|

Gunakan Genset, Aktivitas Beringharjo Normal

500 Pedagang Tutup
RADAR JOGJA - Padamnya listrik di Pasar Beringharjo sudah bisa teratasi. Usai terkatung-katung selama tiga hari sejak Jumat (2/4) sampai Minggu (4/4), kemarin (5/4) pagi, pukul 10.40, pedagang sudah bisa beraktivitas normal seperti sedia kala. Setelah, Dinas Pengelolaan Pasar (Dinlopas) menyewa generator set (genset) untuk menerangi seluruh area pasar terbesar di DIJ tersebut.

"Akhirnya, demi pulihnya aktivitas ekonomi di sini (Pasar Beringharjo), kami menyewa genset dari pihak swasta. Karena, genset yang kami miliki dengan daya 60 kva ternayata rusak dan tidak dapat digunakan," kata Ahmad Fadli, Kepala Dinlopas, kemarin (5/4).Diungkapkan Fadli, pihaknya harus mencari dua buah genset untuk menerangi seluruh area pasar tersebut. Pertama genset yang memiliki kapasitas 60 kva/ 60 ribu watt dan genset berkapasitas 250 kva/ 250 ribu watt. "Uang yang harus kami keluarkan untuk genset yang 60 ribu watt perhari Rp 2,6 juta. Sedangkan, yang menghasilkan daya 250 ribu watt Rp 6,5 juta," jelasnya.

Akibat listrik padam selama tiga hari saat libur panjang akhir pekan, pedagang memang banyak mengalami kerugian. Bahkan, rezeki yang mereka dapatkan tergantung dengan terangnya matahari menyinari lapak-lapak mereka.

"Kalau yang berada di depan atau sinar mataharinya terang, pendapatannya menurun sampai 25 persen. Yang berada di tengah atau agak terang menurun 50 persen. Yang terakhir lebih tragis, daripada tidak jualan, pendapatannya hanya 10 persen dari hari biasa," kata Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Beringharjo Pager Raharjo Ujun Junaedi.

Seorang ibu yang menjajakan sembago, ketika ditemui mengeluhkan penurunan omzetnya. Dengan mengandalkan lilin sebagai penerang, ia mendapatkan uang Rp 350 ribu. "Biasanya saya mendapatkan uang Rp 1 juta. Apalagi, kemarin (Jumat-Minggu) kan libur panjang," tandas Sajirah.

Padamnya listrik selama dua setengah hari tersebut juga membuat pedagang di pusat ekonomi tersebut mengurungkan niat berjualan. Dari data paguyuban pedagang, sedikitnya 500 pedagang di pasar yang mampu menampung 5.700 pedagang ini tak berjualan. "Ini terjadi di bagian tengah yang pencahayaannya bergantung pada lampu," imbuh Ujun.

Gelap gulita selama dua setengah hari, otomatis membuat gembira seluruh penghuni pasar Beringharjo saat lampu menyala dengan genset. "Alhamdulillah, terima kasih ya Allah. Tiga hari berjualan seperti di dalam gua akhirnya sudah kembali seperti semula," gumam Riyanto, pedagang makanan.

Kegembiraan pedagang ini berbeda dengan yang dialami Dinlopas. Mereka harus memikirkan secepatnya segera mendapatkan pengganti travo yang sudah pernah rusak di tahun 2008 lalu. "Kami akan usulkan untuk membeli travo baru yang diperkirakan harganya Rp 300 juta -Rp 400 juta. Selain itu, kami mengusulkan adanya genset untuk keadaan darurat seperti ini," ujar Fadli lagi.

Hal ini mendapatkan dukungan dari anggota DPRD Kota Jogja dari Komisi B Suharyanto. Ia menuturkan, penggantian travo tidak perlu menunggu terjadi kerusakan. "Kalau umurnya sudah melebihi batas ya diganti," lanjutnya.

Dikatakan Suharyanto, pada APBD tahun 2010 ini, sebenarnya dari Dinlopas sudah menganggarkan pengadaan genset tersebut. Namun, disebabkan saat pembahasan APBD dianggap tak prioritas, pengadaannya pun dibatalkan. "Pada pembahasan perubahan harus ada," katanya.

Saat ini proses pengadaan travo yang berkapasitas 250 kva tersebut, sudah berada di Sekretariat Daerah (Setda) Kota Jogja. Dari informasi Wali Kota Herry Zudianto, pengadaannya akan diambilkan dari pos anggaran tak terduga. Karena termasuk kesalahan force mayor.

Dinlopas menjanjikan akhir pekan ini, pihaknya sudah mendapatkan travo baru. Sebab, travo tersebut sepenuhnya menjadi tanggung jawab Pemkot Jogja. Menurut Dewi Tejorini, Kepala Bidang Pengelolaan Lahan dan Retrebusi Dinlopas Kota Jogja, travo baik dari pengadaan dan perawatan memang kewenangan pihaknya. Meski, setiap bulan pihaknya harus membayar Rp 39,5 juta untuk aliran listrik ini.

"Pemasukan dari retrbusi listrik per bulan dari pedagang hanya Rp 35,5 juta. Mereka rata-rata dipatok Rp 50 ribu sampai Rp 75 ribu. Kekurangannya diambilkan dari anggaran APBD kota," tuturnya. (eri)

Posted by Wawan Kurniawan on 00.26. Filed under , , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response

Blog Archive

Labels