Minggu, 17 Oktober 2010

YOGYAKARTA(SINDO) – Puncak perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Yogyakarta Ke-254 berlangsung sangat meriah tadi malam.

Diawali dengan penampilan para tokoh wayang yang menggunakan sepatu roda, acara yang dikemas dalam Jogja Java Carnival (JJC) ini dimulai. Keberagaman budaya nampak jelas sesuai dengan moto JJC yakni Celebration of Culture Unity.

Budaya Thailand turut memeriahkan dengan sebuah tarian bertema City of Angel.Para penari yang menggunakan pakaian adat Thailand ini dengan gerak gemulai cukup memukau para hadirin. Disusul rombongan dari negara Suriname dan tak ketinggalan para ekspatriat dari berbagai negara turut unjuk kebolehan dengan menggunakan pakaian Jawa. Penampilan pertama JJC Harmonight pertama ialah vehicle gunungan dengan menampilkan 70 penari gunungan.Yang kedua tampil vehicle dengan tema WulanTumanggal yang diiringi oleh tokoh-tokoh permainan dan dongeng anak sarat makna seperti pinokio,peri,raksasa jahat dan boneka lucu lainnya.

Penampilan selanjutnya ialah golong gilig yang menjadi sejarah dan kenangan Yogyakarta.Bangunan berupa tugu ini menggambarkan perilaku manusia yang harus saling menghargai, menghormati dan saling pengertian.Vehicleselanjutnya ialah Bumi Kebrana,mewakili isu global warmingyang saat ini tengah mengancam bumi. Para penari menggambarkan bagaimana bencana alam selama ini telah menghantui bumi yang pada akhirnya dapat mendatangkan malapetaka hebat yang dapat menghabisi alam semesta.Sesi ini seperti mengingatkan manusia agar terus mau menjaga alam sekitar mereka demi kehidupan selanjutnya.

Tuwu yang menggambarkan rimbunnya pepohonan menjadi penampilan vehiclekelima.Kali ini pesan yang ingin disampaikan ialah tanam pohon untuk masa depan agar manusia masih bisa merasakan sejuknya udara bersih.Ini ten-tu berhubungan dengan Indonesia sebagai paru-paru dunia.Selanjutnya disusul dengan HardoWalikoyang berbentuk naga besar berwarna hijau dengan gerak naik turun seakan hidup. Naga Jawa yang digambarkan diperumpamakan sebagai penjaga tanah Jawa dari mara bahaya yang mengintai setiap saat, terutama dalam dunia mitos khayalan. Tirto segoro menutup rangkaian vehicle dengan dominasi busana warna biru yang menggambarkan lautan selatan Yogyakarta dengan berbagai kisah misterinya.

Berbentuk kereta kencana yang ditarik empat kuda putih,gambaran sosok putri cantik penguasa pantai selatan Nyi RoRo Kidul tampak anggun menyapa hadirin. Lebih dari sembilan koreografer seniman Yogyakarta di antaranya Broto,Dhani Brain dan Maria Magdalena Ngatini menyuguhkan karya seni mereka dalam JJC Harmonight di sepanjang Malioboro. Karnaval malam hari yang diikuti oleh ribuan penari dari dalam dan luar negeri ini merupakan street performance kolosal yang didukung oleh 40 kelompok tari dan seni Yogyakarta. Berbeda dengan penyelenggaraan JJC tahun kemarin, tahun ini JJC lebih semarak dengan sebuah atmosfer ritme musik ciptaan para musisi yogyakarta yang mengiringi seluruh rangkaian karnaval.

JJC yang sejak tiga tahun lalu digelar sebagai puncak HUT Kota Yogyakarta kali ini menampilkan Keselarasan dalam Malam (Harmonight). Dengan tujuan mewujudkan Yogyakarta sebagai jendela budaya internasional, JJC 2010 mengemas budaya dalam tiga subtema besar yakni Selaras dengan Sesama,Selaras dengan Alam dan Selaras dengan Pencipta. Penampilan selanjutnya diisi dengan rangkaian pertunjukan budaya asal luar Yogyakarta yang benar- benar menggambarkan keanekaragaman budaya yang ada di Yogyakarta sebagai Indonesia mini. Karnaval ditutup dengan penampilan sasana wushu Indonesia Yogyakarta dan pesta kembang api.

JJC yang dimulai dari Lapangan Parkir Abu Bakar Ali ini melakukan atraksi di empat titik sepanjang Malioboro yakni di depan Malioboro Mall, depan Batik Terang Bulan,Ngejaman dan titik nol kilometer. Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam sambutannya mengatakan,kota merupakan pusat perabadan manusia dan dapat menjadi barometer peradaban manusia, baik peradaban material, moral dan spiritual. “Yogyakarta hingga saat ini tetap dapat mempertahankan ciri khasnya sebagai kota toleansi, miniatur Indonesia, kota kreatif dengan produk yang telah mendunia. Dengan adnya JJC maka lebih memperkaya ciri khas Yogyakarta,” ungkap Sultan. Sultan juga menuturkan, dengan kretifitas,sebuah kota bisa lebih dihargai dan hidup dan mengisi karakteristik dari kota itu sendiri.

“Dengan street performance seperti ini bahkan merupakan puncak kreatifitas para seniman agar tidak terhanyut pada dunia fana,namun tetap memikirkan multikultur dan humanis,”ujarnya. Sementara itu,Wali Kota Yogyakarta Herry Zudianto mengatakan, Kota Yogyakarta menjadi kota yang dinilai paling nyaman dihuni dibanding dengan 12 kota besar lain di Indonesia. Hal tersebut lalu diwujudkan dalam pagelaran JJC tahun ini. “JJC diharapkan menjadi icon even yang dapat memberikan dampak positif bagi dunia seni, ekonomi, pariwisata dan budaya Yogyakarta. Karnaval malam hari ini turut mewujudkan perayaan budaya untuk kesatuan,”ujarnya.

Herry mengungkapkan, JJC merupakan puncak pesta budaya yang ke depannya dapat semakin merangkum budaya universal dan dunia sehingga terwujud saling percaya, pengertian dan saling menghargaiantarsesamabangsadidunia. “JJC memang dipersiapkan menjadi pagelaran kelas dunia dengan dua ciri yakni karnaval malam hari yang menjadi pertama di Indonesia dan merupakan pesta budaya dunia. Kami berharap JJC dapat memberikan dampak positif bagi pariwisata Kota Yogyakarta sehingga perekonomian dan pendapatan masyarakat Yogyakarta semakin tumbuh,”jelasnya (ratih keswara)




EmoticonEmoticon