|

Masuk Malioboro Kian Jauh : Pengendara Harus Memutar Lewat Jembatan

JOGJA - Pembangunan Jembatan Kleringan di atas Kali Code sudah dimulai. Ternyata, pembangunan jembatan itu justru tidak mempermudah pengguna jalan untuk masuk ke Malioboro. Pengguna jalan dari Jalan Kleringan harus memutar di Jalan Abu Bakar Ali. Mereka harus melintasi jembatan yang segera dibangun, sebelum melaju ke arah barat hingga menuju Malioboro.


”Jadinya memang memutar. Dari Kleringan terus sampai di pertigaan bawah Jembatan Kewek Kotabaru ke selatan, langsung ke barat,” kata Kepala Dinas Permukiman dan Prasarana Wilayah (Kimpraswil) Kota Jogja Toto Suroto, akhir pekan lalu. Toto menjelaskan, dengan memutar justru akan mengurangi kemacetan lalu lintas. Sebab, pertigaan lampu merah di Taman Adipura hanya ada satu dari arah Kotabaru saja.


”Bawah Kretek Kewek jadi satu jalur, untuk pengendara dari arah Abu Bakar Ali yang akan menuju ke Kotabaru,” imbuhnya. Berkurangnya jumlah lampu merah itu, menurut Toto, bakal mengurangi kemacetan yang selama ini kerap terjadi. Pengendara tidak harus berhenti lantaran terkena banyak lampu merah.



Selain itu, ruas jalan menjadi lebih panjang. ”Ditambah, jalan nantinya juga lebih lebar. Jadi bisa menampung jumlah kendaraan yang melintas lebih banyak,” terangnya.


Sesuai rencana dalam Detail Engineering Design (DED) yang telah tersusun, lebar jembatan tersebut seluas 18 meter. Dari ukuran lebar tersebut, ruas yang efektif digunakan sebagai jalan adalah 14 meter. Empat meter badan jalan digunakan untuk trotoar di sisi kanan dan kiri masing-masing dua meter.


Melihat panjangnya jembatan tersebut, rencananya 36 meter sejak dari Jalan Kleringan sampai Jalan Abu Bakar Ali Kotabaru. Jembatan ini juga direncanakan didesain lebih kuat untuk menahan kendaraan besar. ”Cukup dan kuat. Bus-bus besar yang biasanya tersangkut di Jembatan Kewek, kami pastikan tidak terjadi di Jembatan Kleringan ini,” tuturnya.


Anggota Komisi C DPRD Kota Jogja M Fursan menilai pembangunan jembatan tersebut bisa berakhir mubadzir. Asumsi tersebut berdasar pada desain arus lalu lintas yang berada di sekitar jembatan tersebut tak lebih ringkas.


”Kalau tujuannya untuk memecah kemacetan, seharusnya keruwetan yang saat ini ada dipecah. Dicari penyebabnya, baru dicarikan solusi terbaik,” saran politikus dari PAN ini.


Ketua Fraksi PAN DPRD Kota Jogja ini melihat sumber kemacetan lalu lintas saat ini adalah lampu merah di depan Taman Adipura dan Gardu Listrik. Lampu merah itu yang kerap menahan kendaraan tidak bisa langsung ke Malioboro. Alhasil, kemecatan di sepanjang jalan menuju akses Jalan Malioboro kerap menumpuk.


”Kalau itu tidak dicarikan solusinya, saya malah khawatir, pembangunan jembatan itu tak berguna. Hanya malah menambah kemacetan,” tuturnya.
Dia mengusulkan Kimpraswil maupun Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Jogja melakukan kajian dengan mendalam mengenai penyebab kemacetan tersebut. Hasil kajian itu baru dicarikan solusinya.


”Tanpa mengubah, baik menambah atau mengurangi desain yang ada, lebih baik dikaji terlebih dahulu,” usulnya. Apalagi, anggaran untuk membangun jembatan tersebut cukup tinggi. Nilainya mencapai Rp 9,28 miliar. Dana itu merupakan sharing Pemprov DIJ sebesar Rp 8 miliar dan Pemkot Kota Jogja Rp 1,28 miliar. (eri)





Translate Using Google Translate May Need Grammar Correction


Sign Malioboro Increasingly Far: Motorists Must Play Through Bridge



YOGYAKARTA - Construction of bridge over the Kali Code Kleringan already begun. Apparently, the construction of the bridge that just does not make road users to go to Malioboro. Road users of road Kleringan must rotate at Jalan Abu Bakar Ali. They have to cross a bridge built soon, before moving westward to to Malioboro.


"Happens to really play. From Kleringan continue until the junction below the Bridge Kewek Kotabaru to the south, directly to the west, "said Head of Settlement and Regional Infrastructure (Infrastructure) Title Toto Suroto, last weekend. Toto explains, by rotating it will reduce traffic congestion. Therefore, the T-junction traffic light at Park Adipura there is only one of Kotabaru direction only.


"Bottom Kretek Kewek be a one-lane for motorists from the direction of Abu Bakr Ali, who will go to the Kotabaru," he added. Reduced number of red lights, according to Toto, would reduce the congestion that has been frequent. Motorists should not stop because the affected lots of red lights.


In addition, the road becomes longer. "Plus, the road will also wider. So can accommodate the number of vehicles passing more, "he explained.


As planned in the DED (DED) which has been arranged, the width of the bridge is an area of ​​18 meters. From the width, the segments are effectively used as a road is 14 meters. Four meters of the road used for the sidewalk on the right and left each of the two meters.


Seeing the length of the bridge, the plan is 36 meters from the road to Jalan Abu Bakar Kleringan Ali Kotabaru. This bridge is also planned to be designed stronger to withstand large vehicle. "Simply and powerful. Buses are usually caught in large Kewek Bridge, we make sure that does not happen in this Kleringan Bridge, "he said.


Members of Parliament Commission C Jogja M Fursan assess the construction of the bridge could end mubadzir. The assumption is based on a design flow of traffic around the bridge is no more concise.


"If the purpose is to break up congestion, the current imbroglio should have broken down. Looking for the cause, a new best solution found, "advises politicians of this PAN.


PAN faction chairman Jogja City Legislature is looking at the source of traffic congestion today is a red light in front of the Park Adipura and Electrical Substation. The red lights are often not able to hold the vehicle straight to Malioboro. As a result, kemecatan along the access road to Jalan Malioboro often accumulate.


"If it does not find a solution, I even worry, the construction of the bridge was useless. Only adds to congestion, "he said.
He proposed Infrastructure and Transportation Department (Transportation Agency) Title conduct a study with in-depth about the cause of the jam. The results of the study of new solutions.


"Without change, either increase or reduce existing designs, better be reviewed first," he suggested. Moreover, the budget for building the bridge is quite high. Its value reached USD 9.28 billion. Dana was a sharing province DIJ Rp 8 billion and the municipal government of Yogyakarta Rp 1.28 billion.

Posted by Wawan Kurniawan on 15.14. Filed under , , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response

Blog Archive

Labels

Recently Added

Recently Commented