|

Peringatan Hari Jadi Ke-180 Kabupaten Bantul : Bertabur Prestasi, tapi Beragam Masalah

BANTUL - Gegap gempita peringatan ulang tahun ke-180 Kabupaten Bantul mencapai puncaknya, pagi kemarin (20/7). Di lapangan Trirenggo yang berada tepat di depan rumah dinas Bupati Bantul, upacara peringatan itu digelar. Upacara yang menggunakan bahasa Jawa itu dihadiri Gubernur DIJ Hamengku Buwono X, Bupati Bantul Sri Suryawidati beserta jajaran pejabat teras serta ribuan masyarakat Batul. Upacara sarat dengan budaya Jawa yang kental. Para lelaki menggunakan surjan, blangkon, dan keris terselip di belakang. Sedangkan peserta perempuan berkebaya.


Di tengah lapangan, berkumpul puluhan SKPD dan camat dengan surjan dan kebaya putih. Bupati Sri Suryawidiati mengambil posisi sebagai pemimpin upacara, sedangkan Hamengku Buwono X menjadi pembina upacara.
Di pinggir lapangan, dipenuhi warga perwakilan dari 17 kecamatan dam ribuan anggota pramuka. Tak luput juga masyarakat sekitar yang ingin tahu peringatan kabupaten mereka. Terlihat banyak jodang atau hasil bumi di pinggir lapangan.


Sri Suryawidati dalam sambutannya memaparkan kondisi Bantul saat ini kepada Gubernur DIJ serta seluruh elemen masyarakat yang hadir. Menurutnya, Bantul meraih banyak prestasi baik di tingkat provinsi, nasional, maupun internasional.

Beberapa prestasi tersebut meliputi berbagai bidang. Seperti di pendidikan, putri Bantul Atik Fajariyani berhasil menjadi peraih NEM SMK tertinggi se-Indonesia. Sedangkan di pertanian, meraih juara pertama tingkat nasional Penerapan Mutu Produk Pertanian. ’’Bantul juga meraih juara satu penyuluhan yang dikelola petani untuk bidang ketahanan pangan,’’ ujarnya.


Dia menambahkan, prestasi bidang kesehatan Bantul sebagai peringkat kelima nasional dalam indeks pembangunan manusia kesehatan. Tak luput juga bidang Koperasi. ’’Bantul dinobatkan sebagai kabupaten penggerak koperasi dan bakti koperasi,’’ ujar bupati yang akrab disapa Ida ini. Prestasi lain seperti di bidang lingkungan hidup dan sebagainya terus dipaparkan Ida dalam pidatonya.


Dalam upacara ini juga diserahkan 23 trofi untuk putra-putri Bantul yang berprestasi di berbagai bidang. Seperti pendidikan dan kebanyakan olahraga.


Tetapi, Ida tidak menampik masih banyak masalah yang dihadapi Bantul. Dia mengakui, permasalahan kemasyarakatan terus bermunculan. Kebanyakan permasalahan klasik yang entah sampai kapan bisa diselesaikan, seperi kemiskinan dan tandemnya pengangguran. ’’Pengangguran dan kemiskinan masih jadi masalah utama,’’ katanya.


Tetapi, ada juga masalah yang muncul akibat derasnya arus pembangunan di Bantul. Seperti terus menyusutnya lahan pertanian. Padahal pertanian menjadi salah satu tumpuan ekonomi di bumi Projotamansari tersebut. ’’Lahan pertanian semakin berkurang,’’ katanya.


Pemkab, kata bupati, tak tinggal diam terhadap permasalahan tersebut. Untuk penyusutan lahan, pemkab menggalakkan program rintisan penetapan lahan pertanian berkelanjutan serta program-program pemberdayaan prorakyat. ’’Masalah menjadi cambuk bagi kami untuk terus mencari inovasi sebagai penyelesaian,’’ ujarnya.


Gubernur DIJ Hamengku Buwono X dalam pidato singkatnya mengenang peranan Bantul sebagai daerah yang punya andil dalam kemerdekaan Indonesia. Bantul merupakan markas para pahlawan Indonesia. Seperti Pangeran Diponegoro yang bermarkas di Gua Selarong. ’’Semoga Bantul akan lebih baik dan maju,’’ ujarnya.


Setelah HB X memberikan sambutan, Agyomurni, tombak pemberian Sultan kepada Bantul diarak keliling lapangan. Bau melati menyeruak dari tombak yang dianggap sebagai perlambang pemerintahan yang bersih. Seperti sebuah harapan yang digantungkan Sultan pada pemerintah Bantul.
Sebagai kabupaten yang kental dengan aktivitas budaya yang lekat, aksi budaya pun tak terlupakan. Dimulai dengan munculnya 27 perempuan berselendang merah, hijau, dan biru di tengah lapangan dan dengan gemulainya menari Tarian Gambyong.


Tak ketinggalan, tiap-tiap kecamatan dan SKPD membuat parade sendiri. Ada sekitar 24 jodang atau hasil bumi yang diarak kemarin. Sebanyak 17 berasal dari kecamatan, sedangkan sisanya dari SKPD.
Parade yang cukup menarik perhatian adalah dari kecamatan Sanden. Sebagai masyarakat pesisir mereka memunculkan sosok Nyi Roro Kidul yang diperankan perempuan muda berambut panjang, berbaju hijau serta bermahkota yang diangkat dengan tandu oleh beberapa warga.


Tapi bukan mitos itu saja yang mereka munculkan, masyarakat Sanden mencoba kritis dalam parade mereka dengan munculkan sapi, diperankan dua orang, yang dilucuti oleh lelaki. Dari penjelasannya diketahui, hal tersebut adalah aksi penolakan mereka terhadap impor sapi Australia yang membuat harga sapi jeblok. ’’Kami menolak sapi impor,’’ teriak para anggota parade.


Di penghujung acara, semua parade beserta 24 jodang di arak menuju Lapangan Paseban di depan kantor bupati untuk diperebutkan warga. Dari pantauan Radar Jogja, aksi tersebut sempat membuat macet jalanan kota Bantul karena masyarakat yang menonton di sepanjang jalan. Begitu antusiasnya warga merayakan hari jadi kabupaten mereka. (hed)



8.600 Orang Pecahkan Rekor Muri


Sebanyak 8.600 warga Bantul memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia (Muri) untuk kategori panemobromo terbanyak. Bukan hanya di Indonesia, rekor ini juga pertama di dunia.


Rekor panembromo terbanyak tersebut dinyanyikan 8.600 orang yang berasal dari unsur desa, kecamatan, satuan kearja perangkat daerah (SKPD), BUMD, dan sejumlah elemen masyarakat Bantul. Mereka menyanyikan tembang berjudul ’’Kinanthi’’ selama kurang 15 menit pada upacara peringatan hari jadi ke-180 Bantul di Lapangan Trirenggo Bantul, kemarin (20/7).


Menurut Daliyanto, sekretaris panitia hari jadi Bantul, rencana awal ada 6.000 orang yang akan membawakan panembrono. ’’Kurang lebih kami targetkan 6.000 orang yang bakal nyanyi,’’ jelasnya sebelum acara berlangsung. Tetapi, pada hari H ada lebih dari 6.000 yang bersedia membawakan panembromo.


Sriwidayati, perwakilan dari Muri menambahkan, saat penyerahan sertifikat Muri ada 8.600 orang yang menyanyikan. ’’Panembromo yang melibatkan sebanyak 8.600 orang ini merupakan yang pertama kali di Indonesia, dan hanya di Bantul,’’ katanya.


Dia menuturkan, panembromo terbanyak ini merupakan rekor yang ke sekian kali untuk Bantul. Sebelumnya, sejumlah rekor Muri sudah tercatat di buku Muri. Di antaranya nasi tumpeng terbanyak, memasak ikan gurami terbanyak, penampilan macapat terlama, dan pembuatan caping terbesar.


Lalu memecahkan rekor replika gong terbesar di dunia, padasan terbesar, topeng kayu terbesar, dan meletakkan telur ayam terbanyak dalam posisi berdiri di atas hamparan pasir pantai saat perayaan Peh Cun.


Sertifikat Muri tersebut diserahkan Sri kepada Bupati Bantul Sri Suryawidati, kemudian wakil bupati Bantul, Sumarno. (hed)





Translate Using Google Translate May Need Grammar Correction


Anniversary 180 Bantul: Studded Achievement, but Diverse Problems


BANTUL - fanfare anniversary-180 Bantul district reached its peak, yesterday morning (20 / 7). On the field Trirenggo which is right in front of the official residence of the Regent of Bantul, a memorial service was held. The ceremony which was attended by the Java language using DIJ Governor Hamengkubuwono X, Bantul Regent Sri Suryawidati its ranks of top officials as well as thousands of people Batoul. The ceremony laden with a thick Javanese culture. The men use surjan, blangkon, and dagger tucked in the back. While female participants berkebaya.


In the middle of the field, gathered dozens SKPD and subdistrict with surjan and white kebaya. Regent Sri Suryawidiati took a position as master of ceremonies, while Hamengkubuwono X be a builder ceremony.
On the sidelines, met representatives of 17 district residents dam thousands of members of the scout. Do not miss also the surrounding community who want to know their county warning. Seen a lot jodang or crops on the sidelines.


Sri Suryawidati in his speech describing the current state to the Governor of Bantul DIJ and all elements of society are present. According to him, Bantul achieved many accomplishments both at the provincial, national, or international.


Some achievements include a variety of fields. As in education, the daughter of Bantul Atik Fajariyani managed to become the highest-winning NEM SMK se-Indonesia. While on the farm, took first place national level Implementation of Quality Agricultural Products. Bantul''also won an extension of farmer managed to areas of food security,''he said.


He added that the achievements in health Bantul as ranked fifth nationally in health human development index. Cooperative field is also not spared. Bantul district was named the''driving force cooperatives and cooperative service,''said the regent who was familiarly called Ida. Other achievements in fields such as environment and so continue in a speech presented Ida.


In this ceremony also handed over 23 trophies for Bantul children who excel in various fields. Such as education and most sports.


But Ida did not deny there are still many problems facing Bantul. He admits, social problems continue to emerge. Most of the classical problems can be solved knows how long, are like poverty and unemployment tandemnya. Unemployment and poverty''is still a major problem,''he said.


However, there are also problems arising from the swift currents of development in Bantul. Such as the continued shrinking of agricultural land. Though agriculture is one of economic foothold in the earth Projotamansari. ''Diminishing agricultural land,''he said.


District government, said the regent, not remain silent on the issue. For depreciation of land, the district government pilot program to encourage the establishment of sustainable agriculture and pro-people programs of empowerment. The problem becomes a whip''that we continue to seek innovation as a settlement,''he said.


DIJ Governor Hamengkubuwono X in a short speech remembering the role as an area of ​​Bantul, which contributed to the independence of Indonesia. Bantul is the headquarters of the heroes of Indonesia. Such as Prince Diponegoro, based in Cave Selarong. Bantul''Hopefully will be better and advanced,''he said.


After HB X gives a speech, Agyomurni, spear of the Sultan to Bantul paraded around the field. The smell of jasmine burst of the spear as the symbol of clean government. Hope that hung like a sultan on the government of Bantul.
As a district with a strong inherent cultural activities, cultural action was unforgettable. Beginning with the advent of 27 women berselendang red, green, and blue in the middle of the field and with the grace of dance dance Gambyong.


Not to forget, each district and SKPD make their own parade. There are about 24 jodang or crops paraded yesterday. A total of 17 are from districts, while the rest of SKPD.
Parade considerable interest is the sub-Sanden. As coastal communities they bring up the figure of Nyi Roro Kidul, starring long-haired young woman, dressed in green and crowned with the stretcher raised by some residents.


But that's not a myth they have present, the community tried Sanden critical in their parade to come up with a cow, played by two men, who disarmed the man. From his explanation is known, it is the action of their rejection of imported Australian beef cows that make the price drop. ''We reject the imported cattle,''shouted the members of the parade.


At the end of the show, all the parade along with 24 jodang in procession to the Square in front of the office of regent Paseban for grabs citizens. From the observation Radar Jogja, the action was time to make jam the streets of Bantul, because people who watch along the road. So enthusiastic citizens celebrated their districts. (HED)


8600 People Break Record Muri
A total of 8600 residents of Bantul record the Indonesian Record Museum (MURI) for most categories panemobromo. Not only in Indonesia, is also the first record in the world.


Most are sung panembromo record 8600 people from the village elements, sub-unit area device kearja (SKPD), enterprises, and some elements of the community of Bantul. They sang the song titled''Kinanthi''for about 15 minutes at the memorial anniversary-180 on the Ground Trirenggo Bantul Bantul, yesterday (20 / 7).


According Daliyanto, secretary of the anniversary committee Bantul, there are preliminary plans that will bring 6,000 people panembrono. ''More or less we are targeting 6,000 people who would sing,''he explained before the event. But, on the day there are more than 6,000 who are willing to bring panembromo.


Sriwidayati, representatives from Muri added, upon delivery of any certificate Muri 8600 people singing. Panembromo''which involves as many as 8600 people this is the first time in Indonesia, and only in Bantul,''he said.


She said this is the most panembromo record to many times for Bantul. Previously, a number of record was recorded in the books Muri Muri. Among the largest rice cone, cooking carp ever, the appearance macapat oldest and largest hat manufacturing.


Then record the world's largest replica of the gong, the largest padasan, the largest wooden masks, and chicken egg ever laid in a standing position on a sandy beach at Peh Cun festival.


Muri certificate was submitted to the Regent of Bantul Sri Sri Suryawidati, then vice-regent of Bantul, Sumarno.

Posted by Wawan Kurniawan on 18.47. Filed under , , , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response

Blog Archive

Labels

Recently Added

Recently Commented