Ratusan Warga Yogyakarta Mlaku Mubeng Benteng - Jogja Info [dot] net

“Nderek Tumut Nguri-uri Kabudayan Jawi”


Breaking

Home Top Ad

Post Top Ad

Friday, 8 April 2011

Ratusan Warga Yogyakarta Mlaku Mubeng Benteng

YOGYAKARTA--MICOM: Bencana demi bencana yang terus merundung beberapa daerah di Indonesia, mulai dari banjir bandang, gempa bumi, hingga gunung meletus, membuat masyarakat Yogyakarta prihatin.


Malam itu, Kamis (7/4), di Alun-Alun Utara Yogyakarta, tepatnya di depan Pagelaran Keraton Alun-alun Utara, ratusan masyarakat Yogyakarta, mengadakan ritual untuk memulai Lampah Ageng, atau sebuah ritual Mlaku Mubeng Benteng.


Sebelum Mubeng Benteng, ada sebuah tarian yang dibawakan dua orang penari, lelaki dan perempuan. Dan sebuah ritual memecah kendi di atas batu yang besar. Yang mengartikan bersatunya antara air dengan benda lainnya.

"Air itu akan meresap dan menyatu padu ke batu," kata Mbah Gondo, kordinator acara Lampah Ageng.


Lampah Ageng, atau sebuah ritual Mlaku Mubeng Benteng pada malam itu, mengambil tema Subawa Rasa Kaki Gunung Nini Jaladri, Gerakan Api Semangat Keistimewaan.


Menurut Mbah Gondo, diadakannya acara Mubeng Benteng ini sebagai bentuk keprihatinan warga Yogyakarta terhadap bencana yang terus-menerus merundung bangsa Indonesia. Hal ini dikarenakan unsur-unsur alam yang ada di indonesia tidak bisa menyatu.


Dengan berbagai ritual dan Mlaku Mubeng Benteng, keharmonisan antara unsur-unsur alam dapat bersatu dan harmonis lagi. Keharmonisan, lanjut Mbah Gondo, adalah menyatunya antara unsur api, air, dan angin, juga unsur lainnya.


Selain itu, Yogyakarta sebagai daerah yang istimewa, diharapkan mampu memberikan spirit keistimewaannya itu terhadap Indonesia, sehingga meresap kepada semua aspek. Keistimewaan universal, dari aspek pendidikan, kebudayaan, dan lainnya," kata Mbah Gondo.


Dalam acara tersebut, selain diikuti masyarakat Yogyakarta secara umum, juga hadir budayawan dan rohaniawan. Dan, meskipun malam itu, Yogyakarta diguyur hujan, ratusan warga Yogyakarta masih tetap melakukan ritual Lampah Ageng, atau ritual Mlaku Mubeng Benteng.


"Ini demi keharmonisan Indonesia, dari Yogyakarta, untuk keharmonisan Indonesia, dan keistimewaan Universal," kata Mbah Gondo. (OL-12)





Translate using Google Translate May Need Grammar Correction


Hundreds of residents Yogyakarta Walking around Benteng


YOGYAKARTA - MICOM: Disaster after disaster that continues to afflict several regions in Indonesia, ranging from flash floods, earthquakes, up to the mountain erupted, making the people of Yogyakarta are concerned.


That night, Thursday (7 / 4), in the North Square of Yogyakarta, precisely in front of the Exhibition Palace Square North, hundreds of people of Yogyakarta, held a ritual to start Lampah Ageng, or a ritual Mlaku Mubeng Fortress.


Before Mubeng Citadel, there is a dance that brought the two dancers, male and female. And a pitcher in the ritual breaking of a large stone. Which defines unification between the water with other objects.


"The water would seep into rock solid and unified," said Mbah Gondo, coordinator of the event Lampah Ageng.


Lampah Ageng, or a ritual Mlaku Mubeng Castle at night, taking the theme Subawa Nini Jaladri Mount Leg Pain, Movement of Fire Spirit of Privileges.


According to Mbah Gondo, the holding of this event as a form of Fort Mubeng concerns of Yogyakarta to disasters that constantly afflicts the nation of Indonesia. This is because the natural elements that exist in Indonesia can not be fused.


With a variety of rituals and Mlaku Mubeng Castle, the harmony between the elements of nature can be united and harmonious again. Harmony, continued Mbah Gondo, is the merging of the elements fire, water, and wind, as well as other elements.


In addition, Yogyakarta as a special area, are expected to provide the distinctive spirit of Indonesia, so that permeate to all aspects. Privileges universal, from the aspect of education, culture, and others, "said Mbah Gondo.


In the event, in addition followed in general the people of Yogyakarta, was also present cultural and clergy. And, though the night, rain Yogyakarta, Yogyakarta, hundreds of people still do Lampah Ageng ritual, or ritual Mlaku Mubeng Fortress.


"This is for the sake of harmony Indonesia, from Yogyakarta, Indonesia to harmony, and the privilege of Universal," said Mbah Gondo. (OL-12)

No comments:

Post a Comment

loading...
Disclaimer: Gambar dan video artikel pada website ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain. Hak cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber tersebut. Jika ada masalah terkait hal ini, Anda dapat menghubungi kami disini.

Post Bottom Ad