Ada Semangat Merdeka di Dukungan Penetapan - Jogja Info [dot] net

“Nderek Tumut Nguri-uri Kabudayan Jawi”


Breaking

Home Top Ad

Post Top Ad

Tuesday, 19 April 2011

Ada Semangat Merdeka di Dukungan Penetapan

JOGJA - Aksi dukungan terhadap proses pembahasan RUUK DIJ yang berintikan penetapan oleh masyarakat tak pernah padam. Seperti yang terjadi kemarin (17/4), dalam Jalan Sehat Mubeng Beteng Golong Gilig Penetapan. Ribuan masyarakat DIJ bersatu mendukung Sri Sultan Hamengku Buwono dan Sri Paduka Paku Alam yang kini menduduki jabatan gubernur dan wagub.


Acara yang juga diisi dengan kirab budaya, senam massal, dan diakhiri jalan sehat ini sebagai bentuk konsolidadi pendukung penetapan dan dukungan kepada wakil rakyat di Senayan. Mereka meminta anggota DPR RI khususnya Komisi II untuk turut memperjuangan keistimewaan DIJ.


”Kami akan terus berjuang untuk mempertahankan keistimewaan DIJ hanya dengan penetapan sampai dengan tetes darah penghabisan,” tandas Koordinator Gerakan Rakyat Mataram (Geram) Wishihasto WP, yang turut sebagai penyelenggara aksi ini, kemarin (17/4).



Disela-sela aksi jalan sehat, adik Raja Keraton Sri Sultan Hamengku Buwono X yakni GBPH Prabukusumo menyatakan masyarakat DIJ siap merdeka jika pemerintah tak menghiraukan sikap masyarakat DIJ. ”Semua harus siap, kenapa tidak? Kalau pemerintah tidak menghargai (keistimewaan) Jogjakarta, kenapa harus mengemis? Saya yakin masyarakat akan mendukung,” kata Gusti Prabu, sapaan akrabnya.


Mantan Ketua DPD Partai Demokrat DIJ ini menyayangkan sikap pemerintah maupun kalangan wakil rakyat yang seakan tak mendengarkan aspirasi warga Jogjakarta. Ini, menurutnya, menjadi pertanda buruk pemerintahan saat ini yang tak mencontoh sikap dari pemimpin masa lalu.

”Jika pemimpin saat ini bersedia melihat kisah penggabungan DIJ secara utuh, tentunya mereka bisa bersikap sama seperti Sri Sultan HB IX dan Sri Paduka Pakualam VIII. Kedua tokoh utama di Jogjakarta tersebut dalam proses penggabungan diri kepada NKRI semata-mata untuk masyarakat di Jogjakarta,” jelasnya.


Ketua KONI DIJ ini menceritakan, sang ayah saat bergabung dengan NKRI sebenarnya tak mempermasalahkan Jogjakarta mau menjadi provinsi atau daerah istimewa setingkat provinsi. Bagi gubernur pertama di Jogjakarta tersebut yang terpenting adalah menjaga kedaulatan masyarakat DIJ dari penjajah Kolonial Belanda.


”Ayah saya tidak pernah mempermasalahkan apapun. Tapi kenapa malah pemerintah sekarang mempermasalahkannya? Saya khawatir pembahasannya (RUUK) dipolitisasi. Ada Setgab koalisi dan sebagainya, yang penuh pressure (tekanan) politik. Sampai kini pun menjadi tanda tanya bagi saya, kenapa demikian,” katanya, heran.

Gusti Prabu menilai wacana gubernur dan wakil gubernur utama adalah jebakan karena tidak memiliki dasar hukum jelas sehingga akan menghilangkan kedekatan antara kraton dengan rakyat DIJ. Perlakukan tak adil ini, merupakan lanjutan sikap pemerintah selama ini yang juga enggan mengakui keberadaan keratin lain di Nusantara. ”Kalau begini terus, terkesan diombang-ambingkan dan lebih baik merdeka,” teriaknya.


Pada jalan sehat yang intinya kirab budaya mendukung penetapan ini juga ditampilkan pula empat ekor gajah milik Kebun Binatang Gembiraloka. Hewan berukuran raksasa tersebut berperan sebagai cucuk lampah atau membuka jalan sehat.


Selain itu, ada kesenian daerah seperti reog dari Kulonprogo dan Prajurit Bregodo dari Sleman. Rombongan gajah yang menjadi pembuka jalan, pertama kali dilepas oleh KBH Condrokusumo. Gajah kemudian berjalan dan diikuti masyarakat yang mengikuti aksi tersebut.


Tampak hadir dalam cara yang dimulai sekitar pukul 06.00 ini hadir Bupati Bantul Hj Sri Suryawidati, Wakil Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti, dan sejumlah Kerabat Kraton Jogja. Peserta aksi ini mencapai kurang lebih empat ribu masyarakat yang saat acara jalan sehat mememunuhi jalan sekitar beteng. (eri)





Translate Using Google Translate May Need Grammar Correction

There is a Spirit of Freedom in Decision Support

YOGYAKARTA - Action support for the process of discussing the core RUUK DIJ determination by the community never goes out. As happened yesterday (17 / 4), the Healthy Way Mubeng Beteng golong gilig Stipulation. Thousands of people united DIJ supports lane and Sri Paduka Paku Alam who now occupy positions of governor and vice governor.


The event was also filled with carnival culture, mass calisthenics, and ends it as a healthy way konsolidadi supporting the establishment and support to representatives of the people in Senayan. They are asking members of the House of Representatives Commission II to participate in particular features memperjuangan DIJ.

"We will continue to strive to maintain the privilege DIJ only with determination until the last drops of blood," said Coordinator of People's Movement of Mataram (furious) Wishihasto WP, who participated as an organizer of this action, yesterday (17 / 4).

Street action on the sidelines of a healthy, younger brother of King Palace lane X ie GBPH Prabukusumo DIJ ready independent states of society if the government ignored the people's attitudes DIJ. "All must be ready, why not? If the government does not appreciate (privilege) Jogjakarta, why should we beg? I'm sure the community will support, "said Gusti Prabu, greeting familiar.

Former Democratic Party Chairman DPD this DIJ deplore the attitude of government and among representatives of the people who seemed not to listen to the aspirations of the people of Jogjakarta. This, he argues, be a bad omen of the current administration who do not follow the example of the attitude of the leaders of the past.

"If the current leaders are willing to see the full story DIJ merger, of course they can be just as Sri Sultan HB IX and Sri Paduka Pakualam VIII. The two main characters in Jogjakarta is in the process of merging itself solely to the Unitary Republic of Indonesia to the community in Jogjakarta, "he explained.
KONI Chairman DIJ this telling, the father when combined with the Unitary Republic of Indonesia is actually not questioned Jogjakarta province or region would be a provincial level special. For the first governor in Jogjakarta is the most important thing is to maintain the sovereignty of the people DIJ from the Dutch colonial occupation.

"My father never questioned anything. But why even the government is now making an issue? I'm afraid the discussion (RUUK) politicized. There Setgab coalition and so on, the full pressure (pressure) political. Until now becomes a question mark for me, why not, "he said, surprised.

Gusti Prabu assess discourse governor and deputy governor of the primary is a trap because it has no clear legal basis that would eliminate the closeness between people's palace with DIJ. Treat this unjust, a continuation of the government's attitude during this which is also reluctant to admit the existence of other keratin in the archipelago. "If this continues, impressed and swayed better independence," he shouted.

In a healthy way that essentially supports the establishment of this cultural carnival also featured four elephants also belongs Gembiraloka Zoo. Giant-sized animals such as a front line role lampah or pave the way healthy.
In addition, there are areas such as arts and Soldiers reog of Kulonprogo Bregodo of Sleman. Elephant troupe to pave the way, was first released by KBH Condrokusumo. Elephant then walked and followed the community that follows the action.

Appear to be present in a way that began around 0600 is present Bantul Regent Sri Hj Suryawidati, Deputy Mayor of Yogyakarta Haryadi Suyuti, and a number of relatives of Kraton Jogja. Participants of this action reaches approximately four thousand people who when healthy walk event mememunuhi way around Beteng.

No comments:

Post a Comment

loading...
Disclaimer: Gambar dan video artikel pada website ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain. Hak cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber tersebut. Jika ada masalah terkait hal ini, Anda dapat menghubungi kami disini.

Post Bottom Ad

Pasang Iklan Rp. 100.000,-/Bulan

Form Lowongan Kerja (FREE)