Seribu Perempuan Yogya Dukung Sultan - Jogja Info [dot] net

“Nderek Tumut Nguri-uri Kabudayan Jawi”


Breaking

Home Top Ad

Post Top Ad

Friday, 22 April 2011

Seribu Perempuan Yogya Dukung Sultan

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Sekitar seribu perempuan Yogyakarta, Kamis (21/4/2011) siang memperingati Hari Kartini dengan unjuk rasa. Mereka menyerukan dukungan terhadap keistimewaan Yogyakarta dengan menetapkan Sri Sultan Hamengku Buwono X dan Paku Alam IX, sebagai gubernur dan wakil gubernur.


"Aksi Perempuan Yogya untuk Keistimewaan" ini diawali dari Bangsal Kepatihan atau kantor Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Dengan membawa berbagai macam spanduk dan poster serta simbol organisasinya, longmarch menyusuri jalan Malioboro.


Koordinator aksi, Nahiyah J Faraz, mengemukakan bahwa aksi tersebut dilakukan karena merasa prihatin terhadap proses pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) Keistimewaan Yogyakarta yang dinilai lamban.

Menurut Nahiyah, perempuan Yogyakarta sangat kecewa dengan sikap pemerintah pusat yang tidak menghargai jasa dan pengorbanan para pemimpin dan masyarakat DIY untuk mendukung kemerdekaan Indonesia.


Aksi tersebut diakhiri dengan pembacaan Ikrar Perempuan Yogyakarrta. Dalam ikrarnya, mereka menyatakan mendukung penetapan Sri Sultan Hamengku Buwono X dan Paku Alam IX yang tengah bertahta sebagai gubernur dan wakil gubernur. Selain itu, mereka mendesak pemerintah pusat segera menyelesaikan pembahasan RUU Keistimewaan DIY.





Translate Using Google Translate May Need Grammar Correction


Millennial Women From Yogya Support Sultan


YOGYAKARTA, KOMPAS.com - About a thousand women in Yogyakarta on Thursday (21/04/2011) afternoon commemorate Kartini's Day with a rally. They called for support for the privilege of Yogyakarta to establish Sri Sultan Hamengkubuwono X and Paku Alam IX, as governor and vice governor.


"Action Woman Yogya to feature" is started from a Ward Kepatihan or the office of Governor of Yogyakarta Special Region (DIY). By bringing a variety of banners and posters as well as a symbol of his organization, longmarch down the street Malioboro.


Action coordinator, Nahiyah J Faraz, argued that the action was done because it was concerned about the process of discussion draft Law (Draft) The specialty of Yogyakarta which was considered slow.


According Nahiyah, women Yogyakarta very disappointed with the attitude of central government who do not appreciate the service and sacrifice of the leaders and the DIY community to support Indonesia's independence.


The action concluded with the reading of the Pledge of Women Yogyakarrta. In ikrarnya, they expressed support for the establishment of Sri Sultan Hamengkubuwono X and Paku Alam IX, who was enthroned as the governor and deputy governor.In addition they urged the central government to complete discussion of the bill Privileges DIY .

No comments:

Post a Comment

loading...
Disclaimer: Gambar dan video artikel pada website ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain. Hak cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber tersebut. Jika ada masalah terkait hal ini, Anda dapat menghubungi kami disini.

Post Bottom Ad

Pasang Iklan Rp. 100.000,-/Bulan

Form Lowongan Kerja (FREE)