Jumat, 06 Februari 2009

YOGYA (KR) - Gubernur DIY Sri Sultan HB X berpendapat, perlu ada rekapitalisasi budaya agar Indonesia keluar dari situasi krisis. Fenomena sekarang menunjukkan, identitas bangsa Indonesia sedang dalam situasi krisis. Lewat rekapitalisasi budaya, bangsa Indonesia perlu meningkatkan kepercayaan diri dalam perspektif baru, yaitu dengan menghargai kebudayaan serta memperkukuh penguasaan tentang citra bangsa Indonesia sendiri.
Hal tersebut dikemukakan Gubernur DIY Sri Sultan HB X pada malam ‘Penghargaan Peduli Budaya’ yang diberikan kepada narasumber dan pendukung program dialog ‘Yogya Semesta’ di nDalem Wironegaran Yogyakarta, Kamis (5/2) tadi malam.

”Program ‘YogyaSemesta’ selama ini telah menyandang misi untuk menggali, mengkaji, menguji, serta merevitalisasi budaya Yogya yang bermatra semesta,” kata Sultan HB X. Diharapkan, program yang selama ini sudah berjalan tidak hanya menginspirasi pada konsep pemberdayaan, tapi juga menginternalisasi dalam tataran kebijakan untuk mendorong perubahan perilaku masyarakat.
Karena menurut Sultan HB X, ketika kebudayaan menjadi kekuatan dan pilar pembangunan bangsa, maka di sanalah kemanusiaan yang adil dan beradab serta pemerataan kesejahteraan akan tercapai dengan lebih cepat.
Pengelola program YogyaSemesta, Hari Dendi mengungkapkan, penghargaan diberikan kepada sekitar 175 komunitas budaya. Namun secara simbolis diberikan kepada 15 orang yang terbagi dalam 11 kelompok. Untuk Kelompok Khusus ada dua orang penggerak, yaitu Prof Dr Riswanda Imawan dan Prof Sugeng Mardiyono PhD (keduanya sudah meninggal). Kelompok lain yaitu Kelompok Inti, Kelompok Wanita, Kelompok Pemuda, Kelompok Jakarta, Kelompok Kampus, Kelompok Budayawan, Kelompok Agama, Kelompok Birokrasi, Kelompok Abdi Dalem dan Kelompok Pendukung.
Prof Dr dr Soetaryo SpAK dalam sambutannya mewakili penerima penghargaan mengungkapkan, program YogyaSemesta secara garis besar merupakan pemikiran bijak dari berbagai pihak merujuk pada kepada budaya tradisi Yogyakarta. Pemikiran yang secara luas untuk Nusantara dan Semesta. ”Budaya yang digali dan dilesatarikan kemudian dijadikan semangat untuk restorasi bangsa dan negara,” kata Soetaryo.
Dikemukakan Soetaryo, restorasi mengandung makna memperbaiki dengan bahan yang ada tanpa meninggalkan jati dirinya. Saat ini beberapa segi kebudayaan bangsa telah dirusak antara lain oleh korupsi. ”Sekarang merupakan momentum yang baik untuk membentuk komunitas pemikir, komunitas akademis untuk memberikan yang terbaik bagi Yogyakarta serta bangsa,” kata Soetaryo. (Apw)


EmoticonEmoticon