|

2010, Jajanan sekolah disertifikasi

UMBULHARJO: Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja akan menerapkan sertifikasi sehat kepada jajanan sekolah. Hal ini untuk menekan risiko keracunan karena jajanan tidak sehat.

Pemkot melalui Dinas Kesehatan berharap program ini bisa dijalankan tahun depan. Untuk mengawalinya akan dilakukan pelatihan dan pembinaan yang terpadu bagi para pedagang jajanan sekolah.

”Pedagang jajanan sekolah yang telah selesai mengikuti pelatihan dan pembinaan akan diberi sertifikat untuk menyakinkan kepada konsumen jika jajanan yang dijual aman bagi kesehatan,” terang Kepala Bidang Regulasi dan Sumber Daya Kesehatan Dinas Kesehatan Kota Jogja, Tuty Setyowati kepada Harian Jogja, Jumat (10/4).
Dikatakan program yang nantinya akan melibatkan sejumlah dinas,baik dari Dinas Pendidikan ataupun dari Dinas Pariwisata telah diajukan dalam Rencana Kerja Anggaran (RKA) 2010 mendatang. ”Dengan seperti ini diharapkan bisa meminimalisasi kasus keracunan makanan yang ada,” ujar Tuty.

Pembinaan dan pelatihan terhadap pedagang jajanan sekolah ini, kata Tuty akan meliputi dari pengetahuan kepada pedagang tentang bahan makanan tambahan (BMT) apa saja yang aman dikonsumsi untuk manusia.

”Jangan sampai penggunaan bahan tambahan seperti pewarna pakaian digunakan untuk campuran makanan. Karena ini merugikan konsumen,” kata Tuty.

Lebih lanjut Tuty menuturkan sertifikat yang diberikan kepada para pedagang ini berbeda dengan sertifikat layak sehat. Hal ini disebabkan, masih banyak kriteria-kriteria fundamental yang dirasa masih sangat sulit dipenuhi oleh para pedagang untuk bisa mendapatkan sertifikat layak sehat yang dimaksud.

“Semisal dari segi tempat pengelolaan yang minimal 2X3 meter. Padahal banyak pedagang jajanan sekolah yang tinggal di Jogja hanya mengontrak,” kata dia.

Terpisah, Kepala Dinas Pendidikan Kota Jogja, Syamsuri menuturkan pihaknya akan segera melakukan koordinasi dengan pihak sekolah terkait rencana Dinas Pendidikan untuk memperbolehkan para pedagang jajanan sekolah masuk ke lingkungan sekolah. Meski dengan catatan khusus.

”Bagi sekolah yang memiliki halaman mungkin mudah. Namun bagi yang tidak memiliki halaman itu memang harus dibicarakan terlebih dahulu,” ujar dia. (Yuspita Anjra Palupi)

Posted by Wawan Kurniawan on 05.04. Filed under , , , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response

Blog Archive

Labels

Recently Added

Recently Commented