Rabu, 16 Juni 2010

HARIAN JOGJA: Tingginya harga gas ukuran 3 kg mulai dikeluhkan masyarakat. Saat ini harga gas di DIY berkisar antara Rp14.000-Rp15.500. Bahkan di Klaten harga menembus Rp18.000. Pedagang bakso di daerah Gejayan, Supri mengatakan kenaikan harga gas dikhawatirkan akan mempengaruhi pendapatannya. “Sekarang harga sudah merangkak naik, takutnya orang-orang kecil seperti kami ini yang menjadi korbannya,” katanya.

Supri menuturkan, biasanya setiap tabung bisa digunakan hingga 3 hari, dengan naiknya harga gas dia berusaha mengakalinya agar cukup untuk 4 hari. “Ujung-ujungnya kualitas dagangan saya yang jadi korban, kalau begitu terus saya takut pembeli saya pada kabur,” tuturnya.

Hal senada diungkapkan penjual soto di daerah Lempuyangan, Tri. Naiknya harga gas semakin menjadi beban, apalagi dikhawatirkan dampaknya akan melebar dengan meningkatnya harga-harga kebutuhan pokok. “Takutnya, harga gas naik terus harga barang-barang kebutuhan lainnya ikut naik,” ungkapnya.

Tri berharap program rayonisasi yang mulai diberlakukan 1 Juni dapat dipikirkan bagaimana caranya tidak membuat harga gas ikut naik. “Ya kalau orang kecil inginnya semua harga tidak naik, jadi tolong pemerintah memikirkannya lagi,” ungkapnya.

Pengecer gas di Bantul, Sukirno ketika ditemui di toko kelontong miliknya, di Pedukuhan Plumbungan Desa Sumbermulyo Kecamatan Bambanglipuro, Selasa (15/6) berharap kelangkaan gas lekas kembali normal. Sukirno mengatakan sejak 1 Juni hanya menerima jatah 10 tabung per minggu, sementara dia punya 30 tabung.

Sukirno mengatakan prihatin kepada pencari gas sejak kelangkaan itu. Masih sering ada yang mengetuk warungnya meski sudah tutup pada malam hari.

Pemilik pangkalan Bantul Jaya, di Jalan Sudirman Desa Bantul Kecamatan Bantul, Rina Damaryanti mengatakan pengurangan pasokan mencapai separuhnya. Dia memiliki 400 tabung dan hanya dipasok 200 tabung per hari.

Sejak pengurangan, antrean selalu tampak di depan tokonya. Rina mengatakan terpaksa membatasi pembelian hanya 10 tabung per orang. Sebab, Rina yakin masih banyak pelanggan utamanya yang belum mengetahui, sementara pengantre semakin banyak dari luar pelanggannya yang biasa. Bahkan, kerap tampak pengantre yang menggunakan mobil pickup. “Biarin saja kalau dia marah-marah. Nggak akan saya kasih [lebih], supaya rata” ucapnya seraya menambahkan sejak gas 3 kg pasokannya terbatas ada sedikit lonjakan penjualan untuk tabung gas 12 kg.

Mengenai asosiasi pengusaha, di bidang gas itu, Sukirno, dan Rina mengatakan tidak bergabung dengan asosiasi pengusaha, dan tidak mengetahui peranannya.

Di Klaten harga gas elpiji kemasan tabung isi 3 kg, Senin (14/6), mencapai Rp18.000 per tabung. Menurut salah seorang warga Desa Belangwetan, Kecamatan Klaten Utara, Suprojo, 43, harga elpiji tiga kilogram yang beberapa hari terakhir rata-rata Rp15.000 per tabung di tingkat pengecer, kini melonjak menjadi Rp18.000 per tabung.

Sementara, sejumlah pedagang makanan mengaku resah dengan kenaikan harga gas elpiji yang setiap hari mereka butuhkan. Mereka khawatir harga terus naik hingga tak terjangkau oleh kalangan masyarakat bawah. “Padahal harga makanan tak bisa begitu saja dinaikkan karena pelanggan bisa kabur,” kata Bandi, 35, pedagang makanan di Klaten Tengah.

Kabag Perekonomian Pemkab Klaten, Sri Sumanto menjelaskan, jika memang di daerah tertentu harga gas elpiji melonjak, maka Pemkab siap menggelar operasi pasar.

Oleh Dasa Saputra & Heru Lesmana Syafei
Harian Jogja
&
Rohmah Ernawati
Solopos/JIBI




EmoticonEmoticon