|

Penutupan Devider Jalan Solo Dikeluhkan

Kasatlantas : Demi Keselamatan Pengedara
RADAR JOGJA - SLEMAN- Tingkat kepadatan lalu lintas di Jl. Laksda Adi Sutjipto tergolong sangat tinggi. Banyaknya konsumen di pertokoan sepanjang jalan itu menyebabkan arus lalu lintas semakin semrawut. Terutama di dekat Ambarukmo Plaza. Kemacetan pun sering tak terelakkan di daerah tersebut. karenanya, aparat Satlantas Polres Sleman bekerjasama dengan Dinas Kimpraswilhub Sleman dan Kimpraswil Provinsi DIJ melakukan penutupan devider (pembatas jalan) yang membelah jalan Jogja-Solo itu menjadi dua ruas.

Awalnya, ada tiga celah devider yang terbuka. Satu celah di simpang Tlaga Biru dipasang rambu tanda manuver bagi kendaraan. Namun, semua celah kini ditutup. Rambu pun tetap berdiri dan ditutup kertas. Hal itu menyebabkan sebagian warga sekitar mengeluh. Setiap kali, warga yang tinggal di dekat Ambarukmo Plaza dan sekitarnya, terpaksa harus memutar kurang lebih 1 KM. penutupan celah devider mamaksa pengedara harus memutar hanya di dua titik. Sebelah timur di pertigaan Janti, dan barat di jembatan Sungai Gajah Wong (dekat kampus UIN). Akibatnya, penumpukan kendaraan yang akan melakukan manuver kembali ke arah sebelumnya, terjadi di dua titik tersebut.

"Kalau motor bermesin sih tidak masalah. Kasihan pengendara pit onthel atau tukang becak. Lha, nggenjote kudu ngalang adoh (Mengayuhnya harus memutar jauh)," keluh Mbah Bardiman, 60, tukang becak yang ditemui sedang nongkrong di depan Ambarukmo Plaza, kemarin (11/9). Bardiman mengaku khawatir saat harus memutar di pertigaan Janti atau sebelum Sungai Gajah Wong yang menjadi satu-satunya penggalan devider jalan di sebelah utara dan selatan Ambarukmo Plaza. Bardiman berharap ada kebijakan dari aparat agar ada perkecualian bagi pengendara kendaraan tak bermesin. "Sukur penggalan ini bisa dibuka sedikit, khusus bagi tukang becak atau pengendara sepeda. Kan bisa celah itu dijaga polisi biar tertib," harap warga Sorowajan itu.

Menurut Ditya, 30, warga di sekitar pasar Gowok (belakang Ambarukmo Plaza) mengaku kecewa lantaran merasa penutupan penggalan devider menyebabkan inefisiensi waktu. "Cuma mau menyeberang saja (utara ke selatan atau sebaliknya) harus memutar sampai ratusan meter," keluhnya.

Kasatlantas Polres Sleman AKP Teddy Rayendra mengatakan penutupan devider bukan sekedar kewenangan tapi dengan perhitungan matang. "Itu demi keselamatan pengendara sendiri. Janganlah selalu berpikir untuk cepat. Tapi bersabarlah untuk selamat," ujarnya saat dikonfirmasi di Mapolres Sleman. Teddy mengatakan, dari hasil pengamatan anggotanya, lokasi manuver yang difokuskan hanya di dua titik justeru mampu mengurangi kemacetan. Menurutnya kendaraan yang melintas dan membelok di pertigaan Demangan (sekitar 300 meter barat jembatan Sungai Gajah Wong) dari pukul 05.00-17.00 mencapai 1.520 unit. "Di depan Ambarukmo Plaza tentu lebih padat lagi arus lalulintasnya. Kalau banyak celah untuk memutar tentu semakin macet kan," katanya setengah bertanya.

Soal harapan ada perkecualian bagi pengendara kendaraan non mesin, Teddy menolaknya. Menurut alumni Akpol tahun 1999 itu, jika ada perkecualian, lambat laun pasti akan diikuti juga oleh pengendara motor. "Itu kan namanya diskriminasi," katanya. Teddy mengimbau kepada warga agar mengutamakan kesadaran berlalu lintas. Dan tidak berpikir hanya sesaat untuk cepat tanpa menghiraukan keselamatan sendiri atau orang lain.(yog)

Posted by Wawan Kurniawan on 17.48. Filed under , , , , , , , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response

Blog Archive

Labels