Rabu, 06 Oktober 2010

HARIAN JOGJA: Aktivitas deformasi atau penggembungan tanah gunung Merapi terus meningkat. Warga diimbau tetap waspada. "Deformasi atau penggembungan tanah di kawasan Gunung Merapi sudah mulai terjadi, karena itu warga diharapkan tetap waspada, tapi jangan panik karena aktifitas tersebut belum muncul sampai ke permukaan,” papar Kepala Seksi Gunung Merapi BPPTK Jogja, Sri Sumarti.

Menurut Sri, gejala deformasi tersebut menunjukan aktifitas magma yang terus bergerak sehingga membuat tanah menggembung sedikit demi sedikit, seperti pada Mei 2009 deformasi masih normal yaitu 0,2 mm perhari.

Pada September 2009, lanjut Sri, juga masih normal yaitu 0,9 mm perhari, tapi pada Maret 2010 deformasi tanah sudah mulai tidak normal yaitu 1,7 mm perhari.

"Sampai september 2010 naik menjadi 11,8 mm perhari, karena itu warga tetap waspada,” tambahnya.

Sri melanjutkan, dalam situasi demikian kewaspadaan warga terus meningkat, salah satunya jangan melakukan aktifitas penambangan pasir di sepanjang sungai yang berhulu di gunung merapi dalam radius 7 kilometer. “Kalau di luar itu masih dibolehkan,” terangnya.

Dari data BPPTK Jogja, tercatat aktivitas gunung merapi 27 September – 3 Oktober terjadi gempa vulkanik sebanyak 65 kali, meliputi vulkanik dalam 21 kali, vulkanik dangkal 44 kali dengan magnitude berkisar 0,6 – 2,4 SR. Gempa Multi Phase (MP) terjadi 376 kali dan guguran 35.

Dalam situasi demikian, BPPTK menyarankan kepada masyarakat yang tinggal di Kawasan Rawan Bencana III Gunung Merapi untuk lebih waspada.

Disamping itu, menurut Sri, pemerintah Kabupaten Sleman juga sudah perlu melakukan sosialisasi kepada masyarakat dalam rangka pengurangan risiko bencana.

"Lewat pertemuan, arisan, atau pengajian warga perlu diberi tahu bagaimana situasi Merapi, sehingga mereka lebih siap,” kata dia.
(Harian Jogja/Mustaqim Fikri AR)




EmoticonEmoticon