|

MANFAATKAN KULIT SISA KERAJINAN ; Rambak Pucung Laku Keras

BANTUL (KR) - Memanfaatkan sisa kulit yang dibuat kerajinan, sejumlah warga Pucung Wukirsari Imogiri kembangkan industri rumahtangga pembuatan rambak. Usaha sampingan ini bisa menjadi sumber tambahan penghasilan sekaligus meminimalisir limbah kulit. Harga rambak di pasaran juga cukup tinggi, mencapai Rp 40 ribu -Rp 50 ribu per kilogram.
Sedikit berbeda dengan rambak kebanyakan. Rambak Pucung ini bentuknya panjang, kecil-kecil seperti belut dan tidak beraturan. Namun demikian rasanya tetap enak, renyah dan gurih. Di pasaran, rambak Pucung ini banyak diminati. Untuk memenuhi permintaan pasar lokal di wilayah Bantul saja masih kurang.

Ny Warsiah salah seorang pembuat rambak mengatakan, setiap 2 kali seminggu dia bisa menjual 10-12 kilogram rambak. "Saya hanya menjual ke Pasar Imogiri. Itu pun masih banyak konsumen yang tidak kebagian. Hanya dalam waktu beberapa jam langsung diserbu pembeli," katanya kepada KR di kediamannya, Rabu (3/12).
Rambak buatannya ini berasal dari kulit kerbau, kambing dan sapi. Bahan bakunya dari sisa (pinggiran) kulit wayang yang tidak termafaatkan.
"Ketika membuat kerajinan wayang kulit, seringkali ada kulit pinggiran yang tersisa. Ini yang dibuat rambak," terangnya. Kebanyakan konsumen memanfaatkan rambak untuk dimasak sambal goreng, oseng-oseng atau langsung dimakan begitu saja.
Warsiah yang sudah 4 tahun membat rambak ini mengatakan, proses pembuatannya tidak sulit. Kulit sisa kerajinan dicuci bersih. Untuk menetralkan, kulit dicuci dengan air kapur kemudian dibumbui bawang putih dan garam lalu dijemur. Setelah kering diungkep dengan minyak goreng selama setengah jam kemudian digoreng dalam minyak panas.
Warsiah juga tidak menggunakan bahan pemutih dalam proses pembuatannya, sehingga rambak buatannya berwarna kecoklatan. "Yang penting aman dan tidak merugikan konsumen," ucapnya. Dalam memilih bahan baku, dia juga harus hati-hati. Tidak menggunakan kulit buatan pabrik yang sudah tercampur bahan-bahan kimia sehingga mengandung racun. Kulit pabrikan ini biasanya berwarna kehitaman.
Meski hanya memanfaatkan bahan sisa tapi harga jual rambak Pucung cukup tinggi. Sebab harga kulit mentah juga sudah mahal. Satu lembar kulit kerbau misalnya, bisa mencapai Rp 800 ribu. Sedang untuk bahan pendukung lainnya seperti minyak goreng dan kayu untuk bahan bakar relatif murah.(R-4)-n

Posted by Wawan Kurniawan on 16.37. Filed under , , , , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response

Blog Archive

Labels