|

KPU Kota-PPK Umbulharjo Simulasi Pemungutan Suara di SMAN8 Jogja

RADAR JOGJA - Proses Rumit, Waktu Dua Menit Tidak Cukup
Perkiraan waktu dua menit yang disediakan untuk para pemilih melakukan proses pemungutan suara dianggap tidak cukup. Simulasi pemungutan suara yang dilakukan oleh siswa- siswa SMAN 8 Jogja membuktikan. Dibutuhkan rata-rata 3,14 menit masing- masing pemilih akibat rumitnya proses.

Siang kemarin, suasana aula SMAN 8 Jogja sedikit beda. Jika biasanya aula yang berada di bagian dalam kompleks sekolah itu dipakai untuk kegiatan sekolah, kemarin berubah menjadi Tempat Pemungutan Suara (TPS). Tapi, ini bukan TPS betulan. Melainkan TPS untuk simulasi pemungutan dalam rangka sosialisasi Pemilu 2009 yang dilakukan oleh KPU Kota Jogja, PPK Umbulharjo dan mahasiswa KKN UGM.

Suasana memang mirip TPS beneran. Ada petugas KPPS, empat bilik suara, kertas suara (DPR RI, DPRD I, DPRD II dan DPD), serta tinta yang kemarin diganti dengan air mineral."Ini memang tujuan kami untuk memberikan bekal pengetahuan kepada para siswa yang memang sebagian diantaranya sudah memiliki suara pada Pemilu 9 April mendatang," terang Retno Ardiyanti SH dari PPK Umbulharjo.

Kepada para siswa ini diberikan pengetahuan semua tahapan pemungutan suara. Dan kepada mereka langsung diminta untuk memraktikannya. Mulai pengambilan suara suara, pencontrengan di bilik suara, memasukkannya ke kotak- kotak yang sudah disediakan. Bahkan sampai dengan penghitungan surat suara. Kepada mereka juga diberikan pengetahuan tentang tata cara pemungutan suara yang benar dan salah."Dengan begitu akan diketahui mana proses yang benar, mana yang salah," tambah Retno.

Nah bagaimana tanggapan para siswa ini. Sejumlah siswa mengakui, memang cukup rumit tahapan pemungutan suara pada pemilu kali ini. Deta, siswa kelas 12 IPS-3 misalnya. Dia mengakui sulitnya membuka dan melipat kertas suara yang berukuran cukup lebar itu. Apalagi ukuran bilik suara yang terlalu sempit. Sehingga, untuk membuka dan melipat harus dikeluarkan dari bilik.

Demikian juga saat ia harus memilih nama- nama caleg yang akan dipilih."Kami saja akan bingung milihnya. Bagaimana dengan masyarakat lain nanti," kata dia setengah bertanya.

Dengan kondisi seperti ini, ia mengakui sangat sulit jika dipatok waktu hanya dua menit untuk menuntaskan "pekerjaan" di bilik suara. Belum lagi, jika akan memilih caleg. Banyaknya nama- nama caleg, akan sangat menyulitkan bagi orang awam untuk memilihnya. Kemungkinan besar, akan berlaku asal memilih dan mungkin juga tidak memilih, karena bingung.

Dan dengan model seperti ini, hanya caleg- caleg yang popular saja yang dipastikan akan meraup suara besar. Atau mereka yang menjadi caleg partai- partai popular. "Kalau tidak ada yang kenal, pasti banyak yang akan milih sesuka hati," ujarnya menganalisis.

Senada disampaikan Fatimah. Siswi kelas 12 IPS 3 ini juga tidak yakin kalau dalam pemilu nanti waktu empat jam antara pukul 08.00 sampai 12.00 untuk bagi warga memberikan suara bisa cukup bagi warga yang mempunyai hak pilih. Ia mencontohkan beberapa kawannya yang notabene orang- orang yang berpendidikan saja bisa lebih dari tiga menit."Bagaimana dengan orang- orang awam. Rasanya akan lebih lama di dalam bilik suara nanti," terangnya.

Nah, belajar dari pengalaman simulasi di SMAN 8 Jogja ini, ada baiknya jika KPU bisa memikirkan kembali pelaksanaan pemungutan suara yang hanya empat jam itu. Jangan sampai antusiasme warga untuk memberikan suara tidak tersalurkan hanya karena saat mereka dating waktunya sudah habis.(din)

MIFTAHUDIN, Jogja

Posted by Wawan Kurniawan on 16.19. Filed under , , , , , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response

Blog Archive

Labels