Senin, 07 Juni 2010

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Sejak dua pekan terakhir, nelayan di Pantai Selatan Gunung Kidul, DI Yogyakarta telah memasuki masa paceklik ikan. Tangkapan ikan di pantai selatan Gunung Kidul pun terus menurun. Setiap harinya, hanya segelintir nelayan yang tetap nekad melaut. Padahal cuaca cenderung normal dengan ombak landai.

Pada Minggu (6/6/2010), hanya lima kapal nelayan di Pantai Baron yang turun melaut. Sehari sebelumnya, cuma 10 kapal yang melaut. Nelayan Sugi mengaku enggan melaut karena sehari sebelumnya hanya mendapat tangkapan 15 kilogram ikan campur. Rata-rata tangkapan ikan nelayan saat ini hanya 20 kilogram per kapal sekali melaut.

Menurut Ketua Kelompok Nelayan Pantai Baron Sunardi, mayoritas dari 206 nelayan di Pantai Baron lebih memilih bekerja di ladang sembari menunggu musim panenan ikan. Nelayan yang nekad melaut hanya m emperoleh ikan campur atau udang jerbung yang jumlahnya sangat minim.

Harga ikan campur yang antara lain terdiri dari ikan tongkol, ikan pari kecil, atau ikan tombro ini hanya Rp 6.000-Rp 7.000 per kilogram. Nelayan pun lebih banyak tertarik mencari udang jerbung dengan harga Rp 60.000 per kilogram.

Sugi sempat mencoba melaut dengan jaring udang jerbung dan memperoleh sekitar 2,2 kilogram udang jerbung yang dijual Rp 140.000. Dengan biaya produksi untuk pembelian bahan bakar yang mencapai Rp 50.000, Sugi mengaku tidak bisa menyetor uang ke juragan kapal.

Padahal, kebutuhan konsumsi ikan di Pantai Baron ketika musim liburan bisa mencapai 1 ton ikan per hari atau setengah ton di hari biasa. Di puncak kunjungan wisatawan seperti hari Minggu, pedagang ikan Pantai Baron seperti Rini bisa menjual 25-30 kilogram beragam jenis ikan.

Karena keterbatasan tangkapan nelayan Pantai Baron, Rini pun membeli barang dagangan ikan dari pemasok yang berasal dari Cilacap, Semarang, dan Tulungagung. Sunardi mengatakan 60 persen dari kebutuhan ikan untuk wisatawan di Pantai Baron memang didatangkan dari luar wilayah Kabupaten Gunung Kidul.

internet marketing


EmoticonEmoticon