|

Onthel Jepang, Dulu Murah, Kini Langka

YOGYAKARTA, KOMPAS.com- Sepeda onthel atau sepeda kuno buatan Jepang lebih susah dijumpai ketimbang onthel buatan negara Eropa. Kondisi itu ditengarai karena dulu onthel Jepang kalah pasaran dan kalah gengsi daripada onthel Eropa. Kualitas onthel Jepang pun tak sebagus Eropa.

Ngatidjo (60), pengamat onthel yang juga pemilik bengkel sepeda di Jalan Wates Km 3,5 mengatakan, onthel-onthel Jepang masuk tahun 1958-1960. Saat itu harga yang ditawarkan, juga suku cadangnya, jauh lebih murah daripada onthel buatan Eropa.

"Satu onthel bikinan Eropa kira-kira harganya sebanding dengan dua hingga tiga onthel Jepang. Tapi, masyarakat, terutama di Jawa, sudah telanjur fanatik dan percaya dengan kualitas onthel buatan Belanda atau Inggris," ujarnya, Rabu (2/12).

Harga onthel Eropa yang mulai turun membuat masyarakat punya kemampuan membeli, walau hanya onthel level medium dan bawah. Onthel Jepang menjadi minim peminat. Namun, seingat Ngatidjo yang mbengkel sejak 1968 ini, dulu, banyak masyarakat, terutama petani, mengendarai onthel Jepang.

Onthel Eropa yang paling murah pun, hanya bisa terjangkau oleh petani kelas menengah ke atas. Petani kelas bawah ya tidak bisa membeli. "Nah, ketika onthel-onthel Jepang menyerbu, petani kelas bawah itu akhirnya bisa membeli," paparnya.

Namun, seiring waktu, pandangan masyarakat tidak salah. Tahun 1990-an, onthel-onthel Jepang mulai jarang terlihat. Saat itu Ngatidjo sering menangani onthel Jepang dan melihat pemiliknya mulai menganggap onthel Jepang cepat rusak dan kurang tangguh. Nasib onthel Jepang pun, banyak berakhir sebagai besi tua.

Namun, aksesoris onthel Jepang seperti stang, standar, boncengan, masih bertahan di pasaran dan kini banyak disematkan di onthel Eropa. Masyarakat mulai melirik sepeda jengki buatan China. Onthel Jepang yang tersisa kini biasanya dipakai petani.

Jepang getol memproduksi sepeda usai Perang Dunia II. Mengutip buku Pit Onthel terbitan Bentara Budaya Yogyakarta tahun 1953, Jepang mempunyai 90 merek. Misalnya, Silk, Yamaguchi, Vanco, Mollis, Radiant, Boeroeng, Diamond, Asia Bike, Zebra, Policy, Fuji, Marue, Club, Lyra, Mayam, Rabbit, dan Shimano. "Ada juga merek The Mister yang boncengannya khas (bermerek Miyata)," ujarnya.

Ditambahkan Ngatidjo, sama seperti onthel Eropa, onthel Jepang juga terbagi dalam beberapa kelas berdasarkan harga dan tingkat kenyamanan.

Shimano menjadi Merek asal Jepang yang terakhir dan paling lama bertahan, tapi sekarang beralih ke produksi aksesoris seperti persneling dan rem yang banyak dipakai sepeda gunung.

Onthel Jepang sebenarnya tidak jelek-jelek amat, tapi memang sekelas di bawah onthel Eropa, baik dari bahan maupun kenyamanan. Masih ada onthel Jepang yang dipakai petani untuk angkut-angkut menunjukkan onthel Jepang pun sebenarnya cukup kuat.

"Sebagian onthel Jepang yang terawat, sejauh yang saya amati, sebenarnya masih nyaman dikendarai, bahkan bisa lebih nyaman ketimbang onthel Eropa. Tapi memang, harga onthel Jepang, belum bisa setara onthel Eropa," papar Ngatidjo.

Ketua Paguyuban Onthel Djogjakarta (Podjok) Towil memperkirakan, surutnya onthel Belanda dan Jepang di Indonesia, juga sepeda bikinan China yang sejak 1970-an sukses menggusur onthel, tak lepas dari kebijakan pemerintah. "Onthel Eropa kini tak dijual. Padahal Gazelle sampai sekarang masih dibuat," ujarnya.

Posted by Wawan Kurniawan on 16.52. Filed under , , , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response

Blog Archive

Labels

Recently Added

Recently Commented