Sabtu, 30 Oktober 2010

(SINDO) – Abu vulkanik akibat erupsi Gunung Merapi dilaporkan mulai mengganggu penerbangan. Pesawat milik maskapai Garuda Indonesia nomor penerbangan GA 6010 mengalami kerusakan mesin hingga akhirnya mendarat di BandaraHangNadim,Batam,Kamis (28/10),sekitar pukul 13.30 WIB.

Pesawat yang digunakan untuk mengangkut calon jamaah haji kloter 51 asal Bantul Yogyakarta itu diterbangkan dari Bandara Adi Soemarmo, Solo pukul 11.43 WIB. Meski diketahui sudah mengganggu mesin pesawat, otoritas Bandara Adi Soemarmo, Solo maupun Bandara Adisutjipto,Yogyakarta belum mengeluarkan larangan penerbangan. Manajer Operasional Angkasa Pura, Bandara Adisutjipto, Halindra mengatakan, sampai sekarang abu vulkanik akibat letusan Merapi masih mengarah ke barat.

Dengan begitu, jalur penerbangan dari dan ke Bandara Adisutjipto belum terpengaruh abu vulkanik. Mengenai laporan ada pesawat yang terkena abu vulkanik,dia mengaku belum mengecek. “Sejauh ini belum terpengaruh,” kata Halindra kepada SINDO kemarin. Abu vulkanik gunung berapi diketahui sangat berbahaya untuk penerbangan. Pada kasus letusan Gunung Eyjafjallajokull di Islandia, April 2010, otoritas penerbangan di Eropa menutup penerbangan selama berhari-hari.

Sementara pada 1982, empat mesin pesawat milik British Airways Penerbangan 009 tiba-tiba mati di udara selepas melintasi Pulau Jawa. Pesawat rute London- Auckland dilaporkan terkena abu vulkanik letusan Gunung Galunggung. Pesawat berhasil mendarat darurat di Bandara Halim Perdanakusuma. Sebanyak 248 penumpang dan 15 kru pesawat selamat.

Mengenai terganggunya penerbangan GA 6010 dilaporkan oleh Nadhif,Tim Pemandu Haji Indonesia (TPHI) Kloter 51 kepada Humas Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Solo, Akhmad Suaidi,kemarin. Para calon haji (calhaj) merasa bersyukur pesawat dapat mendarat dengan selamat. Sesaat sebelum mendarat terdengar suara mesin yang disertai letupan dan guncangan.

Dari keterangan petugas bandara diperoleh informasi bahwa banyak debu vulkanik yang menempel pada mesin pesawat. Selama menunggu perbaikan mesin, seluruh penumpang sebanyak 380 orang diturunkan dari pesawat dan ditempatkan di ruang tunggu bandara setempat. Para calhaj sempat gelisah karena menunggu beberapa jam, namun belum ada kepastian keberangkatan mereka. Setelah itu calhaj diboyong ke Asrama Haji Batam pada pukul 16.30 WIB.Penerbangan ke Jeddah kembali dilanjutkan sekitar pukul 19.20 WIB setelah pesawat pengganti didatangkan.

Kerusakan pesawat kloter 51, Kata Suaidi, berdampak pada penundaan (delay) pemberangkatan tiga kloter calhaj,Jumat (29/10) kemarin. Seperti kloter 52 yang berisi calhaj gabungan Yogyakarta dan Kota Semarang molor dua jam dari jadwal semula yakni pukul 09.00 WIB dan baru diterbangkan pada pukul 11.00 WIB. Demikian pula pemberangkatan kloter 53 asal Kendal terpaksa mundur lima jam menjadi pukul 17.00 WIB. Sedangkan kloter 54 asal Kota Semarang diterbangkan pukul 21.30 WIB atau molor lima setengah jam.

“Kejadian delay yang cukup lama bagi kloter 54 membuat PPIH Embarkasi Solo harus mengatur keberangkatannya agar tidak terjadi penumpukan jamaah di Asrama Haji Donohudan, Boyolali. Pada saat yang bersamaan,di Asrama Haji Donohudan kedatangan empat kloter,”katanya. Penumpukan jamaah sudah diantisipasi dengan menurunkan jamaah kloter 54 lebih awal meski mereka harus menunggu cukup lama di Gedung Muzdalifah.

Sementara itu, Duty Manager Bandara Adi Soemarmo, Solo, Edi Martono saat dikonfirmasi SINDO mengakui ada keterlambatan jadwal pemberangkatan calhaj.Sehari sebelumnya, salah satu pesawat yang memberangkatkan calhaj terbang menuju Batam untuk mengganti pesawat yang mengalami kerusakan. “Jadi mau tidak mau mengalami keterlambatan,” kata Edi Martono.

Kendati demikian, kata dia, secara umum jadwal penerbangan di Bandara Adi Soemarmo, Solo tetap berjalan normal dan belum terpengaruh abu vulkanik dari Gunung Merapi. Pihaknya tetap waspada dan terus melakukan koordinasi terkait kemungkinan letusan Merapi mengganggu jadwal penerbangan. “Kami telah berkoordinasi dengan Bandara Adisutjipto di Yogyakarta. Jika penerbangan di sana mengalami emergency, bisa mendarat di Solo. Demikian pula sebaliknya,” tandasnya.

Wakil Kepala Bidang Pemberangkatan dan Penerimaan Jamaah Haji PPIH Embarkasi Solo Sigit Warsito membenarkan pesawat Garuda Indonesia yang memberangkatkan kloter 51 dari Yogyakarta mengalami kerusakan mesin saat transit di Bandara Hang Nadim, Batam.

Setelah diperiksa, mesin pesawat terganggu debu vulkanik. Pesawat yang diketahui mengalami kerusakan tersebut selanjutnya diterbangkan kembali ke Bandar Adi Soemarmo untuk diperbaiki. Pesawat tersebut diharapkan segera bisa beroperasi kembali untuk mengantarkan jamaah calhaj ke Tanah Suci. (ary wahyu wibowo/mn latief)




EmoticonEmoticon