Senin, 26 Januari 2009

WONOSARI: Draf rencana penurunan tarif angkutan umum di Kabupaten Gunungkidul akhirnya memasuki babak final, setelah Bupati menyepakati tarif baru yang akan resmi diberlakukan pada Senin (26/1) lusa. Kesepakatan Bupati itu menyusul pengajuan draf tarif baru oleh Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informasi (Dishubkominfo) Gunungkidul, yang tertuang dalam Surat Keputusan (SK) Bupati No 16/KPTS/209 Tahun 2009.

SK Bupati itu berisikan penurunan tarif baru angkutan baik angkutan desa (angkudes) maupun angkutan kota (angkot), dengan angka penurunan lebih dari rencana awal yang disodorkan Dishubkominfo dan Organisasi Pengusaha Angkutan Darat (Organda) Gunungkidul.

Dishubkominfo dan Organda mengusulkan kisaran penurunan tarif mencapai 5%. Namun, dalam SK baru dinyatakan tarif angkudes berbahan bakar solar turun mencapai 6%, sedangkan tarif angkot turun mencapai 12%,

“Itu sudah menjadi keputusan final tertanggal 16 Januari 2009. Keputusan ini akan berlaku secara resmi mulai Senin mendatang,sebagai konsekuensi logis atas kebijakan turunnya harga bahan bakar minyak (BBM),” kata Kepala Dishubkominfo Gunungkidul, Tommy Harahap, saat dihubungi Harian Jogja, Jumat (23/1) kemarin.

Tommy tidak menampik kenyataan penurunan tarif angkutan di lapangan sebelum SK tarif yang baru diteken. Hal itu juga diungkapkan oleh sejumlah awak angkutan dan pengurus paguyuban angkudes maupun angkot.

Namun, lanjut Tommy, untuk mendapatkan kekuatan yuridis, persoalan mengenai tarif tetap harus diatur dan dipatuhi oleh semua pihak baik konsumen (penumpang) maupun pengusaha dan awak angkutan.

Didampingi Kepala Bidang Transportasi, Syamsuddin Efendi, dia menjelaskan tarif angkot umum ditetapkan Rp2.200 dari sebelumnya Rp2.500 per penumpang (jauh dekat). Khusus pelajar ditetapkan tarif baru Rp1.200 (sebelumnya Rp1.500).

Untuk angkudes berbahan bakar solar tarif baru Rp183,30 per penumpang per kilometer dengan jarak tempuh kurang dari 5 kilometer (km) ditetapkan Rp2.200 (sebelumnya Rp2.500). Angkudes BBM premium ditetapkan Rp147,37 per penumpang per kilometer.

Terpisah, Maryoto, awak angkutan umum, mengaku saat ini yang menjadi keluhan para kru dan pengusaha angkutan bukan persoalan tarif, melainkan semakin menghilangnya penumpang dari waktu ke waktu.

“Artinya, kalau tarif diturunkan, tidak akan banyak pengaruh positfnya karena semakin memperpuruk kami. Selain tarif turun, penumpang menghilang, harga suku cadang kendaraan dan oli tetap stabil tinggi,” keluh kondektur yang akrab dipanggil Ompong itu sewaktu ditemui di Terminal Wonosari, kemarin.

Hal senada dikemukakan Kalimi, seorang ketua paguyuban angkudes. Saat ini, ujar dia, penurunan harga BBM tidak menjadi harapan kalangan awak angkutan maupun pengusaha.

Pasalnya, sejak harga BBM bensin dulu merangkak naik menjadi Rp5.500 per liter, saat ini hanya turun Rp1.000 per liter menjadi Rp4.500 per liter. “Jadi, penurunan harga BBM sebetulnya belum adil. Perhitungan ini realistis,” kata Kalimi.

Kunto Wibowo dari Paguyuban Angkutan Kota Handayani (PAKH), memastikan saat ini tidak semua pengusaha berani mengoperasikan armadanya. Dari semula 40 angkot di Wonosari, ujar dia, tinggal 23 yang bertahan beroperasi.

“Lima kendaraan saya juga tidak berani jalan karena harga oli sekarang Rp87.000 per liter, padahal harga suku cadang tak kunjung turun. Bisa pulang membawa Rp10.000 dalam sehari saja sudah sangat beruntung,” keluh Kunto. (Harian Jogja Cetak/Endro Guntoro)



EmoticonEmoticon