|

Tradisi Mempererat Persaudaraan

HARIAN JOGJA - KRATON: Malam 1 Sura di Jogja ditandai dengan upacara ritual mubeng beteng. Selain di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, acara juga dilaksanakan di Pura Pakualaman. Di sejumlah tempat seperti di Kaliurang dan Pantai Parangtritis, warga masyarakat juga menggelar acara serupa. Di Keraton ritual mubeng beteng diawali dengan doa di Bangsal Ponconiti. Sejak pukul 19.00 WIB terlihat ratusan para abdi dalem keraton sudah berkumpul untuk mempersiapkan acara.
Sementara di Puro Pakualaman malam 1 Sura diisi dengan pertunjukan wayang kulit semalam suntuk pada Minggu (28/12) lalu. Bertempat di halaman Pakualaman, wayang kulit diselenggarakan dengan dalang, Ki Sunarso Susilo Wardoyo (55) dengan mengusung lakon Petruk Takon Bapa.

“Lakon ini akan berbicara mengenai kedudukan kekuasaan dan peranan masyarakat kecil, keduanya seharusnya menjadi satu kesatuan yang saling membangun dan tidak dapat berdiri sendiri,” ungkap Ki Sunarso.

Salah seorang kerabat Puro Pakualaman, KPH. Endro Kusumo, menyatakan pertunjukkan wayang mengandung pitutur yang syarat akan makna dan pesan kepada penonton atau masyarakat. “Menapaki masa pemilihan umum (pemilu) yang akan terselenggara di negara ini, diharapkan jangan sampai terjadi krisis kepercayaan kepada pemimpin seperti yang dialami oleh Petruk pada lakon wayang malam ini” tuturnya kepada Harian Jogja di Ndalem Pakualaman.

Ratusan abdi dalem
Peringatan 1 Sura di Keraton sebelum acara mubeng beteng, diadakan doa yang dilengkapi dengan sesaji, yang berupa tumpeng, hasil bumi dan buah-buahan.

Abdi dalem yang mengikuti acara semuanya mengenakan busana Jawa lengkap, sementara 9 orang di antaranya berpakaian serba putih.
Menurut Pengageng Paguyuban Abdidalem Budaya Reh Kapraja, Harsadiningrat, ritual doa tersebut merupakan salah satu bentuk keprihatinan terhadap keadaan bangsa Indonesia dan keadaan Jogja. “Kita semua berharap agar keturunan raja Mataram tetap menjadi kepala daerah di Jogja serta diberikan keselamatan serta kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia,” ujarnya.

Mereka khawatir jika keturunan Raja Mataram tidak bertahta lagi di Jogja, keadan akan kacau seperti masa lampau waktu penjajahan. Acara itu diikuti setidaknya 500 abdi dalem dan pengageng keraton. Selanjutnya pada pukul 24.00 WIB tersebut akan dilaksanakan ritual mubeng beteng bersama para prajurit dan masyarakat.

Selain dalam rangka melestarikan budaya, menurut Romo Harso mubeng beteng tersebut juga berguna untuk memepererat persaudaraan antar umat beragama serta mempererat persaudaraan antara keraton dan masyarakat.
"Laku bisu ini demi keselamatan Kasultanan Yogyakarta dan Kadipaten Pakualaman untuk memperkokoh patok negara Republik Indonesia," ujar Harsodiningrat.

Ia menyebutkan mubeng beteng kali ini sedikitnya akan di ikuti ratusan prajurit keraton yang terbagi ke dalam 10 bergodo serta masyarakat. “Totalnya kira-kira mencapai 2000-an orang,” ujarnya.
Bagi yang mempercainya peserta biasanya akan digoda dengan suara-suara atau pun penampakan. Ia berkata jika suara-suara biasanya akan muncul mulai dari Plengkung Gading dan seluruh peserta harus dapat menahan diri.

Selama ritual seluruh peserta tidak ada yang mengeluarkan suara. Mereka membisu, atau biasa disebut topo mbisu. “Saat mengitari beteng, peserta memang dilarang bicara kecuali melafalkan doa-doa menurut agama dan kepercayaan masing-masing,” kata Harsodiningrat.
Ritual budaya mubeng beteng itu sendiri menempuh jarak sekitar lima kilometer yang diawali dari Bangsal Poncowati berjalan melalui Jalan Kauman hingga Pojok Beteng Kulon. Peserta kemudian menyusuri Jl Wahid Hasyim menuju Jalan MT Haryono. Selanjutnya mereka melalui Jalan Brigjend Katamso dan kembali ke Alun-Alun Utara.

Adat mubeng beteng ini merupakan upaya raja terdahulu untuk mempererat hubungan antar etnis dan agama di dua kerajaan. Romo Harsodiningrat mengatakan, pada abad 15 para petinggi Demak yang didukung oleh Wali Songo dan Kerajaan Lumajang yang merupakan pusat penyebaran Agama Hindu bersatu atau diperintah oleh raja Mataram.

Untuk mempersatukan kedua etnis tersebut diselengarakan kegiatan keamanan dengan cara berkeliling beteng. Dari sisi peristiwa budaya, ritual yang telah berlangsung ratusan tahun ini, tidak hanya diikuti oleh masyarakat Jogja saja, tetapi warga dari berbagai daerah di Indonesia.

“Bagi kami, berjalan bersama dalam jumlah ribuan orang pastilah ada makna dan nilainya. Jika kami belum bisa menangkap sisi spiritualnya, nilai kebersamaannya adalah juga sangat penting,” kata Arisatohulo seseorang dari Lampung yang terlihat menunggu acara bersama teman-temannya.

Memang sebagian orang yang percaya, dengan melakukan ritual mubeng beteng selama 90 menit itu, seseorang akan menemukan ketentraman, sikap waspada, dan kebahagiaan yang sulit dilukiskan. “Bisa ikut ritual ini, bagi saya adalah suatu kebahagiaan yang tak ternilai,” kata Budi salah seorang calon peserta.

Oleh Tentrem Mujiono & Rina Wijayanti

Posted by Wawan Kurniawan on 01.28. Filed under , , , , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response

Blog Archive

Labels