Senin, 18 Oktober 2010

GUNUNG KIDUL, KOMPAS.com - Sebanyak 73 orang asing yang diamankan Polres Gunung Kidul, DIY, Minggu adalah imigran gelap yang akan meminta suaka politik di Australia.

"Mereka imigran gelap yang akan meminta suaka politik di Australia terkait dengan konflik di negara asal mereka," kata Komandan Kodim 073 Gunung Kidul, Letkol Arm. Budi Eko Mulyono, Minggu (17/10/2010).

Mereka yang berdalih sebagai wisatawan dan tenaga pendidikan dari Iran dan Afghanistan itu, ke Indonesia dalam rangka studi banding.

"Kemudian mereka akan menyeberang ke Australia dan keberadaan mereka sudah kami pantau sejak satu minggu lalu, setelah mendapat informasi dari pusat," katanya.

Pihaknya sudah mengkondisikan satuan intel Kodim 073 Gunung Kidul di lokasi penyeberangan sejak Jumat lalu.

"Kami sudah mendapat informasi terkait kedatangan mereka sejak satu minggu lalu dan secara intensif kami lakukan pemantauan siang dan malam dengan menerjunkan personel dari kesatuan intelijen sejak Jumat, karena prediksi kami mereka akan menyeberang antara Jumat sampai Minggu dan ternyata pada Sabtu malam mereka menyeberang," katanya.

Menurut dia, proses perjalanan sampai penyeberangan para imigran gelap itu sudah diatur dengan rapi oleh sindikat biro jasa perjalanan international yang berkantor di Kanada, yang memiliki jaringan sampai tingkat bawah serta melibatkan sejumlah nelayan di Pantai Gesing, Gunung Kidul.

"Kami sudah melakukan koordinasi dengan pemerintah dusun di Pantai Gesing dengan melibatkan kepala dusun, ketua RT, serta nelayan untuk sepakat tidak membantu mereka melakukan penyeberangan, namun salah satu nelayan bernama Tugiran ternyata membantu mereka untuk melakukan penyeberangan dengan imbalan uang," katanya.

Ia mengatakan nelayan yang terlibat dalam kasus penyeberangan imigran gelap tersebut belum sempat membagikan uang yang diperoleh, sampai akhirnya ditahan bersama 10 nelayan lain oleh jajaran Kepolisian Resor Gunung Kidul.

"Keterlibatan orang dalam, saya kurang tahu, kemungkinan Kapolres Gunung Kidul yang lebih tahu tentang itu," katanya.

Namun, menurut dia, dari kronologi pengamanan yang dilakukan, seharusnya para imigran gelap sudah dapat ditangkap sebelum sempat berlayar, bukan karena ada laporan dari nelayan yang dimintai pertolongan dari imigran karena kapal utama untuk menyeberang mengalami kerusakan.

Budi mengatakan penangkapan terhadap para imigran gelap itu berawal dari kerusakan kapal utama yang digunakan untuk menyeberang.

"Kapal mengalami kerusakan pada posisi jarak 5,6 mil dari lepas Pantai Baron, sehingga nahkoda kapal meminta pertolongan kepada nelayan pantai yang sedang melaut mencari ikan untuk membantu mengevakuasi para imigran ke daratan, karena sudah semalam terkatung-katung di laut," katanya.

Ia mengatakan para imigran gelap itu menuju Pantai Gesing, Gunung Kidul, menggunakan jalur darat dari Cisarua, Bogor, Jawa Barat.

"Mereka menggunakan jalur darat untuk masuk ke Gunung Kidul, dan berhasil masuk ke kawasan Pantai Gesing melalui jalan alternatif, bukan pintu utama, dengan bantuan dari nelayan yang menjadi petunjuk jalan," katanya.

Sementara itu, Kapolres Gunung Kidul AKBP Asep Nalaludin mengatakan sebanyak 73 orang asing yang terdiri dari anak-anak 15 orang, perempuan dewasa 15 orang, dan laki-laki dewasa 43 orang itu, sudah diamankan bersama 10 nelayan.

"Kami sudah mengamankan 10 nelayan yang diduga membantu penyeberangan para orang asing tersebut, dan dari kartu identitas para nelayan itu, mereka berasal dari berbagai daerah, antara lain Trenggalek dan Pacitan Jawa Timur, Bogor dan Tasikmalaya Jawa Barat, Kutai Kartanegara Kalimantan Timur, serta dari Gunung Kidul," katanya.

Editor: Benny N Joewono | Sumber : ANT




EmoticonEmoticon