|

SEBARKAN INFO PAMERAN BUKU ; Egrang dan Jatilan-Warokan ‘Membelah’ Kota

YOGYA (KR) - Panitia Pesta Buku Jogja (PBJ)-2009 mempunyai cara unik dan menarik dalam menginformasikan pameran di Jogja Expo Centre (JEC). Wujudnya dengan menampilkan aksi egrang, jatilan dan warokan, yang menyusuri Jalan Laksda Adisutjipto dari depan Ambarrukmo Plaza sampai Jalan Jenderal Soedirman. “Kami memang sengaja mengundangnya untuk beratraksi sambil menyebarkan informasi Pesta Buku Jogja 2009 yang berlangsung di JEC,” kata Apri Dhian, Wakil Ketua dan Seksi Promosi PBJ, Rabu (11/3).

Dalam aksi ini Tejo Badut dan Eko yang naik egrang menjadi ‘cucuk lampah’. Di belakangnya jatilan-warokan. Sebagai bentuk kepedulian, R Syarif Tholib (Ketua Ikapi) bersama panitia mengawal sepanjang perjalanan. “Egrang, jatilan-warokan yang kian dilupakan orang harus diaktualisasikan kembali,” kata R Syarif. Menurut Tejo Badut, bermain egrang membutuhkan keterampilan, keseimbangan dan kesabaran.

“Kalau tidak, bisa terjatuh,” ucap Tejo Badut. Untuk keperluan ini, ia mendesain khusus lembaran bertuliskan SKH Kedaulatan Rakyat. Dalam atraksi, keduanya berjalan sambil membaca, sesekali menyebarkan brosur-brosur PBJ. Untuk jatilan warokan berbeda. “Kesenian jatilan-warokan ini datang dari jauh,” ujar Ruwadi, pimpinan Jatilan-Warokan warga Keliling berasal dari Drandan Kecamatan Kedu Temanggung. Kesenian ini beranggotakan 5 orang, yakni Mudiyono, Muntoyo, Supandi, Roki dan Ruwadi. Diceritakan Ruwadi, kesenian ini memang sengaja memadukan jatilan dari Jawa Tengah dan Warok dari Ponorogo Jawa Timur.

“Maka dalam atraksi tari memadukan keduanya secara bergantian,” katanya. Memadukan jatilan dan warokan, sebenarnya sebagai cara untuk bisa bertahan hidup, tetap eksis untuk jadi mata pencaharian. Kalau tidak ada tanggapan, sesekali mengamen di pinggiran kota. (Jay)-b Menurut pengakuan Ruwadi, selain untuk pembukaan acara yang bersifat massal, kesenian ini paling sering dimainkan dalam mantenan, khitanan massal, reuni maupun pembukaan pameran.

“Kalau main sambil menyebarkan brosur pameran buku, baru kali ini terjadi,” ucapnya. Ia mengaku senang diperhatikan dengan diberi kesempatan ‘membelah’ jalan raya. Biasanya kesenian ini bermain di pinggiran kota Temanggung, Semarang, Pekalongan, Batang, Kendal. “Sejak tahun 2004 berdiri, baru kali ini membelah keramain kota dan jalan raya pusat kota Yogya.” katanya.(Jay)-b

Posted by Wawan Kurniawan on 20.33. Filed under , , , , , , , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response

Blog Archive

Labels

Recently Added

Recently Commented