|

Cakupan ASI di DIY Rendah

HARIAN JOGJA - DANUREJAN : Cakupan air susu ibu (ASI) eksklusif bagi bayi di DIY cukup rendah dan menurun dalam dua tahun terakhir. Rendahnya pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif menjadi pemicu masalah ini. Konselor air susu ibu (ASI) DIY, Amiruddin SB menegaskan cakupan ASI eksklusif di DIY masih jauh dari target nasional yang mencapai 80%. Tercatat pada 2006 di DIY hanya mencapai 36,51%. Sedangkan pada 2007 mencapai angka 33,09 %.

“DIY masih jauh dari target, saat ini baru transisi,”ujarnya pada acara Pertemuan Sosialisasi Desa Siaga di Kompleks Kepatihan kemarin.

Padahal, penggunaan ASI eksklusif enam bulan menurutnya bisa bermanfaat untuk mencegah angka kematian balita, menjaga sistem kekebalan tubuh balita, dan mencegah obesitas ibu. Penggunaan ASI eksklusif terbukti mampu menurunkan kasus angka kematian bayi dan balita di DIY.

Data yang ada menunjukkan penurunan kasus kematian bayi, dari 24 kasus menjadi 17 kasus yang pada beberapa tahun terakhir. Sedangkan kasus kematian balita mencapai penurunan dari 30 kasus ke 19. Dinkes mentargetkan angka kematian bayi mencapai 16,25% pada 2008. Sedangkan target penurunan angka kematian balita sebesar 18,51%.

Sayangnya, penggunaan ASI eksklusif mengalami persoalan. Salah satu penyebabnya juga karena gencarnya promosi susu formula, sehingga muncul pelanggaran terhadap Keputusan Menteri Kesehatan No 237/97 yang mengatur pemasaran pengganti ASI.

Penggunaan susu formula tetap harus menggunakan resep dokter untuk mengurangi resiko. “Mesti ada resep dokter, tidak semua susu formula aman dikonsumsi,”kata dia.

Di sisi lain, rendahnya kuantitas konselor yang terlatih, dan belum lengkapnya fasilitas umum yang menyediakan ruang laktasi juga mempengaruhi cakupan asi bagi balita, lingkungan masyarakat yang kurang mendukung juga menjadi kendala utama.

Amir menambahkan dari hasil penelitian, menyusui pada satu jam pertama kehidupan bisa menyelamatkan lebih dari satu juta bayi. Karena, tindakan tersebut akan membantu keselamatan bayi setelah persalinan. Kandungan zat colestrum berwarna kekuning-kuningan sebenarnya juga memiliki kandungan gizi yang tinggi, namun para Ibu kebanyakan belum memahami sepenuhnya.

Gerakan menyusui selama enam bulan pertama, menjadi tanggung jawab setiap Ibu untuk kesehatan bayi. Pengetahuan yang benar seperti melaksanakan kontak kulit bayi setelah lahir, mendorong ibu melekatkan bayi pada payudara, dan melakukan perawatan ibu bersama bayi menjadi bagian penting untuk mencapai target pemerintah.

Para Ibu sebaiknya juga menghindari penggunaan dot atau kempeng pada enam bulan pertama. Selain itu, ibu juga diwajibkan untuk tidak memberi makanan dan minuman apapun kecuali ada indikasi medik.

CAKUPAN ASI EKSKLUSIF Di DIY (%)
Kabupaten/Kota 2006 2007
Jogja 28,6 29,51
Bantul 37,7 30,7
Kulonprogo 45 32,6
Gunungkidul 29,6 27,22
Sleman 41,6 42,4
Total 36,5 33

Sumber : Dinkes Provinsi DIY

Oleh Shinta Maharani

Posted by Wawan Kurniawan on 17.05. Filed under , , , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response

Blog Archive

Labels

Recently Added

Recently Commented