|

Rektor Tawarkan Dialog Hati ke Hati

RADAR JOGJA- Rektor UGM Prof Dr Sudjarwadi menanggapi penolakan dan tuntutan PKL Bulevar dengan kalem. Dia merujuk kembali pada visi misi UGM. "Kalimat penutup dari visi UGM adalah mengabdi kepada kepentingan dan kemakmuran bangsa. PKL adalah bagian dari bangsa, bagian dari UGM. Selama ini, PKL belum berkomunikasi dari hati ke hati dengan kami. Padahal UGM punya banyak ahli yang bisa meningkatkan kualitas dan mutu usahanya," paparnya yang pagi kemarin mengenakan kemeja putih.

Lebih lanjut, dia menyesalkan pandangan PKL yang merasa dirugikan dengan adanya relokasi ini. "Relokasi ini adalah bentuk ketulusan UGM memikirkan rakyat. Kami juga memikirkan mahasiswa. Kami ingin mahasiswa mendapatkan makanan yang terjamin. Kesehatan adalah modal untuk berprestasi," tuturnya.

Secara implisit, Sudjarwadi "mengultimatum" para PKL agar patuh pada keputusan yang sudah dibuat rektorat. "Kami menganggap PKL sebagai warga UGM. Tetapi UGM punya aturan. Bila tidak sesuai, para PKL boleh menghentikan posisinya sebagai warga UGM," kata usai meletakkan batu pertama pembangunan food court untuk PKL itu.

Meskipun di saat yang sama demonstrasi tengah berlangsung, Sudjarwadi tetap yakin relokasi adalah langkah tepat. "Ini (pembangunan tempat food court) adalah langkah strategis yang sudah pada tempatnya," tegasnya.

Pengelola Gama Multi Usaha Mandiri (GMUN) Slamet Sudjarwo meyakinkan pembangunan food court ini tidak akan merugikan PKL. Rencananya, food court baru ini akan menggunakan areal di antara gedung BNI Cabang UGM dan Gelanggang Mahasiswa.

Food court ini akan dibangun dengan konsep terbuka. PKL akan dibagi menjadi dua, gerobak besar dan gerobak kecil. "Juga kami sediakan lesehan. Pokoknya, kami berusaha membuat tempat ini nyaman agar omzet penjual tidak turun," tuturnya.

Penjelasan Slamet tentang desain food court yang baru itu bersamaan dengan aksi PKL Bulevar. Tuntutannya masih sama, menolak relokasi. Dalam pembacaan sikap, Ketua Aliansi PKL Suprihono menyesalkan perlakuan UGM terhadap PKL. "Kami sering dijadikan kambing hitam atas semua bentuk kesemrawutan, kekumuhan, dan masalah lainnya. Ujung-ujungnya, kami selalu menerima penggusuran," tukasnya.

Awalnya, para demonstran menyuarakan tuntutannya di depan pintu gerbang UGM. Semakin siang, para demonstran semakin masuk ke dalam areal kampus. Mereka kemudian menuju kantor PT Gama Multi Usaha Mandiri yang terletak tak jauh dari pintu gerbang UGM.

Suasana tegang sempat terjadi antara para PKL dan Satgas PKL SKKK UGM. Para PKL yang berjumlah sekitar 50 orang mendesak pengurus PT Gama Multi Usaha Mandiri keluar dan menemui demonstran. Namun tuntutannya tidak dipenuhi. Demonstran semakin maju sehingga jarak antara Satgas PKL SKKK UGM dan para demonstran tinggal sejengkal. Belasan petugas berseragam biru putih itu tetap membuat barikade pengaman untuk mencegah demonstran maju lebih jauh.

Bentrok antara PKL dan Satgas PKL urung terjadi. Suprihono akhirnya mengakhiri demo dengan membacakan pernyataan sikap PKL tentang relokasi. "Ini hanya proyek gagah-gagahan UGM saja! Kami menuntut pencabutan SK rektor tentang usaha kecil di lingkungan kampus," katanya di tengah teriakan "Yang tolak penggusuran teriak lawan!!" yang disuarakan para PKL lainnya.

Belum diketahui pasti berapa dana yang dibutuhkan untuk membangun food court yang baru. Hanya saja, pihak BNI sudah menyanggupi menjadi donatur. Hal ini berkaitan dengan adanya MoU antara UGM dan BNI.

Direktur Pengelolaan dan Pemeliharaan Aset (PPA) UGM Dr Singgih Hawibowo mengatakan pembangunan diperkirakan selesai pada akhir Februari. Dan jika tempat relokasi selesai, PKL bisa segera menempati. ''Kawasan terlarang akan dijaga SKK agar tidak ada yang berjualan,'' tegas Singgih kepada koran ini. (cw10)

Posted by Wawan Kurniawan on 16.13. Filed under , , , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response

Blog Archive

Labels