|

SNMPTN : Server Ngadat, Nomor Ganda di Mana-Mana

YOGYAKARTA - Pelaksanaan ujian tulis hari pertama seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNMPTN) di wilayah Jawa Tengah dan DIY kemarin mengalami banyak gangguan.


Panitia sempat dibuat repot akibat tidak optimalnya server yang dipergunakan untuk proses pendaftaran secara online calon peserta ujian dan banyaknya nomor ujian yang sama. Kasus nomor ujian ganda terjadi di Yogyakarta, Solo Semarang dan Purwokerto. Di Yogyakarta, nomor ganda antara lain muncul di UGM,UNY dan UIN. Jumlah nomor ujian ganda mencapai puluhan.


Akibat kondisi tersebut, peserta yang namanya tidak tercantum didalam ruang ujian langsung difasilitasi dengan memanfaatkan ruangan terpisah. Peserta tetap tidak dirugikan dan diikutkan tes lantaran sudah membayar dan memenuhi seluruh persyaratan administrasi. “Adanya kejadian ini langsung kami buatkan berita acara sebagai evaluasi,” ujar Ketua Panitia Lokal SNMPTN Regional Yogyakarta Budi Prasetyo.

Rektor UNS Ravik Karsidi menyatakan di UNS, nomor ujian ganda ditemukan ada empat buah. Dari empat nomor tersebut,setiap nomor dimiliki oleh dua peserta. Dengan kata lain, dari empat nomor tersebut melibatkan delapan peserta. Dari informasi yang dia terima, kasus nomor ganda paling banyak terjadi di Semarang. Munculnya nomor ganda ini terjadi akibat kesalahan saat pembayaran di Bank Mandiri.


Untuk itu, panitia lantas memberikan nomor baru pada peserta. Nomor baru itulah yang dimasukkan ke Lembar Jawab Ujian (LJU) sehingga peserta tidak dirugikan.“Temuan lainnya adalah terdapat peserta yang salah datang ke lokasi ujian. Ada tiga peserta yang salah datang ke lokasi ujian,” jelas Ravik. Selain nomor ganda, Panlok Yogyakarta juga mencatat terdapat lebih dari 100 nomor pin pendaftaran yang tidak dapat dipergunakan oleh peserta dalam registrasi.


Pihaknya juga menemukan beberapa calon peserta yang tidak dapat melakukan registrasi pendaftaran secara online. Dua calon peserta dari Nusa Tenggara Timur (NTT) meski sudah membayar tidak dapat melakukan registrasi dan tidak bisa menjadi peserta seleksi. Terkait dengan nomor pin yang tidak berfungsi ini, ternyata juga terjadi secara nasional. Tercatat nomor pin yang tidak berfungsi tersebut mencapai ribuan jumlahnya.


“Dari 540.000-an peserta secara nasional, ada sekitar 9.000-an pin yang tidak berfungsi,” ungkap Bendahara Umum SNMPTN Rochmat Wahab. Sementara itu,total peserta SNMPTN di Korwil II Jateng- DIY mencapai 79.284 peserta. Rinciannya di Semarang 23.664 orang, Solo 17.389 orang,Yogyakarta 30.510 orang dan Purwokerto 7.721 orang. Di Semarang, tiga peserta salah teridentifikasi sebagai tuna netra.


Padahal ketiganya adalah peserta dengan kondisi tidak berkebutuhan khusus. Ketiganya kemudian diberikan pelayanan sama seperti peserta normal lainnya.Ketiga peserta SNMPTN itu, adalah Eko Hardianto yang mengikuti SNMPTN di FMIPA Unnes, Sutejo yang mengerjakan tes di FE Undip,dan Adi Herdianto yang mengikuti tes di SMK Negeri 3 Semarang.


Ketua Panitia Lokal 42 SNMPTN Semarang, Agus Wahyudin mengatakan, bahwa berdasarkan data yang masuk ke Panlok 42 Semarang,ketiga peserta tersebut memang terdaftar sebagai penyandang tuna netra.Namun, saat dilakukan pengecekan sebelum ujian, ketiganya bukanlah penyandang tuna netra.“Karena tidak tuna netra,mereka diperlakukan sama dengan peserta lainnya,”paparnya. -
[maha deva/ sumarno/ susilo himawan]





Translate Using Google Translate May Need Grammar Correction


SNMPTN: Server Crashed, Double Number Everywhere


YOGYAKARTA - Implementation of a written test the first day of the national selection into public universities (SNMPTN) in Central Java and Yogyakarta yesterday suffered a lot of distractions.


The committee had made troublesome due to not optimal server used to process online registration and the number of exam candidates for the same exam number. Case number doubles exam occurred in Yogyakarta, Solo and Semarang, Purwokerto. In Yogyakarta, the doubles, among others, appear in the UGM, UNY and UIN. Total number in the tens of double examinations.


Due to these conditions, the participant whose name is not listed in the exam room directly facilitated by utilizing a separate room. Participants still are not disadvantaged and excluded because the test has already paid and fulfill all administrative requirements. "The existence of this incident we immediately made the news shows as evaluation," said Chairman of the Local Committee for Regional SNMPTN Yogyakarta Budi Prasetyo.


Rector UNS UNS Ravik Karsidi expressed in numbers, double test found there are four. Of the four numbers, each number is owned by two participants. In other words, the four numbers are involved eight participants. From the information he has received double the number of cases were most numerous in Semarang. The emergence of dual numbers is due to an error when payment in Bank Mandiri.


To that end, the committee then gave the new number to participants. That new number is entered into the Examination Answer Sheet (LJU) so that participants are not disadvantaged. "Another result is that there is one participant who came to the exam location. There were three participants who either come to the location of the exam, "explained Ravik. In addition to the doubles, Panlok Yogyakarta also noted there are more than 100 registration pin number that can not be used by participants in the registry.


It also found some potential participants who can not register online registration. Two candidates from East Nusa Tenggara (NTT), though it pays not to register and can not be a participant selection. Related to the pin number is not working, it also occurs nationally. Noted pin number that does not work reaches thousands of them.


"Of the 540,000 of the participants nationally, there are about 9,000 of the pins are not functioning," said Treasurer SNMPTN Rochmat Wahab. Meanwhile, the total participants Korwil II SNMPTN in Central Java-Yogyakarta reach 79,284 participants. The details are 23,664 people in Semarang, Solo 17 389 people, Yogyakarta, Purwokerto 30,510 people and 7721 people. In Semarang, one of three participants identified as blind.


Though all three are participants with disabilities are not conditions. All three are then given the same service as normal participants lainnya.Ketiga SNMPTN participants, was Eko Hardianto who follow in the Science Faculty SNMPTN Unnes, Sutejo who work in FE Undip tests, and Adi Herdianto who take the exam at SMK Negeri 3 Semarang.


Chairman of the Committee for Local 42 SNMPTN Semarang, Agus Wahyudi said that based on the data that goes into Panlok 42 Semarang, the third participant is registered as disabled tuna netra. when carried out checks before the exam, the trio is not the physically blind. "Since no blind , they are treated equally with other participants, "he explained.

Posted by Wawan Kurniawan on 16.27. Filed under , , , , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response

Blog Archive

Labels