Rabu, 06 Januari 2010


HARIAN JOGJA: Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat siap memproklamirkan diri sebagai Ngayogyakarta Serambi Madinah. Konsep ini digadang-gadang akan mendukung keistimewaan DIY. Konsep daerah yang terinspirasi dari Piagam Madinah ini tengah digodok oleh Keraton dan ditargetkan selesai Maret tahun ini. Menurut Keraton, konsep Serambi Madinah ini ke depannya bukan hanya milik umat Islam, melainkan milik seluruh masyarakat Jogja.


“Saat ini kami bersama berbagai elemen sedang membahas secara periodik mengenai konsep Serambi Madinah,” jelas Penghageng Kewedanan Hageng Panitrapura Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat GBPH Joyokusumo.

“Pada prinsipnya, ‘Serambi Madinah’ akan menjadi produk budaya, bukan produk agama. Sehingga serambi merupakan milik mereka yang merasa warga Jogja,” tambahnya, kemarin.

Piagam Madinah yang dibuat pada masa kepemimpinan Nabi Muhammad SAW diakui sebagai bentuk perjanjian dan kesepakatan bersama bagi membangun masyarakat Madinah yang plural, adil, dan berkeadaban.

Diakui Gusti Joyo, konsep Ngayogyakarta Serambi Madinah dikaitkan dengan Piagam Madinah, yang pada waktu itu disusun masyarakat Madinah saat kepemimpinan Nabi Muhammad SAW melalui proses dialog.

“Butir-butir Piagam Madinah tersebut ada delapan. Lantas kita mencoba menguraikannya dengan kondisi Ngayogyakarta sejak dari masa Sri Sultan Hamengku Buwono I sampai masa Sri Sultan Hamengku Buwono IX,’’ katanya.

Digagas MUI
Awalnya konsep Ngayogyakarta sebagai Serambi Madinah telah dideklarasikan secara sepihak oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) DIY, beberapa hari sebelum memasuki Bulan Suci Ramadan tahun lalu.

Lantas Keraton bersama beberapa organisasi masyarakat di DIY membahasnya secara matang. “Mereka yang terlibat adalah organisasi Islam, dan umat beragama lain yang tergabung dalam Forum Komunikasi Umat Beriman (FKUB). Serta, sejumlah kalangan dari perguruan tinggi,” tambah Gusti Joyo.

Piagam Madinah bisa dianalogikan dengan kondisi DIY yang dipenuhi pendatang. “Dan di bawah kepemimpinan Ngarso Dalem Ngayogyakarta suasana bisa tetap kondusif. Konsep Ngayogyakarta Serambi Madinah akan menambah makna keistimewaan DIY yang selama ini sudah terkenal sebagai kota pelajar, pariwisata, dan kota yang betoleransi.”

Ditambahkan adik kandung Sri Sultan Hamengku Buwono X ini, pembahasan konsep Ngayogyakarta Serambi Madinah ditargetkan akan selesai Maret tahun ini. “Sebelum launching, kami akan berkonsultasu dengan Sri Sultan,” katanya.

Posisi Sultan dalam konsep Serambi Madinah, nantinya sebagai ‘patron’. “Beliaulah nantinya yang akan mendeklarasikan. Sekaligus akan memberikan imbauan atau perintah kepada masyarakat. Dalam kaitan produk budaya itu bisa dikembangkan dalam menata masa depan kehidupan di DIY,” kata dia.

Terobosan positif
Sosiolog UGM Ari Sujito berpendapat, konsep Ngayogyakarta Serambi Madinah adalah sebuah terobosan baru untuk mendukung keistimewaan DIY. Apalagi spirit dari konsep tersebut adalah menghargai pluralisme.

Namun Ari menambahkan, konsep Ngayogyakarta Serambi Madinah akan benar-benar mendukung keistimewaan DIY jika dimasukkan dalam draft RUUK. Selama konsep tersebut tidak ada dalam draft RUUK maka hanya akan hadir sebagai wacana.

“Keraton harus mengclearkan konsep ini ke publik serta pemerintah pusat dan lantas diperdebatkan. Dengan harapan bisa dimasukkan dalam draft RUUK,” tambah Ari.

Kesamaan sejarah
MUI memiliki alasan sendiri mengapa mendeklarasikan Ngayogyakarta Serambi Madinah. Ditilik dari segi sejarah, perjalanan Nabi Muhammad dari Mekkah ke Madinah ternyata memiliki kesamaan dengan kisah bergabungnya Jogja dengan NKRI.

“Muhammad yang berkedudukan sebagai kepala agama sekaligus kepala pemerintahan bersama umat muslim saat itu hijrah dari Mekkah ke Madinah. Keadaan ini serupa dengan keadaan DIY. Waktu dikejar-kejar Belanda, Bung Karno meminta izin Sultan agar bisa melindungi RI, jadi posisi Sultan HB IX sebagai pelindung atau pemberi suaka,” jelas Sekretaris Umum MUI DIY Ahmad Mukhsin Kamaludiningrat saat dihubungi Harian Jogja, tadi malam.

Keadaan Madinah menurut Ahmad juga memiliki kesamaan dengan Jogja yang identik dengan nuansa keragaman. Jogja sebagai miniatur Indonesia memiliki keberagaman agama, budaya, dan suku. Madinah, sebagai sebuah daerah juga memiliki keragaman agama yaitu Kristen, Yahudi dan Islam.

Konsep Nagyogyakarta Serambi Madinah pertamakali diusulkan MUI pada 19 Agustus 2006, dan saat itu proses pembahasan RUUK tengah panas. “Konsep ini lantas dibahas oleh tiga pihak, yakni keraton, Kanwil Depag, dan MUI. Setiap tahun, konsep ini terus disosialisasikan sehingga dikenal masyarakat. Puncaknya, pada 28 September 2009, ketiga pihak menandatangani MoU di Masjid Rejodani [Keraton], isinya sama-sama bertekat menjadikan Jogja sebagai Serambi Madinah,” jelas Ahmad.

Konsep Serambi Madinah untuk DIY lebih ditujukan untuk menjaga dan menghargai keragaman.

Oleh Andreas Tri Pamungkas, Mediani Dyah Natalia, & Laila Rochmatin
HARIAN JOGJA


8 komentar

Sebagai masyarakat Jogja saya setuju dengan sebutan apa saja. Yang penting keberagaman dan pluralitas tetap dihargai dan dijaga. Dan masarakat Jogja tetap bersatu membangun Jogja dalam keberagaman yang ada. Tapi, setelah membuka gogle, ternyata nama itu telah dipakai oleh kota Gorontalo. Dalam tulisan yang saya baca tertera, bahwa sudah sejak lama Gorontalo sebagai Kota Serambi Madinah.

saya orang jawa yang dilahirkan, dibesarkan dan tinggal di Ngayogyakarto Hadiningratan, dan selalu bangga dengan nama itu.
sebaiknya tidak memakai nama yang menonjolkan golongan tertentu, dan saya rasa Sri Sultan masih bijaksana karena tanpa nama serambi ******* itu, Ngayogyakarta masih tetap istimewa.

Pertanyaanya kenapa harus menjadi serambi madinah?
bukankah Jogja itu sudah punya istana...kenapa harus menjadi serambi lagi?
kenapa tidak madinah saja yg menjadi serambi jogja? karena mereka harus belajar dari kita untuk tetap hidup bertahan dalam keragaman dari tahun keathun bahkan dari sebelum Madinah menjadi kota yg ...dikenal seperti saat ini.....Pelajari sejarah, jangan setengah2....
Jangan campuradukkan Jogyakarta dg Madinah. Jogyakarta tetap Jogyakarta dg budaya & adat yg adiluhung. Biarlah Medinah punya beranda sendiri di tanah Arab, tp tdk di tanah Jawa, atau bagian lain Republik Indonesia tercinta yg merdeka, bermartabat, dan berbudaya. Pertahankan keutuhan, ketentraman dan kedamaian negeri ki...ta. Lestarikan budaya Jawa, jgn dikotori budaya berbaju agama.
Saudi/Arab BUKAN Kerajaan Islam, melainkan hanyalah Kerajaan Fasis yang berjubahkan agama..! Dalam proses pendiriannya telah terjadi PEMBASMIAN ulama2 yg tidak sepaham dan tanpa sungkan melakukan PEMBABATAN terhadap makam2: Ibunda Nabi, Ayah Nabi, Khadijah, Kakek Nabi, dan juga para Sahabat Nabi.. Apakah pembuatan Ha...dits2 palsu lebih sulit daripada MEMBABAT makam2 yang dihormati tersebut..? Lalu adakah yang menipu diri dengan berharap melalui slogan2 Serambi Mekah lah atau Serambi Madinah lah adalah sesuatu yang lebih islami daripada Nusantara yang telah lebih berbudaya luhur..??

Tolak Serambi Apapun delete 7 Februari 2010 00.31

Pihak-pihak terkait yang merumuskan ini boleh berkilah apapun, bahwa ide Serambi Medinah hanya mengambil budaya-nya bukan agamanya. Ouwww...really ?
Coba lihat yang terjadi di Aceh.
Pada akhirnya, SYARIAH yang berbicara. Ini tujuan akhirnya, bukan?
Omong kosong, kl SYARIAH melindungi minoritas.
Dan ....
Kenapa sih kita harus ARAB oriented kalau memang 'hanya' ingin mengambil budayanya ? Memangnya cuma mereka yang punya budaya paling baik ?
Jangan sampai kraton Jogja yang independent mau diperbudak Arab demi kepentingan politik.
Saya mohon pak Sultan, sekali anda mengiyakan ide ini, tamat sudah kepluralistis-an DIY.

Wujudkanlah nilai-nilai Nusantara

Mari kita coba menelaah kembali kebelakang, tanpa adanya kerajaan besar Singosari dan Majapahit yang megah dan mukmur merupakan awal dari yang ada di Kesultanan Yogyakarta bahkan negara (NKRI) ini merupakan suatu wujud dari konsepsi kerajaan besar yang pernah diakui kebesaran dan kemegahanya oleh negara-negara didunia.

Banyak pelajaran yang luas dan luhur dalam masa-masa tersebut untuk tetap mempersatukan masyarakatnya dan mempertahankan keberadaan atas kraton-kraton tersebut, seperti halnya mpu Tantular yang terkenal dengan karyanya "Sutasoma Purusada Santa" dengan semboyan yang telah digunakan oleh negara ini "Bhineka Tunggal Ika Tan hana Dharma Mangrwa".

Kerajaan-kerajaan tersebut adalah leluhur dari para sultan-sultan yang ada di Yogyakarta maupun Surakarta. Kiranya dari pelajaran-pelajaran yang telah ada menjadikan bahan pertimbangan untuk menentukan suatu ketentuan kerajaan.

Utamakanlah Visi Nusantaranya untuk mencerminkan kita sebagai putra Nusantara yang masih memiliki darah dari turunan sang Maharaja Nusantara dan tetap mempertahankan Kejawaannya.
Jadikan Jawa adalah Jawa, bukan Jawa yang berjiwa/ruh yang bukan jawa.

Bambang Eko Prihanto delete 11 Februari 2010 07.44

Wah! demikian pengaruh perkembangan demokrasi di nusantara Indonesia! Daerah Istimewa Aceh yang disebut sebagai serambi mekkah, sudah menjadi NAD (=Nuansa Aceh Duka) melalui proses pengorbanan sekian ratus ribu penduduk aceh yang meninggal secara "nistha" oleh kebuasan gempa bumi dan tzunami.
Lha! gilirannya Daerah Istimewa Yogyakarta apakah lantas disebut sebagai serambi madinah, dengan goalnya RUUK DIY? tidak bisa diperkirakan berapa ratus ribu penduduknya juga akan mengalami nasib serupa dengan Serambi Mekah.
Permohonan saya kepada "Sing mBaureksa Jagadh Raya" ; "Bila memang TUHAN berkenan, jadilah demikian dan bukan timbul dari gagasan manusia semata!" Mungkin realita hijrah dari mekkah ke madinah, bisa jadi juga atas perkenan TUHAN, bukan usaha atau reka daya hamba/umat-Nya? Karena TUHAN maha baik dan benar, proses peralilhan "atribut" seperti itu pasti menenteramkan hati setiap ciptaan-Nya. Tidak ada pro dan kontra, tidak ada gempa dan atau tzunami, dan tidak diperlukan lagi utusan khusus TUHAN untuk menjadikan peralihan "atribut" kota Yogyakarta. Marilah belajar dari perjalanan berbangsa dan bernegara kita ini. Kita memilih sendiri para pemimpin bangsa, tapi kita jugalah yang menghujat pilihan kita. Apa iya demokrasi ini akan berkembang pada pemilihan umum untuk menentukan siapa yang akan menjadi TUHAN? Siapapun yang terpilih menjadi TUHAN Yang Maha Esa akhirnya juga akan dihujat oleh bangsa ini. Sekian. RAHAYU!

saya tidak setuju,,, saya orang jawa,,, apa bangganya jadi serambi bangsa lain

Monggo..?!? setuju atau nggak setuju, saya yakin jika itu akan terwujud..
Setidaknya, jika diri kita ini orang yang baik dan berkualitas, dimanapun kita tinggal dan apapun nama kota yang kita tempati, nyaman-nyaman aja tuh..


EmoticonEmoticon