|

Siswa Wajib Berbahasa Jawa Pada Hari Sabtu

HARIAN JOGJA: Memberikan pendidikan budaya pada anak dinilai perlu, demi menumbuhkan kecintaan mereka pada kebudayaan bangsa Indonesia, dan selanjutnya melestarikannya.

Menurut Anastacia, Kepala Sekolah SD Tamansiswa, anak harus diperkenalkan dengan budaya Indonesia yang beragam, terutama Jawa. Menurutnya, jika anak-anak tidak peduli dengan budaya sendiri, bangsa Indonesia di masa mendatang akan kehilangan identitas, karena pengaruh globalisasi begitu gencar.

“Karena itu kami juga menyelenggarakan berbagai kegiatan bernuansa budaya. Salah satunya penyelenggaraan lomba keluwesan, di mana anak-anak mengenakan busana daerah dan berjalan dengan luwes sesuai dengan cara berjalan dari masing-masing daerah,” tutur dia, pekan lalu.

Acara itu, tutur dia, digelar dalam rangka memperingati Hari Kartini. Sesuai azas Ki Hajar Dewantara, suasana budaya daerah sangat kental dalam acara itu.

“Ki Hadjar Dewantara mengajarkan untuk menjunjung tinggi kebudayaan, terutama budaya Jawa. Kami berusaha menghidupkan nuansa budaya dan berusaha untuk menanamkan rasa bangga akan budaya sendiri dalam diri siswa,” kata dia.

Selain itu, pihak sekolah juga mengadakan hari berbahasa Jawa selama sehari penuh setiap Sabtu. Di sana siswa diwajibkan bercakap-cakap dalam bahasa Jawa, agar mereka terbiasa menggunakan bahasa itu. Para orangtua juga diminta aktif mendorong anak berbahasa Jawa di rumah.

“Kami juga mengajarkan pada siswa menulis aksara Jawa (huruf Jawa). Meski tulisan Jawa sudah jarang digunakan, siswa harus tetap mengenal aksara Jawa, agar salah satu elemen budaya Jawa itu tidak hilang,” ujarnya.

Terpisah, Multiculture Campus Realino (MCR) juga mengadakan Traditional Food Festival bertema masakan khas Jawa, Sumatera, dan Sulawesi, pada Sabtu–Minggu lalu. Dalam event itu terdapat 10 stan menjajakan masakan khas daerah, seperti Coto Makasar, Ayam Anjili hingga Pempek Palembang.

Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi, Djoko Dwiyanto, mengatakan, masakan khas merupakan salah satu bentuk kekayaan budaya Indonesia yang sangat berharga. Dengan event itu, masakan khas daerah bisa diperkenalkan pada masyarakat.

Yulia Lukito, Wakil Ketua Panitia, menjelaskan, target peserta dan pengunjung event itu adalah, remaja dan keluarga, terutama anak-anak. Dalam event itu juga terdapat lomba tebak bumbu untuk anak-anak.

“Selain itu juga ada sajian tarian daerah yang dilakukan siswa SDK Kalasan, yaitu Tari Pongan. Ada juga storytelling berjudul Elliot Main Kuda Lumping yang merupakan perpaduan antara budaya barat dan timur karena kami mengangkat tema multikultur,” jelas dia pada Harian Jogja. (Nadia Maharani)

Posted by Wawan Kurniawan on 06.55. Filed under , , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response

Blog Archive

Labels