|

Tari Srimpi : Tak Lekang dimakan Waktu

Seiring alunan gending gemulai liukan tubuh empat penari srimpi seolah mengalir bak air. Pelan dan halus gerakan gemulai para penari srimpi lugas menggambarkan suasana gerakan air yang mengalir. Dari mulai lengan, leher, kepala, panggul hingga kakinya.

Gerak tarian seperti kengser, ngigel dan sabetan selendang dilakukan dengan halus. Sehingga menampilkan erotisme dan keanggunan dari sang penari. Sebagai sebuah warisan leluhur yang adiluhung, tetap menjadi primadona di kalangan para seniman tari.

Bahkan tidak jarang banyak seniman tari yang banyak mengambil inspirasi [roh] dari tarian ini ketika membuat sebuah tarian baru. Dan layaknya sebagai warisan budaya yang adiluhung, pertunjukan tari srimpi meski tidak hanya digelar di lingkungan keraton saat ini.

Pertunjukan tarian yang dikenal memiliki daya magis pada zaman dahulu ini nyata hanya dikonsumsi oleh masyarakat umum dalam strata tertentu. Semisal pada saat menyambut tamu kenegaraan atau tamu agung. Perubahan durasi Tari Srimpi saat ini mengalami perubahan.

Perubahan yang dilakukan, oleh sebagian besar seniman tari ini sejatinya sebagai penyesuaian terhadap kebutuhan yang ada di dalam masyarakat. Salah satu penyesuaian yang dilakukan yakni pada segi durasi. Srimpi, versi zaman dahulu dalam setiap penampilannya bisa disajikan selama kurang lebih 1 jam.

Yang dikarenakan banyaknya gerakan pengulangan yang dilakukan. Sekarang, untuk setiap penampilan di depan umum [menyambut tamu negara], Srimpi ditarikan dengan durasi kurang lebih 11-15 menit saja.

Namun begitu, perubahan itu masih bisa dimaklumi selama perubahan tersebut tidak merubah pakem dan filosofi yang terkandung dalam gerakan tari srimpi. “Yang tidak mengalami perubahan adalah dari bunyi gending yang mengiringi penari,“ terang pelatih tari sanggar tari Sekarwati, Artha Wiraswati kepada Harian Jogja, beberapa waktu lalu.

Tari Srimpi, yang merupakan simbolisasi masa pemerintahan raja pada tiap masa memiliki kekhasan masing-masing. Itulah mengapa, ada banyak jenis tari srimpi. Seperti Tari Srimpi Anglirmendhung, Tari Srimpi Ludira Madu, Srimpi Sangupati dan Srimpi Renggowati [ditarikan oleh lima penari].

Menilik dari namanya, Srimpi yang bersinonimkan bilang empat. Oleh karenanya, tari srimpi kebanyakan ditarikan oleh penari dengan jumlah empat orang. Yang melambangkan empat penjuru mata angi atau unsur dari dunia. Yakni grama (api), angin (udara), toya (air), dan bumi (tanah).

Selain itu kata “srimpi” juga diartikan dengan akar kata “impi” [dalam bahasa Jawa] atau mimpi. Pelestarian Upaya pelestarian Tari Srimpi dewasa ini banyak dilakukan di berbagai sanggar tari klasik yang banyak di temui di Yogyakarta.

Peminat tari klasik yang ternyata tidak hanya berasal dari dalam negeri, namun juga dari luar negeri membuat, seniman tari klasik mempercayai bahwa pesona tarian klasik masih sangat kuat. Terlebih pada jenis tarian sakral.

Yang dahulu hanya diperbolehkan untuk dipertontonkan di dalam lingkungan istana. “Kalau untuk anak-anak, tarian klasik seperti srimpi memang jarang diajarkan. Hanya bagi mereka yang benar-benar berminat. Karena proses mempelajari tarian ini membutuhkan kesabaran dan penghayatan tinggi,” tutur Artha. (Yuspita Anjar Palupi)

Posted by Wawan Kurniawan on 19.16. Filed under , , , , , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response

Blog Archive

Labels