Selasa, 10 Februari 2009

YOGYA (KR) - Guna mendorong usaha kecil, pemerintah mengalokasikan Kredit Usaha Rakyat (KUR) pada tahun 2009 ini sebesar Rp 20 triliun. Dana tersebut dapat digunakan bagi pengembangan usaha, termasuk usaha tani. Menko Kesra Ir Aburizal Bakrie mengungkapkan hal itu di Sleman Yogyakarta, Minggu (8/2). “Semua pihak harus mengetahui adanya program kredit ini. Bahkan hendaknya ikut mengawal realisasi kredit ini, sehingga dapat dimanfaatkan untuk mendorong usaha kecil,” ujar Aburizal.
Sebelumnya, tahun 2008, dana KUR sebesar Rp 14,5 triliun dengan penyerapan belum optimal, yakni Rp 12,5 triliun, sehingga masih tersisa Rp 2 triliun. Alokasi dana KUR yang cukup besar ini lebih dimaksudkan untuk memberdayakan usaha mikro kecil menengah (UMKM) dalam jumlah yang lebih banyak.

Menurut Ical, sapaan akrab Aburizal, UMKM masih sangat membutuhkan dukungan pemerintah, terutama pada kondisi perekonomian bangsa yang masih terus dilanda krisis berkepanjangan. “Petani diharapkan juga dapat memanfaatkan alokasi dana ini, karena dana ini tanpa jaminan,” ujarnya.
Diungkapkan, kredit tanpa jaminan ini diperoleh karena pemerintah menempatkan dana di bank-bank yang ditunjuk, sebagai jaminan atas kredit yang diberikan. Dengan penempatan itu, bank tersebut harus dapat memberikan kredit kepada UMKM. Adapun bank yang ditunjuk untuk menyalurkan dana ini adalah BRI, Mandiri, Mandiri Syariah, BNI, BTN dan Bukopin.

Pada kesempatan itu Menko Kesra juga mengungkapkan adanya alokasi anggaran Program Nasional Pemberdayaan Mandiri (PNPM) tahun 2009 sebesar Rp 17 triliun. Program ini untuk mendorong kemajuan desa, dengan pembangunan infrastruktur hingga pemberdayaan ekonomi rakyat. Program yang dijalankan atas kemauan warga tersebut, sejauh ini telah berkembang baik.

Sementara itu dalam kesempatan berbeda, Menteri Perindustrian Fahmi Idris menandaskan, turunnya ekspor UKM saat ini antara lain disebabkan beberapa negara tujuan ekspor menghentikan dan mengurangi pembelian sebagai dampak krisis finansial global. Sedangkan turunnya nilai tukar rupiah juga berdampak pada mahalnya harga bahan baku.

“Itu yang menyebabkan banyak sektor riil kita terkena dampak negatif,” kata Fahmi Idris saat mengunjungi UMKM di Sleman Yogya, Sabtu (7/2).
Menurut Fahmi Idris, dampak krisis finansial global terhadap ekspor UKM Indonesia jika dilihat dari angka Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai 30-40%.
Terhadap produk kerajinan asal DIY, Menperind memberikan acungan jempol, karena umumnya perajin DIY sangat telaten, teliti dan halus dalam berkarya. Karena itu produk kerajinan DIY tidak hanya disukai orang-orang asing, namun juga orang Indonesia sendiri. (Jon/San)-m


EmoticonEmoticon