|

SALAT IDUL ADHA 1429 H DIGUYUR HUJAN ; Kurban, Meningkatkan Peduli Sesama

YOGYA (KR) - Hujan yang mengguyur Yogyakarta, Senin pagi (8/12) membuat sejumlah tempat pelaksanaan jamaah salat Idul Idha yang semula disiapkan di tempat-tempat terbuka, dipindahkan ke masjid-masjid terdekat. Sedang yang tetap bertahan di lapangan, mengambil sikap mengajukan pelaksanaan salat sebelum hujan turun.

Di Alun-alun Utara, jamaah yang berdatangan sejak pukul 06.00 WIB terpaksa ‘diungsikan’ ke Masjid Gede Kauman. Karena, kapasitas masjid tidak memenuhi sejumlah jamaah melaksanakan salat di halaman, serambi, samping masjid dan beberapa tempat di sekitarnya. Banyak juga jamaah tetap khusuk melaksanakan salat di bawah guyuran hujan

Prof Dr Ali Ghufron Mukti MSc PhD dalam khotbahnya, mengajak para jamaah untuk mensyukuri nikmat yang diberikan Allah SWT, terutama nikmat kesehatan. “Kesehatan bukan segala-galanya tapi bisa mempengaruhi kehidupan. Dengan semangat kurban yang tinggi mari kita membangun masyarakat yang sehat dan sejahtera. Masyarakat sehat adalah yang menjaga pola makan sehat, halal dan thoyib,” terangnya.
Hujan juga memaksa panitia mengubah pelaksanaan salat Id di halaman Balaikota Yogyakarta ke Masjid Diponegoro. Sedang jamaah yang tidak tertampung melaksanakan salat di teras perkantoran di kompleks Balaikota dan sebagian tetap bertahan menunaikan salat dalam guyuran hujan.
Bertindak sebagai imam Kepala Depag Kota Yogyakarta H Nurudin SH MA. Sedang Ketua DPRD Kota, Arif Noor Hartanto SIP, sebagai khotib, mengatakan ibadah kurban harus didudukkan pada dimensi pencarian tingkat tauhid keimanan dan tauhid sosial yang prima. Ibadah kurban seringkali dipandang orang sebagai sebuah ibadah yang membutuhkan daya dukung materi yang tidak sedikit untuk membeli hewan kurban.
“Kadangkala kita alpa untuk menangkap makna filosofis yang terkandung dalam ibadah tersebut. Marilah kita bandingkan dengan pengorbanan Nabi Ibrahim AS ketika diperintahkan Allah SWT untuk menyembelih putranya, Ismail. Tentu tidak sebanding dengan harga seekor kambing atau sepertujuh bagian untuk lembu,”
ungkap Arif.
Ditambahkan, seringkali manusia merasa berat untuk melaksanakan kurban, karena lebih mengedepankan kecintaan manusia akan harta yang dimiliki dan munculnya sikap egoisme untuk berbagi dengan sesama. Padahal, menurutnya di dalam Alquran Allah SWT telah mengingatkan bahwa harta yang dimiliki bisa menjadi fitnah bagi diri sendiri. “Harta bukanlah perhiasan dan bekal terbaik untuk menghadap kepada-Nya, tetapi haruslah didudukan sebagai sarana untuk memperbanyak kualitas dan peningkatan kualitas peribadahan dengan berorientasi pada pencapaian kehidupan akhirat yang lebih baik, “ jelasnya.
Di lapangan Asrama Polisi Patuk, Ngampilan, anggota DPR RI, Totok Daryanto yang tampil sebagai khotib mengharapkan Idul Adha dapat menjadi refleksi, terkait dengan sejauh pengorbanan yang telah dilakukan selama ini. Selain itu, hari raya ini bisa sekaligus sebagai upaya menumbuhkan solidaritas sesama. Jika Hari Raya Idul Fitri dengan sebelumnya berpuasa, maka Idul Adha menumbuhkan jiwa pengurbanan.
Di Stadion Kridosono, Ustad Muhammad Jazir ASP mengatakan, mendekatkan diri pada Allah bisa dibuktikan dengan melaksanakan kurban dan senantiasa hidup dengan jiwa peduli atas nasib kaum dhuafa. Kepedulian terhadap sesama ini penting karena saat ini kaum dhuafa merupakan mayoritas masyarakat di Indonesia.
“Nilai utama dari semangat kurban adalah mendekatkan diri kepada Allah dengan mengoptimalkan peran kekhalifahan untuk memakmurkan bumi dan menyejahterakan seluruh manusia,” ujarnya.
Jazir menambahkan, berkurban adalah ibadah yang tinggi kepada Allah sebagai wujud keinginan mendekatkan diri kepada-Nya. Sekaligus berdimensi kemanusiaan karena bisa meringankan beban sesama dengan memberikan sebagian harta yang dimiliki pada fakir miskin dan kaum dhuafa.
Di LPP Yogyakarta, Jalan Urip Sumoharjo, salat Id dimajukan dari jadwal yang telah ditetapkan. Semula pelaksanaan salat Id akan dilakukan pukul 07.00 WIB, namun cuaca mendung, jadwal dimajukan setengah jam.
Dalam mendengarkan khotbah yang disampaikan KH Imam Subarno, jamaah selain masuk gedung LPP juga banyak yang berteduh di bawah pepohonan dan emperan toko dan rumah penduduk. Imam Subarno mengatakan, dengan mengumandangkan takbir, tahlil dan tahmid manusia menyadari bahwa dirinya adalah mahluk yang lemah dan hina di hadapan Allah.
“Sebagai mahluk yang dho’if kita hanya dapat berharap dan bermohon kasih sayang-Nya, agar perjalanan hidup kita mendapat keselamatan dan kebahagiaan, serta dijauhkan dari azab yang pedih,” tutur Imam seraya menambahkan dengan berkurban, generasi muda maupun tua dapat bercermin dari keteguhan dan kerelaan Nabi Ibrahim dan Ismail untuk berkurban demi mendapat ridha Allah.
Menurutnya, hikmah yang tersirat dalam Idul Adha ialah acuan semangat bagi generasi muda untuk siap menjadi insan yang teguh, tegar, berani berkurban dan pantang mundur dalam menghadapi tantangan dan rintangan dalam kehidupan sehari-hari.
Di Alun-alun Selatan Kraton Yogyakarta, Dr H Khoirudin Bashori, dalam khotbahnya mengingatkan jamaah agar meningkatkan kualitas hidup dalam segala aspek. Sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad SAW, orang yang beruntung adalah jika hari ini lebih baik dari kemarin, dan hari esok lebih baik dari sekarang. Kebaikan tersebut adalah untuk kebaikan dunia dan akherat. Amal kebaikan akan membawa manusia ke derajat yang tinggi, yaitu meninggal dengan khusnul khotimah,” jelasnya. (Tim KR)-a

Posted by Wawan Kurniawan on 16.43. Filed under , , , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response

Blog Archive

Labels