Panggih, Prosesi Paling Sakral Dhaup Ageng Pakualaman - Jogja Info [dot] net

“Nderek Tumut Nguri-uri Kabudayan Jawi”


Pasang Iklan Banner 790x90
Harga Rp. 100.000,-/Bulan

Breaking

Home Top Ad

Pasang Iklan Rp. 100.000,-/Bulan

Post Top Ad

Pasang Iklan Rp. 100.000,-/Bulan

Saturday, 5 January 2019

Panggih, Prosesi Paling Sakral Dhaup Ageng Pakualaman

Yogyakarta - Sederet upacara adat dilangsungkan dalam pelaksanaan dhaup ageng calon putra mahkota Puro Pakualaman, BPH Kusumo Bimantoro dengan dr Maya Lakshita Noorya. Di antara yang paling sakral adalah prosesi panggih, apa itu?

Tim Pranatan Lampah-lampah Dhaup Ageng Puro Pakualaman, Mas Ngabehi Citropanambang, menjelaskan bahwa di dalam tradisi pernikahan Jawa dikenal dua prosesi akad nikah. Pertama prosesi akad nikah sesuai ajaran kedua, kedua panggih.

Menurutnya, sebelum prosesi panggih dilangsungkan kedua mempelai tidak diperkenankan bertemu. Meskipun keduanya sudah sah menjadi suami-istri, karena sudah melangsungkan prosesi akad nikah sesuai tuntutan agama.

"Panggih itu adalah tempat detik bertemunya mereka (kedua calon mempelai), sehingga sebelum upacara panggih tidak boleh bertemu," jelas Citropanambang kepada wartawan di media center dhaup ageng, Sabtu (5/1/2019).

Prosesi panggih ini juga dilaksanakan di dhaup ageng Puro Pakualaman. Setelah mengikrarkan akad nikah di Masjid Besar Pakualaman, BPH Kusumo dan dr Maya secara terpisah menuju Puro Pakualaman untuk mengikuti prosesi panggih.

Sudibyo, salah satu Tim Pranatan Lampah-lampah Dhaup Ageng Puro Pakualaman, menuturkan prosesi panggih dhaup ageng dilangsungkan di Tratag Bangsal Sewatama Puro Pakualaman siang tadi. Panggih dilangsungkan usai prosesi akad nikah.

"Saya sempat melihat ada balang gantal tadi seperti lazimnya sebuah upacara panggih. Kemudian juga ada ramupaka membersihkan kaki suami dengan menggunakan air dari bunga ada di dalam bejana," tuturnya.

Salah satu tahapan prosesi panggih yakni keharusan mempelai putri membasuh kaki mempelai pria. Prosesi ini pula yang dilakukan dr Maya Lakshita Noorya kepada suaminya, BPH Kusumo Bimantoro. Lantas apa maknanya?

"Saya kira ini hanya simbol kesetiaan seorang istri terhadap suami, jadi kalau sekarang ada yang menafsirkan itu subordinasi. Tapi dalam tradisi kita adalah wujud kebaktian seorang istri terhadap suami," ujar Sudibyo.

"Artinya dengan upacara itu ada semacam kesepakatan bahwa seseorang istri dan suami tentu saja kalau sekarang harus saling setia satu sama lain, saling berbakti, tidak boleh satu pihak saya kira," pungkas dia.

Sumber Berita & Gambar : DetikNews

No comments:

Post a Comment

loading...
Disclaimer: Gambar dan video artikel pada website ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain. Hak cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber tersebut. Jika ada masalah terkait hal ini, Anda dapat menghubungi kami disini.

Post Bottom Ad

Pasang Iklan Rp. 100.000,-/Bulan

Form Lowongan Kerja (FREE)