Sabtu, 30 April 2011

Konvoi hura-hura sepeda motor disertai aksi corat-coret seragam sekolah pasca-Ujian Nasional (UN) SMA/SMK/MA 2011 yang terjadi di beberapa kota besar di Indonesia cukup memprihatinkan.


Bagaimana tidak,UN yang baru saja usai seolah-olah dimaknai sebagai pencapaian puncak karier akademik mereka. Pakaian seragam yang semestinya masih baik digunakan dan masih layak disedekahkan ke siswa yang kurang mampu, dicorat-coret hanya untuk meluapkan kegembiraan yang emosional.Para pelajar sepertinya telah yakin bahwa mereka akan lulus UN dan oleh karena itu, mereka pantas merayakan kegembiraannya di jalan raya dengan cara-cara yang kurang terpuji.



Nilai-nilai moralitas yang diajarkan selama mengenyam pendidikan sirna hanya karena kegembiraan dan luapan emosi sesaat. Apakah persoalan tersebut menyangkut krisis identitas? Pakar psikologi,Grotevant dan Cooper (1998), menyatakan bahwa masa remaja adalah masa pencarian identitas di mana mereka sering kali mengembangkan identitas personal yang unik dan berbeda dengan orang lain.


Pencarian identitas pada masa tersebut menjadi lebih kuat sehingga mereka berusaha untuk mencari identitas dan mendefinisikan kembali siapakah mereka saat ini dan akan menjadi siapakah mereka di masa akan datang. Dalam konteks konvoi motor disertai corat-coret pakaian seragam pasca-UN,para pelajar sesungguhnya ingin menunjukkan siapa mereka sesung-guhnya, tetapi dengan cara yang keliru. Mereka tak peduli lagi apakah yang mereka lakukan mengganggu orang lain atau tidak, atau bahkan mencoreng nama baik sekolah mereka.


Yang ada di benak mereka adalah mereka telah lepas dari “cobaan” dan sekaligus menegaskan adagium yang direkayasa: “saya konvoi dan coratcoret, maka saya ada”. Dalam teks dan imaji budaya pop,pementasan sikap tidak terpuji ini dijadikan cara untuk mengomunikasikan pesan peringatan, ancaman,horor, identitas, dari suatu individu/kelompok ke individu/kelompok lainnya.


Tak jarang hal ini sengaja dipertontonkan sehingga menjadi semacam “horrortainment”, yang sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah pelakunya. Sikap-sikap tak terpuji ini dianggap sebagai hiburan untuk saluran eskapisme, katarsis, dan bahkan ritualisme. Kita sebagai orang tua harus waspada terhadap fenomena yang sesat ini.


Memfasilitasi


Dalam upaya membantu dan memfasilitasi siswa menemukan identitas dirinya, agar tidak mengarah pada perbuatan yang tercela,Woolfolk (1995) menyarankan empat hal. Pertama, berilah para siswa informasi tentang pilihan-pilihan karier dan peran-peran orang dewasa. Kedua, membantu siswa untuk menemukan caracara untuk memecahkan masalah pribadinya. Ketiga, bersikap toleran terhadap tingkah laku remaja yang dipandang aneh, seperti dalam berpakaian sepanjang masih berada pada koridor kepantasan.


Keempat, memberi umpan balik yang realistis terhadap siswa tentang dirinya. Saat ini kita menghadapi arus globalisasi yang tak ada satu pun kekuatan mampu mencegahnya. Dalam kehidupan global, batas-batas negara, baik secara fisik-geografik maupun teritorial politik,menjadi tidak penting lagi. Justru faktor yang paling penting bagi eksistensi suatu bangsa adalah dikuasainya teknologi informasi.


Penguasaan teknologi informasi memerlukan kerja keras dan keunggulan kompetitif semua komponen bangsa, terutama para generasi penerus bangsa yang masih mengenyam pendidikan. Untuk menciptakan keunggulan kompetitif, kita memerlukan inovasi yang pesat dalam dunia pendidikan. Beragam kreativitas dan inovasi yang dimiliki para pelajar sudah selayaknya difasilitasi untuk menciptakan karya dan prestasi yang monumental.


Para siswa juga akan berhadapan dengan dampak negatif globalisasi, antara lain pola hidup konsumtif, individualistis, gaya hidup penikmat teknologi semata, dan gaya hidup hedonistis. Ketika para siswa terjebak dalam pusaran negatif globalisasi, maka mereka hanya menjadi objek dari kepentingan, bukan sebagai subjek bagi arsitektur masa depan mereka. Atas dasar inilah,diperlukan konsep diri dan kesadaran diri akan perlunya memiliki keunggulan kompetitif dan komparatif di masa yang akan datang.


Pendidikan Karakter


Di titik inilah, pendidikan karakter menjadi penting karena tidak sekadar mengajarkan mana yang benar dan mana yang salah. Lebih dari itu, pendidikan karakter menanamkan kebiasaan tentang hal-hal yang baik,unggul,positif,terpuji.Sehingga, peserta didik menjadi lebih paham (domain kognitif), dapat merasakan (domain afektif); dan mampu melaksanakannya (domain psikomotoris) hal-hal yang baik, positif, dan terpuji itu.


Meski demikian,hal lain yang tidak boleh dilupakan adalah bagaimana kita menyusun dan mensistematisasikan pendidikan karakter ini melalui pendidikan formal, informal, maupun nonformal di tengah-tengah globalisasi yang semakin merasuki relung kehidupan para siswa kita.


Jika hal tersebut dapat dilakukan dengan baik, terarah, dan terprogram, maka nilainilai ketakwaan, kejujuran, sportivitas, keberanian, kedisiplinan, saling menghormati dan menghargai orang lain, simpati,empati,dan sejenisnya menjadi sesuatu yang menyatu dalam diri peserta didik sejak mereka mengenyam pendidikan dasar.


Setiap guru sudah seharusnya memasukkan nilainilai pendidikan karakter ke dalam semua bidang studi pelajaran. Sementara itu, pimpinan sekolah sudah selayaknya mendukung program tersebut dengan menyiapkan fasilitas pendukung yang memadai. Mengapa demikian?


Karena, guru dan institusi sekolah adalah dua subjek yang tidak bisa dipisahkan dan harus berjalan seirama dan saling mendukung, jika tidak, maka tujuan yang hendak dicapai sukar untuk diraih. Jika pendidikan karakter dapat diimplementasikan ke semua mata pelajaran, maka aksi konvoi hura-hura dan aksi corat-coret seragam sekolah pasca-UN tidak lagi menjadi ritual pelajar.●


PROF SUYANTO, PH.D.
Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta,
Plt Dirjen Pendidikan Dasar Kemdiknas




Translate Using Google Translate May Need Grammar Correction


Student Conduct Post-National Examination


Rah-rah convoy accompanied motorcycle action doodles school uniform post-National Examination (UN) SMA / SMK / MA 2011, occurred in several major cities in Indonesia is quite alarming.


How not, the UN had just finished as if defined as the peak achievement of their academic careers. Uniform which should still be well-used and still worth wherewithal to students who are less capable, dicorat-scratch just to vent emosional.Para excitement seemed to have convinced students that they will pass the national examination and therefore, they deserve to celebrate his joy on the highway with ways that are less commendable.


The values ​​of morality that is taught during education disappear just because of the excitement and momentary outburst. Whether the issue involves an identity crisis? Psychologists, Grotevant and Cooper (1998), states that adolescence is a period of identity quest where they often develop a unique personal identity and different from others.


Search for identity in this period to become stronger so that they are trying to find identity and redefine who they are today and who are they going to be in the future. In the context of motor convoy accompanied scribble a post-UN uniforms, the students really wanted to show who they are in fact, but the wrong way. They do not care anymore whether they do or do not disturb other people, or even tarnish the good name of their school.


What was on their minds is that they have been separated from the "temptations" and simultaneously confirms the adage that engineered: "I convoy and coratcoret, therefore I am." In text and images of pop culture, staging this attitude improperly used as a way to communicate the warning messages, threats, horror, identity of an individual / group to individuals / groups.


Not infrequently it is deliberately shown to be a kind of "horrortainment", which does not indicate guilt perpetrators. Attitudes are regarded as not praiseworthy entertainment for the channel escapism, catharsis, and even ritualism. We as parents must be vigilant against this perverse phenomenon.


Facilitating


In an effort to assist and facilitate students to discover her identity, so as not to lead to a disgraceful act, Woolfolk (1995) suggest four things. First, give the students information about career choices and adult roles. Second, helping students to find ways to solve personal problems. Third, being tolerant of adolescent behavior that are considered odd, as in the dress was still in the corridor along propriety.


Fourth, give realistic feedback to the students about him. Today we face the globalization that is not there any force able to prevent it. In the life of global, national borders, both physical-geographic and political territories, to be not important anymore. Indeed the most important factor for the existence of a nation is mastered information technology.


Mastery of information technology requires hard work and competitive advantage of all the component nations, especially the future generation who still get an education. To create a competitive advantage, we need rapid innovation in education. A variety of creativity and innovation that has facilitated the students is only fitting to create a monumental work and achievements.


Students also will deal with the negative impact of globalization, among other consumptive lifestyle, individuality, lifestyle connoisseurs of technology alone, and hedonistic lifestyle. When students are stuck in a negative vortex of globalization, then they just become the object of interest, not as subjects for their future architecture. Based on this, it takes self-concept and self-awareness of the need to have competitive and comparative advantages in the future.


Character Education


At this point, character education is important because it is not simply teach what is right and wrong. More than that, character education inculcate habits of good things, excellent, positive, terpuji.Sehingga, learners become more understanding (cognitive domain), can feel (affective domain), and able to do so (domain psikomotoris) matters A good, positive, and commendable that.


However, another thing that should not be overlooked is how we prepare and mensistematisasikan this character education through formal education, informal and formal in the midst of globalization that increasingly permeate our niche of students' lives.


If it can be done with good, targeted, and programmed, then the values ​​of piety, honesty, sportsmanship, courage, discipline, mutual respect and respect for others, sympathy, empathy, and the like into something that blends in self-learners since they get an education basis.


Each teacher is supposed to incorporate the values ​​of character education into all fields of study subjects. Meanwhile, school leaders are properly support the program by preparing adequate supporting facilities. Why is that?


Because, teachers and school institutions are two subjects that can not be separated and have to walk in rhythm and harmony, if not, then the goals to be achieved is difficult to achieve. If character education can be implemented to all subjects, the convoy of rah-rah action and action doodles school uniform post-examination is no longer a student of ritual. ●


PROF SUYANTO, Ph.D.
Professor of State University of Yogyakarta,
Acting Director General of Primary Education Kemdiknas


EmoticonEmoticon