


REPUBLIKA.CO.ID,YOGYAKARTA—Muktamar Satu Abad Muhammadiyah pada 3 hingga 8 Juli 2010 bakal diikuti dengan penyelenggaraan muktamar Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM). Bertempat di SMA Muhammadiyah 1 Bantul, muktamar akan membahas gerakan kreatif pelajar. Gerakan tersebut terwujud dalam komunitas-komunitas yang pembentukannya disesuaikan dengan kebutuhan pelajar.

Anggota tim materi muktamar, Ahmad Sarkawi mengatakan pembentukan komunitas sekolah untuk memperluas gerakan IPM di level bawah. Menurutnya, IPM bukan hanya gerakan segilintir orang di tingkat elit.

“Kita menginginkan IPM bukan hanya gerakan elit tetapi juga menjadi kebutuhan gerakan di tingkat basis. Gerakan di tingkat basis ini akan diwujudkan melalui komunitas sekolah, “ ujarnya kepada Republika, Ahad (27/6).

Komunitas yang dibentuk di lembaga pendidikan Muhammadiyah tersebut, lanjut Sarkawi, akan disesuaikan dengan kebutuhan pelajar bersangkutan. Lantaran hal itu, jenis dari komunitas bisa bermacam-macam. “Jenis komunitasnya sesuai dengan kebutuhan pelajar, bisa dalam komunitas teater, komunitas music, klub bahasa, atau bisa juga kajian ilmiah, “ jelas Sarkawi.

Meski demikian, Sarkawi menegaskan upaya IPM akan sebatas mendorong terwujudnya komunitas sekolah. Pihaknya tidak akan melakukan intervensi agar komunitas yang terbentuk nantinya bukan hasil dari keterpaksaan sehingga tidak akan efektif sebagai wadah kegiatan pelajar. “Pembentukan ini bukan intervensi, tetapi muncul dari kreatifitas pelajar di masing-masing sekolah sendiri “ tegasnya.

Ditegaskannya pula, komunitas yang terbentuk di sekolah tersebut disesuaikan dengan tujuan Muhammadiyah sebagai lembaga dakwah islam. Melalui komunitas tersebut, IPM mengkolaborasikan kebutuhan pelajar dengan kebutuhan dakwah. Hal ini akan membuat dakwah masuk ke ranah kultural

“Cara dakwah bukan dengan doktrin tetapi dapat masuk melalui kultural dan dialogis. Kita ingin pelajar memahami visi da misi IPM sebagai gerakan dakwah bukan karena tekanan tetapi karena kesadaran, “ terangnya.

Pembentukan komunitas sekolah, ungkap Sarkawi, sudah dilakukan IPM sebelumnya. Komunitas tersebut diantaranya komunitas menulis yang menciptakan sebuah bulletin. Hasil dari komunitas ini, ujar Sarkawi, dapat menjadi wadah pelajar untuk mengeluarkan ide-ide cerdas. Komunitas yang sama juga sudah dibentuk khusus untuk pelajar putri.

“Di Tangerang sudah kita lakukan dalam membentuk komunitas khusus pelajar putri. Di sana, pelajar kita dorong untuk memiliki kesadaran kritis dalam komunitas melalui capacity building seperti diskusi, “ terangnya.

Diakuinya, komunitas yang telah terbentuk tersebut masih terdapat di beberapa sekolah. Padahal, menurut Sarkawi, komunitas tersebut penting dibentuk di setiap sekolah. Untuk itu, melalui Muktamar, pihaknya berharap komunitas yang sama dapat muncul merata di seluruh lembaga pendidikan milik Muhammadiyah di Indonesia.

Terkait dengan persiapan muktamar, Sarkawi mengungkapkan pihaknya telah menyiapkan kebutuhan seperti penginapan dan ruang sidang. Rencananya, dua sekolah Muhammadiyah di Bantul akan menjadi tempat penginapan peserta. Pihak panitia akan mengubah ruang-ruang kelas sekolah untuk dijadikan kamar tidur peserta.

Sementara untuk peserta, Sarkawi menyebutkan sudah ada 750 orang yang mengkonfirmasi kedatangan. Akan tetapi, pihaknya memperkirakan jumlah tersebut akan bertambah menjelang hari penyelenggaraan muktamar. “Biasanya jumlah peserta akan meledak di hari-hari terakhir, saya kira bisa mencapai 1000 peserta yang ikut nanti, “ ujarnya.

Red: taufik rachman
Rep: MY1




EmoticonEmoticon