|

Unik, Lomba Jemparingan Tingalan Dalem Sultan HB X

YOGYA (KRjogja.com) - Untuk melestarikan olahraga tradisional, Pemda DIY bersama Keraton Kasultanan Yogyakarta menggelar lomba panahan tradisional di Lapangan Kemandungan Keraton Yogyakarta. Jemparingan gaya mataraman Keraton Ngayogyakartohadiningrat ini diadakan untuk memperingati tingalan dalem atau hari kelahiran Sri Sultan Hamengkubowono X pada Selasa Wage, 23 Januari 2010.

Menurut Abdi Dalem Keprajan dan Punakawan Keraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat sekaligus Ketua Paguyuban Panahan Tradisional Yogyakarta, KPH Winoto Kusumo, Selasa (26/1) mengatakan lomba jemparingan ini selalu diikuti tiap-tiap kabupaten/kota yang ada di DIY serta daerah lain seperti Klaten, Delanggu dam Wonogiri.

"Acara ini sudah diadakan ratusan kali setiap weton tingalan dalem Sri Sultan Hamengkubuwono X sebagai wujud syukuran hari lahir beliau," ujar KPH Winoto Kusomo.

Ditambahkan oleh sekretaris panitia, KRT wasesowinoto untuk persyaratan lomba ini dapat diikuti dari masyarakat umum dari berbagai usia. Biaya yang dikenakan hanya Rp.5000/orang itu untuk biaya cucuk atau orang yang mengambil anak panah yang sudah di lontarkan peserta.

"Setiap peserta wajib menggunakan busana tradisional jawa dan membawa alat panah, busur, armgard atau tutup tangan serta fingertap untuk menutup jari dan jemparingan dilakukan duduk bersila" kata KRT Wasesowinoto.
Mengenai jalannya perlombaan, KRT Wasesowinoto menjelaskan lomba ini akan berlangsung selama 10 ronde, dimana setiap satu ronde ada 4 anak panah yang diluncurkan. Untuk sasaran digunakan boneka ortang-orangan, kalau sasaran mengenai kepala nilainya 3 dengan bendera kuning, mengenai leher nilanya 2 dengan bendera merah, kena badan skornya 1 dengan bendera putih dengan jarak sasaran 30 meter.

Salah seorang peserta dari Gunung Kidul, Sri Asri wurani yang telah mengikuti lomba jemparingan sejak tahun 1982 menyampaikan pernah mendapatkan ekalaya atau 4 kali memanah mengenai kepala yang dihargai Rp.10.000 ." olah raga ini santai meskipun butuh konsentrasi," ujarnya.

Sementara peserta asal Solo, Popof mengatakan sudah mengikuti event ini sejak tahun 1985 pada saat diselenggarakannya PON yang ke 11." Awalnya saya merasa agak kesulitan untuk mengenai sasaran meskipun sudah sering mengikuti tetapi pada akhirnya saya pernah mendapat juara pertama,"katanya.

Perlombaan ini memperebutkan tropi dari Pemda DIY dan sejumlah uang pembinaan. (Fir)

Posted by Wawan Kurniawan on 16.40. Filed under , , , , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response

Blog Archive

Labels

Recently Added

Recently Commented