|

Razia Narkoba, Dapat Gambar Porno

RADAR JOGJA | BANTUL - Secara mendadak, kemarin (24/2) jajaran Polres Bantul melakukan razia narkoba di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Pajangan, Bantul. Dalam operasi selama 2,5 jam itu, polisi tak menemukan narkoba, tapi menemukan gambar porno. Dalam razia yang terkesan mendadak itu, setidaknya melibatkan 40 personel kepolisian. Mereka mengeledah di semua sudut tahanan, tapi petugas hanya menemukan gambar porno, bungkus rokok dan kartu remi yang diduga digunakan untuk berjudi oleh para nara pidana (napi).

"Kegiatan ini inspeksi mendadak (sidak). Satu jam sebelum operasi, kami koordinasikan dengan Kepala Rutan Pajangan, sehingga kemungkinan razia ini bocor sangat kecil," kata Kasat Narkoba Polres Bantul AKP Faturahman kepada wartawan usai melakukan operasi narkoba di Rutan Pajangan, kemarin (24/2).

Faturahman menjelaskan, razia narkoba di rutan ini bertujuan untuk memberantas peredaran narkoba di wilayah Polres Bantul. Operasi narkoba ini rencananya akan digelar secara rutin tiap bulan. Tida hanya di rutan, razia juga bakal digelar di sekolah-sekolah, dan tempat-tempat umum lainnya.

"Ada sinyalemen, pengendalian peredaran narkoba dilakukan dari dalam penjara. Tapi, kenyataannya ketika kami razia, tidak ditemukan narkoba, yang ada hanya gambar porno, kartu remi atau pun bekas bungkus rokok," papar Faturahman.

Sementara itu, Kepala Rutan Pajangan Bantul Djailani SH mengatakan, saat ini penghuni rutan Pajangan Bantul sebanyak 170 orang, terdiri dari nara pidana sebanyak 83 orang dan tahanan sebanyak 83 orang. "Untuk tahanan kasus narkoba ada tiga orang. Jika tahanan ini sudah vonis tetap, maka ketiganya akan dipindah ke LP Narkoba Grhasia yang ada di Pekem Sleman," tegas Djailani.

Terkait dengan operasi narkoba, Djailani mengaku sangat terbuka dan berterima kasih atas digelarnya razia narkoba tersebut. Baginya, dengan operasi seperti yang baru berlangsung, sebagai bagian dari shock terapi bagi penghuni rumah tahanan. "Kita selalu terbuka dan bekerja sama dengan aparat kepolisian," terang Djailani.

Djailani berjanji akan mengubah citra atau image yang mengatakan bahwa penjara adalah negara di dalam negara. Ia mengingatkan ada mekanisme khusus yang harus dipahami semua pihak ketika berkunjung ke rutan, terlebih ketika hendak membesuk seorang tahanan atau napi.

"Kami telah memasang CCTV di ruang pembesuk untuk mengantisipasi tindak yang tidak diinginkan, termasuk untuk mengontrol barang-barang yang dilarang masuk ke rutan," jelasnya. (mar)

Posted by Wawan Kurniawan on 04.00. Filed under , , , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response

Blog Archive

Labels

Recently Added

Recently Commented