Senin, 26 Januari 2009

RADAR JOGJA- Budaya Tionghoa seakan telah menyatu dengan masyarakat Jogja. Setidaknya budaya Tionghoa mampu berakulturasi dengan kekhasan Jogja yang memiliki kekentalan budaya Jawa. Kenyataan ini cukup memberikan ruang dalam menambah perbendaharaan kebudayaan di Jogja. Tentu saja sebagai salah satu aset penarik wisatawan yang diharap akan mendatangkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Salah satu upaya pelestarian sekaligus menarik minat wisatawan, yakni dengan nguri-uri budaya Tionghoa melalui Pekan Budaya Tionghoa (PBT) dalam rangka menyambut Imlek (Tahun Baru Tionghoa) yang tahun ini jatuh pada Senin (26/1).

Pekan Budaya Tionghoa kali ke empat ini rencananya akan digelar 5-9 Februari 2009. kali ini bertema "Ragam Budaya Rakyat".

Ketua Umum PBT Tri Kirana Muslidatun mengatakan pekan budaya Tionghoa kali ini sedikit berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Sebelumnya, kata isteri wawali Haryadi Suyuti ini, PBT hanya terdiri dari tiga tipe. Tahun ini akan digelar 5 tipe. Yakni berupa panggung kesenian, bazar, karnaval, lomba karaoke lagu Mandarin dan pidato bahasa Mandarin. Menurut Tri Kirana, meski bernuansa Tionghoa, namun bagi setiap warga tetap diakomodir tanpa melihat etnik. "Di Jogja semua diberlakukan sama bagi siapa saja. Termasuk acara ini," ujarnya. Tri Kirana berharap, melalui PBT pariwisata mampu mendongkrak pariwisata Jogja. Selain juga meningkatkan aset budaya dan pendidikan.

Ketua I PBT Sugiarto menambahkan satu lagi perbedaan dari tahun lalu adalah pemasangan tenda di sepanjang Jl. Ketandan. "Kalau dulu hanya stan-stan bazar saja yang ditenda. Jadi jangan takut kepanasan atau kehujanan," candanya. Sebagai konsekuensi, Jl Ketandan dan Jl Ahmad Yani akan ditutup selama pelaksanaan PBT. "Tahun ini akan ada 50-60 stan yang bergabung," imbuh Sugiarto. Dijelaskan, saat pelaksanaan PBT akan didirikan tiga panggung utama untuk pentas. Seperti tahun lalu, panggung kesenian akan didirikan di kampus UPN (belakang hotel Melia Purosani). "PBT akan dibuka oleh Gubernur DIJ dan ditutup oleh Walikota Jogja. PBT diawali dengan pertunjukan wayang poo tay hee," katanya. Sedangkan karnaval akan digelar pada 7 Februari pada pukul 13.00. dengan rute Lapangan Abu bakar Ali-Jl. Malioboro-Jl Ketandan-Jl Suryatmajan dan finish di kampus UPN. Seksi Kesenian Fatoni mengatakan jumlah pengunjung diperkirakan melebihi tahun lalu yang mencapai 15 ribu orang. Karenanya arena PBT diperluas dengan memasang tenda di sepanjang Jl Ketandan. Menurut Fatoni, pertunjukan wayang poo tay hee ditampilkan setiap hari dengan alasan sebagai bentuk manifestasi tahun baru Imlek. Dimana dalam pentas wayang diceritakan tentang suka cita rakyat Tionghoa saat pasca panen. "Imlek itu kan memang perayaan setelah panen. Itu sebagai bentuk rasa syukur para petani," terang Fatoni. Untuk lomba-lomba, kata Fatoni, juga tidak dibatasi siapa saja boleh ikut. Yang penting semua bernuansa Tionghoa. "Bagi yang tidak mau ikut lomba menyanyi, akan disediakan panggung khusus sekedar menyalurkan hobi," ujarnya.

Tak lupa PBT juga dimeriahkan dengan atraksi barongsai dan liong. Juga fashion show busana dengan tema "budaya Tionghoa dalam batik".

Untuk perayaan Imlek sendiri yang jatuh pada Senin (26/1) di Kota Jogja akan dipusatkan di dua titik. Yakni Galeria Mall dan Jogja Tronik. Mengingat dua lokasi tersebut merupakan area berbelanja, sudah pasti perayaan Imlek diisi dengan kegiatan dan acara untuk memanjakan konsumen. (yog)


EmoticonEmoticon