|

Pemkot Gelar Sayembara Pakaian Wisata

YOGYAKARTA – Sebagai destinasi wisata, hingga saat ini Yogyakarta belum memiliki pakaian pelaku wisata yang khas.Padahal, busana ini bisa memperkuat citra kota pariwisata ini di mata dunia.

Atas dasar itu,Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kota Yogyakarta menggelar lomba desain pakaian bagi pelaku wisata. Pakaian itu diharapkan merupakan busana yang simpel dan dapat digunakan dalam aktivitas kerja sehari- hari. ”Lomba desain ini berawal dari keinginan untuk membangun atmosfer Yogyakarta dan masukan beberapa wisatawan yang datang,”ujar Kepala Bidang Promosi dan Kerja Sama Disparbud Kota YogyakartaYeti Martati kemarin.

Fokus utama dari lomba desain tersebut adalah pakaian yang memenuhi unsur sederhana dan terjangkau, tapi tetap menunjukkan karakter khasYogyakarta.Beberapa ciri khas yang diharapkan dapat ditampilkan adalah pemanfaatan kain batik sogan ataupun lurik.Desain pakaian yang dilombakan lengkap untuk kebutuhan pakaian pria dan wanita. Bagi yang ingin terlibat dalam perlombaan tersebut dapat menyerahkan sketsa pakaian ke Disparbud Kota Yogyakarta pada 20 Februari.

”Setelah diperoleh seorang pemenang, maka desain pakaian tersebut akan diujicobakan untuk pelaku-pelaku pariwisata di kawasan strategis. Untuk kawasannya masih akan kami kaji,”tandasnya. Ketua Dewan Kebudayaan Kota Yogyakarta Charis Zubair menilai, ciri khas budaya yang menjadi kekuatan utama wisata di Yogyakarta masih belum terekspose secara kuat.

 Jika hal tersebut terpenuhi,dinilai akan mampu memperkuat kegiatan wisata seperti yang terjadi di Bali. ”Di Bali,orang begitu turun dari pesawat langsung sadar sudah ada di Bali,seperti itulah yang dibutuhkan,”ucapnya. Keberadaan pakaian khas Yogyakarta seperti kebaya dan lurik dinilai bukan tidak dapat dijadikan sebagai pakaian khas untuk pelaku wisata tersebut.

Adanya aturan yang berlaku, seperti kelengkapan kebaya dengan kain batik berupa jarik ataupun pengenaan baju lurik dengan blangkon, dinilai menjadikan pakaian khas tersebut kurang simpel jika dimanfaatkan oleh pelaku wisata. ”Pariwisata di Yogyakarta adalah pariwisata berbasis budaya. Namun, dari sisi penampilan atau suasana khas Yogyakarta itu belum bisa ditampilkan dengan baik,” kata Ketua Asosiasi Pariwisata Kota Yogyakarta Edwin Ismadi.

Salah satu desainer Kota Yogyakarta Ninik Darmawan menilai upaya memasukan ciri khas Yogyakarta dalam sebuah desain pakaian bukan perkara mudah. Hal tersebut dinilai hanya mampu dilakukan oleh orang yang mengenal betul Yogyakarta.

Sebuah desain yang menang pun masih harus mendapatkan pengujian. ”Setelah jadi akan lebih bagus ketika seluruh lapisan masyarakat dapat menerimanya,” ucapnya. maha deva

Sumber : Seputar Indonesia


Posted by Wawan Kurniawan on 08.52. Filed under , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response

Blog Archive

Labels