|

Kirap Merti Bumi Dusun Kadilobo Hingga Lereng Merapi

Tak Hiraukan Hujan
Kirap Merti Bumi Dusun Kadilobo Hingga Lereng Merapi

RADAR JOGJA - SLEMAN - Hujan deras sejak pukul 13.00 yang mengguyur wilayah Sleman bagian utara, tak menyurutkan niat para peserta kirab merti bumi di Dusun Kadilobo, Purwobinangun, Pakem. Ratusan bahkan ribuan warga tetap khidmad mengikuti semua prosesi hingga selesai.

Rute kirab menempuh jarak sekitar 15 kilometer hingga lereng Merapi. Rute tersebut tentu tak ditempuh dengan jalan kaki. Semua peserta menumpang kendaraan roda empat. Bahkan kereta dengan belasan roda pun diikutsertakan untuk mengangkut peserta yang rata-rata anak-anak.

Kendati begitu, sebagian diantaranya tetap saja harus berhujan-hujanan. Para orang tua, baik laki maupun perempuan, terlihat bayah kuyup menjaga gunungan hasil bumi yang diangkut dengan mobil pikap. Selain itu, puluhan pengendara motor juga nekat menerobos hujan demi kemeriahan merti bumi.

"Acara ini rutin tiap tahun. Dulu peserta memang jalan kaki. Tapi hanya mengelilingi dusun. Saat ini kan sudah modern, jadi kirab dengan kendaraan dengan rute lebih jauh," ujar Sualman, 65, sesepuh dusun setempat.

Warga Kadilobo itu mengatakan, merti bumi pertama kali digelar pada tahun 1960. Konon, kirab pada zaman dulu masih sacral, sehingga dilakukan dengan kesederhanaan. "Berjalannya waktu, warga muali antusias ikut kirab. Saat ini merti bumi tak lebih sebagai ungkapan rasa syukur usai panen," imbuhnya sebelum kirab berlangsung.

Kendati menumpang kendaraan, kirab juga diikuti oleh bregodo berseragam prajurit keraton. Lengkap dengan tombak dan keris terhunus di pinggang peserta. Rombongan itu berada paling depan, sebagai penunjuk jalan. Di belakangnya mobil pikap pengangkut gunungan buah dan sayur. Selanjutnya mobil pengangkut perangkat desa, dan kereta odong-odong yang membawa anak-anak.

Start dimulai di Balai Dusun Kadilobo dan finish di salah seorang rumah tokoh masyarakat bernama Senodiharjo. Di tengah perjalanan, peserta sempat berhenti untuk menampilkan kesenian jathilan. Tepatnya di aula relokasi bencana di lereng Merapi di Dusun Gatep.

Semua penampil jathilan adalah anak-anak. Kendati begitu, penampilan mereka tak kalah dengan orang dewasa. Baik kelincahan maupun keluwesan dalam menari. Kirab semakin meriah dengan kehadiran warga desa di lereng Merapi untuk menyaksikan tari jathilan. Sekitar 30 menit berlangsung, rombongan kirab meneruskan perjalanan hingga finish.

Dukuh Kadilobo Tri Sutikno berharap kirab yang dikemas tradisional-modern ini bisa tetap lestari. "Ini sebagai upaya nguri-nguri budaya Jawa," katanya. Bagi warga yang percaya, merti bumi menjadi salah satu kegiatan yang sangat berarti. Khususnya masyarakat petani yang mendominasi warga Kadilobo. (yog)

Posted by Wawan Kurniawan on 16.04. Filed under , , , , , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response

Blog Archive

Labels