Ada Sungai Bawah Tanah di Kulon Progo? - Jogja Info [dot] net

“Nderek Tumut Nguri-uri Kabudayan Jawi”


Breaking

Home Top Ad

Post Top Ad

Wednesday, 13 October 2010

Ada Sungai Bawah Tanah di Kulon Progo?

KULON PROGO, KOMPAS.com — Taruna Siaga Bencana (Tagana) Girimulyo Kabupaten Kulon Progo, DIY, siaga 24 jam di lokasi tanah ambles di pedukuhan Sabrang Lor, Desa Purwosari, Girimulyo, karena pergerakan tanah makin melebar mencapai radius 25 meter.

Tagana Kecamatan Girimulyo, Sumarjo, Selasa (12/10/2010) mengatakan, retakan tanah di sekitar rumah seorang warga semakin lebar dan banyak ditemukan retakan baru sehingga mengkhawatirkan.

"Kami siaga 24 jam dengan dua shift masing-masing tiga orang. Jadi, kalau sewaktu-waktu terjadi pergerakan tanah, tanah ambles, dan yang lain dapat segera ditangani," kata Sumarjo di Girimulyo.

Setiap jam, tanah di Sabrang Lor terus mengalami penurunan satu milimeter dan pergerakan. Tanah sewaktu-waktu dapat ambrol.

"Dari pengukuran selalu dilakukan retakan yang tadinya 2,6 sentimeter kini sudah melebar menjadi 3 sentimeter, sedangkan tanah vertikal dari tadinya berukuran 0,5 sentimeter menjadi 1,5 sentimeter," katanya.

Sebelumnya, hasil penelitian sementara oleh Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta menunjukkan, fenomena tanah ambles tersebut disebabkan oleh pergeseran lapisan bawah tanah sehingga menyebabkan lapisan tanah di atasnya turun.

Hasil dugaan sementara BPPTK Yogyakarta juga menunjukkan adanya kemungkinan adanya gua atau sungai bawah tanah, tapi semua belum bisa disimpulkan secara pasti karena masih terus dikaji.

Selain itu, kondisi lingkungan di sebagian besar Dusun Sabrang Kidul merupakan batu kapur sehingga ada kemungkinan bahwa lapisan bawah itu adalah batu kapur yang mudah mengalami pelapukan dan bisa menyebabkan lapisan tanah di atasnya turun.

Sementara itu, Kepala Bidang Geologi dan Energi Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kulon Progo Heri Purnomo belum dapat menyimpulkan fenomena tanah ambles tersebut. Namun, instansinya terus melakukan pemantauan di lokasi kejadian.

"Kami hanya bersifat pemantauan dan pengawasan di lapangan, belum sampai tahap penelitian," katanya.

Kondisi tanah setidaknya masih bisa ditempati atau masih layak huni. Namun, hal itu harus diwaspadai karena rekahan mungkin bisa semakin melebar.

Editor: Benny N Joewono | Sumber : ANT



No comments:

Post a Comment

loading...
Disclaimer: Gambar dan video artikel pada website ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain. Hak cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber tersebut. Jika ada masalah terkait hal ini, Anda dapat menghubungi kami disini.

Post Bottom Ad

Pasang Iklan Rp. 100.000,-/Bulan

Form Lowongan Kerja (FREE)