Senin, 09 Agustus 2010


RADAR JOGJA - Tempat-tempat hiburan malam di Kota Jogja yang sekitarnya yang kerap menjadi ajang bermaksiat tampaknya harus mematuhi aturan tutup selama bulan Ramadan. Jika tak ingin adanya penutupan paksa dari kepolisian dan organisasi massa (ormas) Islam.

Sebab, organisasi massa (ormas) Islam Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) Front Jihad Islam (FJI), dan Gerakan Anti Maksiat (GAM) menjanjikan tetap keluar. Mereka akan bekerja sama dengan aparat Kepolisian memantau hal tersebut.

"Jika ada tempat hiburan malam yang ternyata masih beroperasional, kami serahkan kepada aparat kepolisian. Kami hanya akan memantau tempat-tempat tersebut. Supaya, umat muslim bisa melaksanakan ibadah puasa dengan khusyuk," kata Komandan Laskar Mujahidin Abu Haidar, usai beraudiensi dengan Kepala Kepolisian Kota Besar (Kapoltabes) Jogja Kombes Pol Atang Heriadi, kemarin (6/8) di Mapoltabes Jogja.

Haidar menampik jika pemantauan tempat-tempat maksiat ini disebut dengan sweaping. Karena, saat keluar bersama dengan pihak aparat nanti, pihaknya hanya akan memberikan mental power terhadap pengelola dan pengunjung. Sedang, soal tindakan jika ada yang pelanggaran, menjadi kewenangan dari aparat kepolisian.

Pemantauan tempat-tempat maksiat ini, menurutnya, juga telah dilakukan selama Ramadan yang lalu. Hasilnya, juga tidak terjadi sweaping terhadap pengunjung tempat maksiat. "Pemantauan ini juga untuk mendukung kepolisian menutup tempat-tempat maksiat. Walaupun hal tersebut baru bisa dilakukan pada bulan Ramadan," imbuhnya.

Ia berpendapat, kepolisian dan pihaknya memiliki visi sama soal tempat kemaksiatan. Yakni tidak akan mendukung adanya kemaksiatan. "Saya sangat yakin, jika aparat juga tak mungkin mendukung adanya maksiat. Dalam bentuk apa pun," tandas pria berjenggot ini.

Saat memberikan mental power terhadap pengunjung dan pengelola tempat maksiat, dirinya mengungkapkan hanya akan mengerahkan 10 orang anggotanya. Pihaknya tak akan menurunkan banyak orang demi terciptanya kenyamanan masyarakat.

Soal adanya pemantauan ini, Kapoltabes Jogja Kombes Pol Atang Heriadi mengakuinya. Pemimpin tertinggi kepolisian di wilayah Jogja ini menjelaskan bahwa hal tersebut merupakan bagian dari kerjasama polisi sebagai mitra masyarakat. "Kami lakukan ini seperti kerja sama dengan pihak lain untuk mewujudkan ketertiban dan keamanan di masyarakat," imbuhnya.

Atang juga menjelaskan, pada kerja sama yang dilakukan tersebut, Ormas Islam ini hanya akan memberi masukan kepada pihaknya. Jika pada pemantauan ini diketemukan beberapa tempat maksiat yang menyalahi aturan, pihaknya yang akan mengambil tindakan. "Sesuai dengan tugas dan kewenangan hal tersebut berada di kami. Ini juga telah menjadi kesepakatan dari silaturahmi ini," sambung perwira tiga melati di pundak ini.

Meski bekerja sama melakukan pemantauan terhadap tempat-tempat maksiat, Atang menolak jika terjadi sweaping. Ia juga menjanjikan, akan meminimalisir sweaping terhadap masyarakat. Apalagi, ini juga menjadi salah satu poin kesepakatan dari silaturahmi dengan ketiga Ormas Islam ini. "Jika pun ada sweaping, saya yakin dilakukan oleh oknum yang mengatasnamakan ormas Islam," ujarnya. (eri)




EmoticonEmoticon