|

PEDAGANG STASIUN LEMPUYANGAN; Khawatir Turunnya Omzet

YOGYA (KR)- Pedagang kaki lima (PKL) yang berada di sekitar Stasiun Lempuyangan mengkhawatirkan isu rencana dibangunnya toko serba ada (toserba) yang berada di dalam kawasan stasiun. Mereka mengkhawatirkan terjadi penurunan pendapatan. Sementara untuk pedagang di dalam stasiun mendesak upaya penataan ulang. Ketua komunitas Stasiun Lempuyangan yang tergabung dalam Forum Kemitraan Polisi dan Masyarakat (FKPM), Harjanto Suradji saat ditemui KR di Stasiun Lempuyangan, Jumat siang (11/9) mengakui beberapa waktu lalu, Kepala Stasiun (KS) sempat menuturkan rencana berdirinya toserba yang dibangun didekat pintu masuk dan keluar.

Dengan adanya toserba tersebut hampir dipastikan pedagang yang ada di lingkungan Stasiun Lempuyangan akan mengalami penurunan pendapatan yang cukup drastis. Saat dikonformasi, Kepala Stasiun Lempuyangan, Asdo Artrifianto mengaku jika rencana ini masih belum pasti. Stasiun Lempuyangan memiliki lahan kosong yang digunakan sebagai lahan komersil sehingga bisa dimanfaatkan untuk berbagai jenis usaha diantaranya minimarket, toserba, warung makan, toko buah dan sebagainya. (*-2)-f Lahan komersil yang terletak dikawasan Stasiun Lempuyangan ini merupakan milik pihak Daerah Operasi (Daop) VI.

Belum lagi pedagang yang ada didalam stasiun. Dilain pihak, salah seorang pemilik warung kelontong, Aji (40) mengaku telah mendengar rencana dibangunnya toserba tersebut. Pihaknya mendesak supaya rencana pembangunan dibatalkan karena berimbas pada penurunan pendapatan. “Pasca ditutupnya pintu tengah itu saja pendapatan kami menurun drastis, kalau dulu seharinya bisa untung Rp 40.000 sekarang ada yang beli saja sudah bersyukur sekali, kalau nantinya dibangun toserba itu namanya mematikan rejeki rakyat kecil,” ujarnya. Tanggapan yang sama juga terjadi ketika KR menemui salah seorang pedagang yang ada didalam stasiun yakni Rani (43) seorang pedagang pakaian. Meskipun ia belum mendengar rencana pembangunan toserba di stasiun, namun pihaknya menginginkan penataan ulang bagi pedagang yang ada dikawasan tersebut.

Rani jelaskan jika pedagang dikawasan ini penataannya dengan format saling membelakangi antara pedagang sisi utara dan selatan. Sebelum pintu tengah dirombak menjadi pagar, baik sisi utara maupun selatan sama-sama laris namun ketika dirombak menjadi akses satu pintu keluar masuk stasiun maka hanya pedagang sisi selatan saja yang laris. Bahkan pedagang sisi utara tak sedikit yang gulung tikar. “Saya saja dulu bisa untung sampai Rp 400.000 tiap harinya kalau sekarang susah sekali lagi, bahkan beberapa hari ini tak ada pembeli sama sekali, dan kondisi ini tidak dirasakan pedagang sisi selatan, kami tetap bertahan disini hanya untuk mempertahankan hak saja karena sudah bayar sewa Rp 4,3 juta pertahun, karena kalau tidak kami tempati otomatis hak sewa kami hangus, kalau sisi selatan bayarnya lebih mahal Rp 5 juta karena lebih laris” keluhnya.

Harapan Rani dan pedagang terutama yang bertempat disisi utara, hendaknya stasiun mengadakan penataan ulang terkait penempatan pedagang supaya dua sisi sama-sama laku. Beberapa waktu lalu pihak pedagang sempat mengusulkan adanya rolling tiap beberapa waktu antara pedagang sisi utara dan selatan, namun oleh pihak stasiun usul itu ditolak.

Posted by Wawan Kurniawan on 01.42. Filed under , , , , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response

Blog Archive

Labels

Recently Added

Recently Commented